
setelah selesai makan mereka berdua bersandar di bawah pohon sambil menatap langit yang berwarna biru
"Shazia kamu tau, saat kamu masuk disini aku sangat senang". ucap Dea
"senang kenapa". tanya Shazia
"selama aku masuk pesantren ini aku sama sekali tidak memiliki teman, jadi saat kamu masuk dan mau berteman dengan ku itu membuat ku senang". jawab Shazia
"kamu baik dan kelihatan ceria selama ini kenapa tidak ada yang mau berteman dengan mu". tanya Shazia
"karena mereka tidak mau berteman dengan orang yang tidak mampu seperti ku dan anak yatim piatu, bahkan aku kuliah saja mengunakan beasiswa dan untuk pesantren ini gratis tapi setelah selesai aku harus mengabdi disini". jawab Dea
"bagaimana kuliah mu , lancar". ucap Shazia dan mengalihkan pembicaraan saat melihat Dea yang sedih
"Alhamdulillah lancar dan Minggu depan aku akan sidang ". jawab Dea
"sidang, benarkah aku ucapkan Selamat ". ucap Shazia
"Minggu depan temani aku ya". ucap Dea
"tentu, kamu kuliah dimana". tanya Shazia
"universitas Islam Negeri B". jawab Dea
"tenang aku akan menemanimu dan memberikan mu semangat ". ucap Shazia
Dea langsung memeluk Shazia dan Shazia membalas pelukannya
"terima kasih sudah mau menjadi teman ku, aku harap pertemanan kita bertahan selamanya ". ucap Dea dan melepaskan pelukannya sedangkan Shazia hanya membalas dengan senyuman
setelah puas berlama lama disana Shazia dan Dea berjalan menuju ruang pengurus santriwati
"assalamualaikum". ucap Dea
"waalaikumussalam". jawab mba Ida
"mba saya dan Shazia ingin izin keluar". ucap Dea
"untuk apa". tanya mba Ida
"kami berdua ingin ke warung untuk membeli beberapa perlengkapan kami yang sudah habis". jawab Dea
"baiklah". jawab mba Ida dan membuat surat izin untuk keluar dan surat itu digunakan untuk di berikan kepada satpam
"kalian harus kembali sebelum jam tiga sore". ucap mba Ida
"tiga puluh mana cukup". ucap Shazia
Dea mencubit lengan Shazia yang berucap seperti itu karena itu akan membuat mereka tidak bisa keluar nantinya
"iya mba, maafkan ucapan Shazia ya mba". ucap Dea
"assalamualaikum". sambung Shazia
__ADS_1
"waalaikumussalam". jawab mba Ida
Dea menarik tangan Shazia untuk segera keluar karena waktu mereka tidak banyak. sesampainya di gerbang Dea menunjukkan surat terbuka sehingga satpam mengizinkan mereka keluar.
"assalamualaikum Bu". ucap Dea
"waalaikumussalam neng Dea dan.." jawab ibu tersebut dan menghentikan ucapannya saat tidak mengenal Shazia
"ini Shazia Bu". ucap Dea
"mau beli apa". tanya ibu tersebut
"saya mau cari sabun mandi, sabun cuci baju, pasti gigi dan sampo, satu lagi sama pembalut Bu". ucap Dea dan ibu itu mengambil barang barang yang di minta Dea
"ini neng Dea, neng satunya mau cari apa". tanya ibu Wiwi dan menyerahkan belanjaan dea
"saya minta buah apel dan anggur, susu, roti tawar dan selesai strawberry". ucap Shazia, karena saat sarapan dia terbiasa memakan itu daripada nasi
"Shazia kamu punya uang untuk membeli makanan itu, itukan mahal". bisik Dea
"tenang saja aku punya". jawab Shazia
"ini neng". ucap Bu wiwi dan menyerahkan kantong plastik
"berapa Bu sama punya Dea sekalian". ucap Shazia
"dua ratus ribu neng". jawab Bu wiwi
"Shazia kamu punya uang sebanyak itu darimana". tanya Dea karena yang Dea tau Shazia itu sedang amnesia dan tidak mungkin uang itu dari keluarga Shazia
"owh itu uangku yang ada di dompet". jawab Shazia dan Dea menanggukan kepalanya pertanda percaya karena sejak Shazia masuk dia belum pernah membeli sesuatu
jam tiga pas mereka sudah sampai di pesantren.
