
Shazia yang melihat Kemala berjalan menuju masjid lebih memilih kembali ke asrama
"aaa". teriak Shazia dengan terkejut saat ustadz Ghazali sudah ada di belakangnya
"ikut". perintah Ustadz Ghazali dengan dingin
"buruan". ucap ustadz Ghazali
Shazia mengikuti langkah ustadz Ghazali yang menuju masjid. di belakang ustadz Ghazali, Shazia mengeluarkan sumpah serapahnya Katena sudah sebaik mungkin untuk menghindari ustadz Ghazali tapi tetap saja bertemu dengannya
"menyebalkan kenapa harus bertemu dengannya sih, apa kerjaan ustadz satu ini itu berkeliling pesantren ini". ucap Shazia dengan tangan yang terlipat di dadanya dan menatap sinis punggung Shazia
"duduk" ucap ustadz Ghazali saat mereka sudah sampai di masjid
ustadz Ghazali dan Shazia duduk di teras masjid karena di dalam sedang ada Gus Amer dan Gus Faisal.
"mana catatan kamu ". tanya ustadz Ghazali
"ada di asrama". jawab Shazia dan tiba tiba Shazia mempunyai ide
"saya ambil dulu ustadz ". ucap Shazia
"tidak perlu " ucap ustadz Ghazali dan Shazia mendudukkan kembali pantatnya yang sempat berdiri
ustadz Ghazali mengeluarkan buku yang bertuliskan huruf Hijaiyah lalu membukanya.
"baca". perintah Ustadz Ghazali
"saya tidak bisa ustadz". ucap Shazia yang mood berubah jelek saat melihat huruf huruf yang asing baginya
"ikuti saya". ucap ustadz Ghazali
"Alif". ucap ustadz Ghazali sambil menunjuk huruf Alif
"Alif". ucap Shazia
"ba'"
"ba'"
"ta'"
"ta'"
"tas"
"sa"
"bukan sa tapi tsa". ucap ustadz Ghazali membenarkan bacaan Shazia yang salah
"s sa". ucap Shazia
"bukan ssa tapi tsa Shazia ". ucap Ghazali
"saa". ucap Shazia yang sedikit kesusahan
__ADS_1
"bukan saa tapi tsa". ucap ustadz Ghazali
Shazia melihat ke bibir ustadz Ghazali yang sedang memperhatikan bacaan tsa dan cukup kesulitan bagi Shazia untuk mengikuti ucapan ustadz Ghazali.
"susah ustadz sa salah ssa salah saaa salah, kenapa salah semua". ucap Shazia yang sejak tadi menahan emosinya
"ya memang salah yang kamu baca karena yang benar tsa, coba ulang lagi ". ucap ustadz Ghazali
"* * * ah susah ". ucap Shazia dengan cemburut
Shazia menarik nafasnya dan mencoba untuk mengucapkannya lagi
"tsa". ucap Shazia
"nah ini baru benar, coba di ulang lagi". ucap ustadz Ghazali
"tsa" ucap Shazia sambil tersenyum saat mulutnya dengan mudah mengucapkan huruf tsa
"ini sudah malam cukup sampai disini belajar dan di lanjutkan besok lagi". ucap ustadz Ghazali
"iya ustadz"? jawab Shazia dan langsung berdiri
"alangkah baiknya besok jika mengunakan hijab gunakan hijab yang sampai menutup dada". ucap ustadz Ghazali
"iya ustadz". ucap Shazia
"assalamualaikum". sambung Shazia dan meninggalkan ustadz Ghazali yang masih duduk di teras masjid
"assalamualaikum ustadz". ucap Gus Amer lalu ikut duduk bersama ustadz Ghazali
"tadi saya dengar gadis itu masih belajar huruf Hijaiyah" tanya Gus Amer
"iya Gus, gadis itu masih awam dengan agama seperti tidak pernah diajarkan agama". jawab ustadz Ghazali
"ya tidak apa apa yang penting dia mau belajar walaupun agak kesulitan ". ucap Gus Amer
"iya Gus". jawab ustadz Ghazali
"ya sudah saya kembali dulu ke Ndalem, assalamualaikum ustadz ". ucap Gus Amer
"waalaikumussalam Gus". jawab ustadz Ghazali
setelah kepergian Gus Amer, ustadz Ghazali juga berjalan meninggalkan masjid untuk kembali ke dalam kamarnya. sesampainya di dalam kamar ustadz Ghazali mengamati kamarnya karena siapa tau orang yang mengerjai dirinya kembali membuat ulah. memastikan tidak ada apapun ustadz Ghazali menutup pintunya dan melepaskan peci , baju Koko dan sarungnya. lalu mengambil kaos, sebelum memakainya ustadz Ghazali membolak-balikan kaos itu memastikan tidak apapun.
