
satu minggu kemudian
Ghazali yang sudah selesai mengajar di pesantren segera pulang karena sudah tidak sabar untuk menemui istri dan anaknya. dengan senyum mengembang Ghazali berjalan kaki menuju rumahnya.
"assalamualaikum". ucap Ghazali
"waalaikumussalam". jawab Khadijah
Ghazali mencium punggung tangan mamanya.
"ma Zia dan anak anak di mana". tanya Ghazali
"ada di halaman belakang" jawab Khadijah
setelah mendapatkan jawaban dari mamanya Ghazali masuk ke dalam kamar dan meletakan tasnya lalu menghampiri istrinya yang berada di halaman belakang.
"ishhh Kenapa kalian semakin mirip dengan Abi Kalian padahal umi yang mengandung kalian". ucap Shazia yang memperhatikan kedua wajah putranya yang semakin mirip dengan suaminya
Ghazali yang mendengar itu yang tersenyum dan mengelengkan kepalanya karena setiap akan tidur Shazia pasti membahas wajah kedua anaknya.
"apalagi setiap pagi selalu menangis ketika akan di tinggal berangkat kerja". sambung Shazia
"jangan bilang nanti kata pertama yang keluar adalah Abi".
"ingat pokoknya nanti waktu kalian bisa bicara kata pertama yang keluar hari U M I umi Zia". ucap Ghazali
"ingat Umi bukan Abi". ucap Shazia sekali lagi
Ghazali yang berada di belakang Shazia yang mengelengkan kepalanya.
cup
Shazia yang terkejut karena tiba tiba di ciuman langsung menolehkan kepalanya dan melihat suaminya dengan senyum mengembang.
"Masih tidak terima karena anak anak mirip dengan mas hmmm". ucap Ghazali dan mencubit pipi istrinya yang chubby lalu duduk di samping istrinya
"iyalah, aku yang mengandung tapi mereka mirip dengan mu". jawab Shazia dengan sewot
"mas kan Abinya jadi wajar mirip dengan mas, jika tidak mas mereka juga tidak akan ada". jawab Ghazali
"bisa saja kata siapa tidak bisa, kan bisa sama orang lain". jawab Shazia
pletak
__ADS_1
"auwhh". ringis Shazia saat dahinya di setil oleh suaminya
"jangan sembarang kalau bicara". tegur Ghazali
"maaf". jawab Shazia dengan cemburut
"bagaimana kalau kita buat adik untuk mereka dan mirip dengan mu". goda Ghazali dan menaik turunkan aslinya
"tidak mau nanti mirip mas lagi". tolak Shazia
Shazia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya dan tangan mengusap pipi Reyhan. kedua bayi itu sedang terlelap dengan tenang.
"mas". ucap Shazia
"hmmm".
"mas bagaimana nanti jika mereka sudah dewasa dan tau jika aku dulunya bukanlah orang baik dan bagaimana jika mereka tau kakeknya adalah seorang mafia dan tidak segan segan membunuh orang, apa mereka akan membenciku". ucap Shazia karena dia benar benar takut jika kedua putranya akan membencinya
"jangan takut dengan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi sayang, kita pasti bisa mendidiknya menjadi anak anak yang baik". jawab Ghazali
"mereka pasti bangga punya umi seperti mu sayang". ucap Ghazali
"apa yang mereka banggakan dari ku". ucap Shazia
"banyak karena madrasah pertama mereka adalah kamu, kamu akan mengajarkan banyak hal ,untuk mengngaji sekarang kamu sudah bisa dan sudah paham tentang agama ,jadi kamu bisa mendidiknya dengan baik dan mas juga akan membantu itu ". ucap Ghazali dan mengelus pipi istrinya
cup
"semakin cinta dengan suamiku ustadz tampan ". ucap Shazia dan menggoyangkan dagu Ghazali
"bukannya ustadz kuno ya". ucap Ghazali
"itukan dulu, sekarang ustadz tampan ". ucap Shazia
"dan ustadz tampan ini adalah Suamiku dan hanya milikku ". sambung Shazia dan memeluk suaminya dengan erat
"mafia girls ku ini adalah istriku, istri tercinta, bidadari ku dan hanya milikku tidak ada yang bisa memilikinya selain mas". ucap Ghazali
Shazia benar benar merasa bahagia dan tidak merasakan sebuah tekanan. Shazia bisa menghirup udara segar dengan bebas tanpa memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan sebuah misi yang bisa mempertahankan nyawanya.
"sayang nanti sore kita menjenguk mama Lora ". ucap Ghazali
"iya mas, aku juga merindukan mama dan mama pasti ingin melihat cucunya ”. jawab Shazia
__ADS_1
Ghazali mengajak istrinya masuk ke dalam rumah karena cuaca semakin panas. satu tangannya merangkul pinggang istrinya dan satu tangannya mendorong stroller bayi.
sedangkan di dalam penjara Dila memegangi perutnya yang terasa kram bahkan air matanya sudah menetas
"ya Allah kenapa sakit sekali hikss". ucap Dila
"penjaga ". teriak teman yang satu sel dengan Dila
"ada apa ”. jawab ketus penjaga tersebut
"dia kesakitan".
"menyusahkan sekali". ucap penjaga itu
penjaga tersebut segera membuka sel dan membawa Dila ke rumah sakit dekat dengan penjara.
"sakit dok". ringis Dila saat sudah berada di ruang bersalin sedangkan beberapa polisi menjaga di depan
"Bu , ibu harus operasi, Karena di sini tidak ada siapapun jadi ibu tanda tangan ini dulu". ucap perawat dan Dila langsung menandatangani surat tersebut
dokter langsung melakukan tindakan operasi karena kandungan masih berumur tujuh bulan dan terdapat masalah dalam kandungannya.
oek
oek
oek
tangis bayi perempuan menggema di ruangan tersebut. Dila yang mendengar suara bayi langsung menetes air matanya. perawat membersihkan bayi itu dan meletakan ke dalam box. orang tua Dila langsung menuju rumah sakit setelah polisi memberitahu keadaan Dila.
"dok dimana anak saya". tanya ibu Dila
"sudah di pindahkan di ruang rawat". jawab dokter
"cucu saya".
"mari ikut saya Bu". ajak dokter
sesampainya di ruangan yang di tunjukkan oleh dokter ibu dan ayah di masuk ke dalam ruangan tersebut dan senyum mengembang dari sudut bibir mereka ketika melihat bayi perempuan yang mirip dengan Dila di dalam sebuah box.
"dia anak yang istimewa ". Ucap dokter
"maksud dokter ". tanya ayah Dila
__ADS_1
"sebelumnya saya minta maaf, keadaan cucunya kalian terlahir dengan keadaan kaki yang pendek sebelah". ucap dokter
orang tua Dila terkejut dengan apa yang di sampaikan oleh dokter tersebut