"terima kasih pak". ucap Dea saat satpam membukakan gerbang
"pak ini ada buah untuk bapak". ucap Shazia dan menyerahkan buah apel
"terima kasih neng". jawab pak satpam
mereka berdua bercanda dan berjalan menuju asrama
"dapat uang darimana bisa beli makanan mahal itu". tanya kemala sambil menatap Shazia dengan sinis saat melihat Shazia membeli, susu,roti, selesai dan buah yaitu makanan yang dia anggap mahal
"kamu mencuri ya". tuduh Kemala yang iri dengan apa yang Shazia beli
"jangan menuduh sembarangan Kemala". ucap Dea
"aku bukan nuduh, banyangkan saja dia masuk sini dalam keadaan amnesia lalu siapa yang memberinya uang, keluarganya itu tidak mungkin dia saja tidak tau siapa dia mana mungkin keluarganya tau jika dia di sini, pasti dia mencuri". ucap Kemala dengan sarkas
"Kemala mungkin saja itu uang dia yang dia bawa sebelum kecelakaan dan amensia lagian dia belum pernah membeli sesuatukan sejak masuk kemari". Ucap Dea
sedangkan Shazia dengan santainya memakan buah di hadapan Kemala dan itu membuat Kemala meradang lalu keluar asrama dengan menutup pintu secara kasar sehingga membuat Dea terkejut. Shazia terkekeh saat melihat wajah kemala dan terlihat sangat jelas keirian
__ADS_1
"Dea ini ambilah jika mau , Jangan malu malu". ucap Shazia
"iya" jawab Dea dan menyiapkan mukenanya untuk melakukan sholat ashar
"kamu sholat, bukannya sedang haid ya, dan jika sedang haid tidak boleh sholat kan". ucap Shazia
"iya benar jika sedang haid tidak boleh sholat, tapi aku tidak haid". jawab Dea
"tapi tadi kamu membeli pembalut". tanya Shazia
"buat stok karena jarang bisa keluar jika tidak ada keperluan yang mendesak apalagi jatah keluar hanya tiga kali dalam sebulan dan aku sudah menggunakannya". jawab Dea dan duduk di samping Shazia
mereka saling diam sambil menunggu adzan ashar. Kemala melangkah kakinya dengan cemburut
"assalamualaikum Umi". ucap Kemala saat melihat umi di depannya
"waalaikumussalam". jawab Umi dan menerima uluran tangan Kemala
"umi sini Kemala bantu". ucap Kemala saat melihat umi membawa belanjaan
"tidak perlu Kemala, umi bisa sendiri". jawab umi
"assalamualaikum". sambung Umi
"waalaikumussalam". jawab Kemala
"gagal deh cari perhatian untuk mengambil hati calon mertua". ucap Kemala dan mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sampingnya
"sebenarnya siapa Shazia , kenapa dia bisa membeli makanan itu, dan kenapa tidak ada keluarga yang mencarinya seharusnya ada berita orang hilang". ucap kemala
"mana dia beli tidak bagi bagi lah dan yang dia beli tadi adalah yang selama ini aku inginkan, aku harus telepon mama untuk mengirimkan aku uang yang lebih banyak, gengsi dong jika aku tidak bisa membelinya sendangkan dia yang asal usul belum jelas bisa membeli makanan mahal seperti itu". umpat Kemala
bugh
kemala melebarkan matanya saat botol yang dia tendang mengenai ustadzah Dila, Kemala segera bersembunyi di Bali bunga
"mati aku jangan sampai Ustadzah Dila melihat ku, bisa bisa aku di hukum". ucap Kemala
sedangkan Ustadzah Dila menatap sekitar tetapi tidak menemukan siapapun, Kemala menarik nafasnya dalam saat ustadzah Dila berjalan menuju ke tempat dia bersembunyi
"assalamualaikum Ustadzah Dila". ucap salah satu santri
"waalaikumussalam ". jawab ustadz Dila
"maaf ustadzah saya mau setoran hafalan". ucap Santri
"ayo ikut saya ke ruang guru ". ucap Ustadzah Dila
Kemala bernafas lega saat melihat ustadz Dila sudah berjalan menjauh darinya. Kemala keluar dari tempat bersembunyinya
"aman". ucap Kemala sambil mengusap dadanya yang masih berdetak sangat kencang
Kemala mengusap keringat yang ada di wajahnya dengan hijab yang dia pakai
__ADS_1