
Shazia berjalan mendekati jendela ketika mendengar suara helikopter dan helikopter tersebut mendaftar dengan perlahan. Shazia dapat melihat ayahnya yang turun dari helikopter bersama beberapa anak buahnya.
Shazia menarik nafasnya dan bersiap untuk menerima hukuman karena Shazia yakin jika ayahnya pasti memberikan hukuman padanya.
Lucas turun berjalan memasuki rumah dengan tatapan dingin dan wajah datarnya. Lucas memerintah beberapa anak buahnya untuk menjaga sekeliling rumah itu.
ceklek
Shazia meremas tangannya ketika ayahnya masuk ke dalam kamar yang dia tempati
"kenapa tugas mu belum selesai". tanya Lucas dengan dingin
"tugas ini cukup sulit ayah karena tidak ada petunjuk lain selain alamat yang kosong itu". jawab Shazia
"lalu kenapa malah menikah bukankah ayah melarang mu untuk menikah karena itu akan menganggu mu". tanya Lucas
"waktu itu dia mengetahui Zia masuk ke dalam kamar Abah, niat Zia untuk memfitnah telah melecehkan Zia tapi dia malah menikahi Zia". jawab Shazia
"sekarang kamu nyaman dengannya dan sudah sejauh mana hubungan kalian ". tanya Lucas pada sang Putri tapi Shazia bingung untuk menjawabnya
Shazia terkejut saat ayahnya memeluknya dan menimbulkan kebingungan, kenapa ayahnya tidak marah, biasanya ayahnya akan memberikan hukuman ketika apa yang dia perintah tidak berjalan sesuai keinginannya
"tidak apa apa jika tidak bisa menyelesaikan, biar kakakmu yang menyelesaikan tugas mu". ucap Lucas dan itu semakin membuat Shazia terkejut
"jadi sekarang jangan pikirin tugas itu dan tinggalah di sini untuk sementara waktu ". sambung Lucas
"aneh , kenapa ayah tidak marah ". ucap Shazia dalam hati
"putri ayah pasti lapar, jadi sebaiknya sekarang kita makan". ucap Lucas
Lucas membawa putrinya keluar dari kamar itu dan Shazia masih menatap bingung ke arah ayah apalagi saat sampai di meja makan semua makanan yang ada di sana adalah makanan kesukaan
"Zia jangan diam saja, di makan ini makanan kesukaan mu semua ". ucap Lucas
Shazia menatap makanan di depannya seperti tidak berselera tapi Shazia tetap mengambilnya lalu memakannya. Lucas menatap ke anak buahnya dan anak buahnya menanggukan kepalanya. Shazia mencoba menelannya dengan susah payahnya karena perutnya terasa mual
huek
huek
__ADS_1
Shazia memuntahkan apa yang dia makan tadi
"sebenarnya aku ini kenapa". ucap Shazia dalam hati
huek
huek
Lucas menatap putrinya yang masih muntah, Setelah selesai Shazia kembali duduk
"ayah aku tidak ingin makan lagi". ucap Shazia
"tidak apa apa, minumlah mungkin bisa menghilangkan rasa mual mu, mungkin kamu sedang sakit, dan minumlah obat ini juga". ucap Lucas
"obat apa ini ayah". tanya Shazia
"itu untuk mengurangi rasa mual seperti kamu mag Zia". ucap Lucas sambil tersenyum pada putrinya
Shazia mengambil air minum tersebut dan obat itu lalu meminumnya.
huek
"maaf ayah". ucap Shazia sambil memijat dahinya
"tidak apa apa, ayah antar ke kamar sebaiknya istirahat saja". ucap Lucas
sesampainya di kamar Shazia langsung merebahkan dirinya di rahim sambil memejamkan matanya, Lucas menatap Shazia putrinya tanpa ekspresi lalu keluar dari kamar itu.
sedangkan di pesantren ustadz Ghazali masih betah berada di atas sajadah sambil mengangkat kedua tangannya
"ya Allah hamba berikan hamba petunjuk di mana keberadaan Shazia dan lindungilah dimanapun keberadaannya". do'a ustadz Ghazali
setelah selesai berdoa ustadz Ghazali mengambil tasbih dan jarinya dengan telaten memutar satu persatu butiran yang ada di tasbih itu dan bibir terus saja mengucapkan lafal dzikir ketika hatinya merasa benar benar tidak tenang
Lucas yang sudah sampai di dapur langsung menginjak obat yang di muntah oleh Shazia.
"jaga ketat tempat ini jangan sampai ada yang masuk ke pulau ini". ucap Lucas
"baik tuan".
__ADS_1
"tuan tadi Nyonya Lora bertanya keberadaan tuan"
"kamu tidak memberitahunya jika kita ada di pulau hitam". tanya Lucas
"tidak tuan".
Lucas berjalan ke ruang bawah tanah dan menemui orang yang telah dia sikap selama bertahun tahun lamanya.
"ada apa tuan Lucas yang terhormat menemui saya". ucap orang itu dengan tatapan sinis
"pasti belum menemukan orang itu dan juga benda yang anda cari ya". sambung dengan tertawa
"orang seperti mu tidak pantas untuk menjadi penguasa mafia".
plak
plak
Lucas menampar orang tersebut
"sebaiknya simpan saja tenaga mu, jangan kamu buang buang seperti itu, kamu mau menyiksa ku sampai kapanpun aku tidak akan memberitahu apapun pada mu, karena aku tidak akan membiarkan orang seperti mu memang dan bisa bahaya jika sampai mendapatkan benda tersebut". ucap orang tanpa takut
"berani kamu berbicara seperti itu pada kamu mau mati ha". teriak Lucas dan mencengkram rahang orang tersebut
cuh
orang itu meludahi Lucas sedang Lucas mengusap ludah orang tersebut dengan kasar
"mau membunuh ku silahkan, apa yang mau kamu gunakan untuk mengancam ku, tidak ada kan, kamu sudah membunuh Istriku dan juga anakku". ucap orang itu
Lucas mengarahkan pistol ke kepala orang tersebut
"tuan jangan, jika tuan membunuh kita tidak bisa mendapatkan apapun, karena sulit untuk menemukan informasi orang tersebut, tuan tau sendiri bukan nona Zia dan tuan muda Derrel sampai saat ini belum mendapatkan apapun". cegah anak buahnya
sedangkan orang yang di rantai itu hanya menyimak apa yang di katakan anak anak buahnya Lucas
dor
orang itu sedikit meringis saat tembak itu sedikit mengenai daun telinganya. Lucas meninggalkan tempat itu dengan amarah yang memuncak
__ADS_1
"nona Zia, apa itu putrinya". ucap orang tersebut