sedangkan di sebuah club
"tuan ku mohon lepaskan saya". ucap seorang gadis bersimpuh di bawa kaki Derrel
"semalam tuan sudah mengambil kehormatan saya,jadi saya mohon lepaskan saya dan biarkan saya keluar dari sini, saya janji saya akan tutup mulut dan tidak akan menceritakan apapun yang ada di sini". ucap perempuan itu yang sudah berlinang air mata tetapi itu tidak membuat Derrel merasa kasian tapi malah senang saat melihat seorang perempuan yang begitu lemah
"dengar". ucap derrel dan mencengkram rahang gadis itu
"orang tua mu sudah menjual mu kemari jadi hidup akan ada di sini untuk selamanya, dan enak saja kamu mau pergi dari sini bahkan kamu belum memberikan keuntungan bagi saya". ucap Derrel dan menghempaskan wajah perempuan itu
"keuntungan, hey tuan ada sudah mendapatkan keuntungan dengan merenggut kesucian saya bahkan orang yang anda keluarkan tidak bisa membayar kesucian saya". teriak perempuan itu
__ADS_1
plak
Derrel menampar perempuan itu lalu mencengkram rahang perempuan itu hingga perempuan tersebut merasa kesakitan
"jangan pernah meninggikan suara mu atau kamu akan menyesal ". ucap Derrel
"aku tidak takut dengan orang orang seperti mu". jawab gadis itu
Derrel yang sudah emosi langsung menekan bahu gadis itu sehingga bersimpuh di bawahnya. Derrel langsung melepaskan gespernya. perempuan itu menutup rapat rapat mulutnya saat Derrel memaksa perempuan itu. Derrel mencengkram rahang gadis itu hingga terbuka lalu memasukkannya sehingga membuat perempuan itu tersedak dan menangis
uhuk
uhuk
uhuk
gadis itu terbatuk batuk dan Derrel langsung menutup mulutnya sehingga membuat perempuan itu mau tidak mau menelannya.
"aku pastikan hidup orang orang seperti mu tidak akan pernah tenang dan suatu hari nanti aku akan membalas apa yang telah kamu lakukan". ucap perempuan itu sambil menatap tajam ke arah Derrel
Derrel menarik rambut perempuan itu dan tertawa sinis saat mendengar perkataan gadis itu
"perempuan rendah seperti mu ingin melakukan apa padaku bahkan hidup dan matimu ada di tangan mu". ucap Derrel
"Pablo". teriak Derrel
"iya tuan". jawab Pablo
"bawa gadis ini ke kamar nomor tujuh, ada klien yang menginginkannya dan buat di tau bahwa tubuhnya hanya pantas untuk di jamah banyak pria dan takdir berada di bawah kungkungnya pria". ucap Derrel dan pergi setelah mengatakan itu
perempuan itu mengepalkan tangannya saat mendengar perkataan Derrel.
"lepas jangan menyentuh ku". ucap perempuan itu menatap tajam ke arah pria yang ada di sana
"seret dan jangan dengarkan dia". ucap Pablo
beberapa pria menyeret perempuan itu dan membawanya ke kamar nomor tujuh
"maaf tuan sedikit terlambat, ini perempuan yang akan melayani anda malam ini". ucap Pablo
"tidak masalah, silahkan kalian pergi". ucap pria itu
"jangan berani mendekat ". ucap perempuan itu sambil menunjukan jarinya
"tenang sayang malam ini kita bersenang-senang ". ucap pria itu yang terus berjalan maju
"saya bilang jangan mendekat". ucap gadis itu lagi tapi pria itu tertawa
"hiks hiks". tangis perempuan itu sambil memegang erat selimut untuk menutupi tubuh polosnya dengan wajah yang penuh luka
pria itu tidak segan segan menghajarnya Karena penolaknya
"maaf sayang membuat wajah mu luka andai kamu tidak memberontak maka tidak akan seperti ini". ucap pria itu sambil membelai wajahnya tapi di tepis oleh perempuan
"hmm ternyata masih galak juga, tapi tidak apa apa pelayanan mu sungguh memuaskan lagi kali tidak bersenang senang lagi ". ucap pria itu dan memberikan uang di pangkuan perempuan tersebut lalu meninggalkannya setelah mendapatkan kepuasan
__ADS_1