Mafia Girls Vs Ustadz Tampan

Mafia Girls Vs Ustadz Tampan
Menjalankan Rencana


__ADS_3

Ghazali kembali ke aula setelah mengurus beberapa santri yang sempet bertengkar tadi, entah apa yang mereka tentukan sehingga bertengkar di harlah pesantren. Ghazali mencari istrinya tapi netra tidak melihat keberadaan istrinya. Ghazali bertanya pada beberapa santri.


"bukannya tadi Shazia menemui ustadz di ruang penyimpanan minuman". jawab santri yang sempat menyampaikan pesan pada Shazia tadi


"ruang penyimpanan minuman". ucap ustadz Ghazali


"iya tadi ada santri yang minta saya untuk menyampaikan pada Shazia dan Shazia langsung ke sana". ucap santri tersebut


Ghazali langsung keluar dari Aula dan menuju ruang penyimpanan minuman. saat sampai di sana Ghazali tidak menemukan keberadaan istrinya


"sayang". panggil Ghazali tapi tidak ada yang menjawab


Ghazali berjalan di ruangan itu berharap istrinya ada di sana.


"mungkin sudah keluar". ucap Ghazali dan melangkahkan kakinya menuju pintu


Ghazali menghentikan langkahnya dan mengahampiri salah satu meja yang ada disana, tangan terulur untuk menyentuh ujung meja tersebut


"darah". ucap Ghazali dan jantung langsung berdetak dua kali lipat


Ghazali langsung keluar dari ruangan itu dan menghentikan langkahnya


"Marvin masih ada di sini , berarti kakaknya yang merencanakan ini semua". ucap Ghazali


Ghazali berjalan menuju Aula ketika pertunjukan silat akan di mulai, Ghazali akan memastikan bahwa benar apa tidak dugaannya tapi sesampainya di Aula Ghazali melihat Derrel yang sedang tampil.


"Marvin dan Derrel ada disini lalu siapa, pasti terjadi sesuatu di ruangan itu ". ucap Ghazali


Ghazali langsung keluar Aula dan tidak memperdulikan Harlah Pesantren dan yang sekarang dia harus mencari keberadaan istrinya. Ghazali menelusuri pesantren itu.


Ghazali menghentikan langkahnya saat ada seseorang yang memeluknya dari belakang, Ghazali langsung menghempaskan tangan orang itu karena itu bukan tangan istrinya


"apa yang ustadzah lakukan". bentak Ghazali

__ADS_1


"aku ingin ustadz, aku mencintai ustadz tapi kenapa menikahi gadis yang asal usulnya tidak jelas". ucap ustadzah Dila


"Sadar ustadzah, tidak sepantasnya ustadzah melakukan hal tadi apalagi sampai mencintai orang yang bukan siapa siapa bagimu". ucap ustadz Ghazali


ustadzah Dila melangsungkan kakinya menuju ustadz Ghazali dan ustadz Ghazali mengundurkan langkahnya


"aku hanya ingin ustadz menjadi milikku, ayolah ustadz aku jauh lebih baik dari istrimu itu". ucap ustadzah Dila


"ustadzah sadar apa yang ustadzah lakukan itu salah ". ucap ustadz Ghazali


bruk


Ghazali benar benar mendorong ustadzah Dila yang ingin memeluknya


"jaga batasan mu ustadzah jangan sampai kamu menyesal ". ucap Ghazali dan melangkahkan kakinya meninggalkan ustadzah Dila


Ghazali menghentikan langkahnya saat sesuatu menusuk lehernya dan matanya mulai berkunang-kunang


bruk


"kamu yakin dengan cara ini aku bakal memilikinya untuk selamanya ". tanya ustadzah Dila yang masih ada keraguan


"kamu ragu untuk melakukan ini, jika ragu tidak usah di lakukan dan jangan harap bisa memilikinya ". ucap Derrel


ustadzah Dila masih diam karena ada keraguan dalam hatinya karena cara ini salah dan akan menimbulkan dosa


"tapi bisakah hanya pura pura saja tanpa melakukan beneran ". tanya ustadzah Dila


"kalau hanya pura pura dan tidur di sampingnya itu tidak akan menjamin dia menikahi mu, jadi lakukan seperti rencana awal ". ucap Derrel yang mulai kesal


"tapi dia pingsan bagaimana caranya ". tanyanya


"melakukannya dengan ku". ucap Derrel

__ADS_1


"apa". teriak Dila


"yang terserah mau apa tidak, karena aku yakin dia tidak akan percaya jika kalian berdua telah tidur bersama jika tidak ada bekas dalam dirimu ". ucap Derrel


Derrel yang memang suka melakukan itu terus mencoba merayu perempuan yang ada di hadapannya ini untuk memenuhi fantasinya karena sejak awal masuk Derrel sudah berfantasi bagaimana rasanya bercinta dengan perempuan berpakaian tertutup seperti itu.


"ya kalau kamu mau tidak mau ya sudah aku akan keluar dari sini". Ucap Derrel dan membalikkan badannya


"tunggu". ucap Dila


Dila menatap ustadz Ghazali yang masih pingsan dan meremas tangannya


"baiklah aku setuju". ucap Dila dan Derrel yang mendengar itu tersenyum


Derrel menghampiri Dila dan merbahkan di samping ustadz Ghazali. Dila meneteskan air matanya karena apa yang dia jaga selama ini telah hilang untuk bisa bersama orang yang dia cintai. cinta sudah membutakan dirinya dan tidak bisa membedakan mana yang benar mana yang salah.


"cepat buka pakaiannya dan setelah itu aku akan memanggil salah satu santri". ucap Derrel dan memakai pakaiannya


Dila membuka satu persatu kancing bajunya hingga kancing baju yang terakhir. Dila menarik nafasnya ketika akan membuka bagian bawah


"buruan". ucap Derrel yang sudah berpakaian rapih


"kenapa listriknya padam". ucap Dila


mereka berdua terkejut tiba tiba lampunya padam, Derrel berusaha mencari tombol lampunya


sedangkan di tempat lain Shazia masih terbaring di ranjang dengan lelapnya karena memang obat biusnya terlalu tinggi. Shazia membuka matanya secara perlahan lalu memegang kepala yang berdenyut. Shazia bersandar di kepala ranjang dan menatap ke sekeliling


"dimana ini". ucap Shazia


πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™


silahkan keluarkan kekesalan kalian di part ini😊

__ADS_1


hmmm kira kira berhasil tidak ya rencananya?


__ADS_2