Mafia Girls Vs Ustadz Tampan

Mafia Girls Vs Ustadz Tampan
Harlah Pesantren


__ADS_3

"sayang bangun yuk, besok sudah harlah pesantren dan hari ini hari terakhir untuk mu latihan". ucap Ghazali pada istrinya karena setelah sholat subuh Shazia tidur kembali


"hmm". guman Shazia bukannya malah bangun malah meletakkan kepalanya di pangkuan suaminya


"sayang, istriku ayo bangun sudah jam delapan". bisik Ghazali di telinga istrinya


"ustadz pakai parfum apa, wangi sekali humm". ucap Shazia yang masih memejamkan mata


"parfum yang biasanya, ayo bangun ". ucap Ghazali


Ghazali merasa heran karena akhir akhir ini istrinya sering tertidur dan sulit untuk di bangunkan. Ghazali menarik nafasnya langsung mencium seluruh wajah istrinya


"ihh jangan cium cium nafasnya ustadz bau". ucap Shazia sambil mendorong wajah suaminya bahkan dia langsung menutup hidung


"harum gini di bilang bau mas sudah mandi". ucap Ghazali sambil menghembuskan nafasnya


"ishh sudah di bilang bau malah di hembuskan ". protes Shazia


"harum sayang ". ucap Ghazali dan mendekat ke Shazia


bugh


"kenapa di pukul ". tanya Ghazali


"jangan dekat dekat nafasnya ustadz bau ". ucap Shazia


"oke oke sekarang mandilah dan setelah itu kita mematangkan bacaan Alquran mu". ucap Ghazali


Shazia turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi sedangkan Ghazali yang berada di kamar masih mencium aroma nafasnya


"wangi Mint gini di bilang bau jangan jangan dia mencium nafasnya sendiri". ucap ustadz Ghazali


"ustadz ada pasta gigi lain tidak". tanya Shazia yang sudah berada di depan suaminya


"pasta giginya kan masih banyak dan itu baru saja di buka sayang". jawab Ghazali


"iya sih tapi itu pasta giginya bau ustadz". ucap Shazia


"bau bagaimana tadi mas pakai itu dan itu juga yang di pakai setiap hari". ucap Ghazali


"pokonya bau dan mau yang lain". rengek Shazia dan Ghazali terkejut saat melihat Sikap istrinya yang seperti anak kecil itu bahkan matanya mulai berkaca kaca


"sebentar seperti ada yang lain ". ucap Ghazali dan membuka laci


Ghazali memberikan pasta gigi yang lainnya dan Shazia mengambilnya lalu menciumnya. setelah memastikan tidak bau Shazia kembali ke kamar mandi sedangkan Ghazali masih bingung dengan perubahan sikap istrinya.


kini Shazia sudah duduk di hadapan suaminya dan mulai membaca Al-Quran. Ghazali menyimaknya dan membenarkan jika ada yang salah, Shazia juga sudah tidak kesulitan seperti awal belajar membaca Al-Qur'an.


"Alhamdulillah, istrinya mas sudah pandai membacanya dan cepat belajar dan besok sudah siap". puji Ghazali


cup


"itu hadiah dari mas" ucap Ghazali setelah mencium kening istrinya cukup lama


Shazia meletakkan Al-Qur'an di atas nakas dan kembali merbahkan dirinya di atas ranjang

__ADS_1


"mau tidur lagi". tanya Ghazali


"hmm". guman Shazia dan mengertakan pelukannya pada guling


"mas mau mengecek persiapan untuk besok". ucap Ghazali


"hmm". guman Shazia


Ghazali keluar menuju ke aula dan mengecek apa masih ada yang ketinggalan atau tidak


"assalamualaikum ustadz". ucap ustadzah Dila


"wassalamu'alaikum Ustadzah". jawab ustadz Ghazali


"ustadz bisa bantu saya untuk membawa alat alat Hadroh ke sini". Ucap ustadzah Dila


"Maryam". panggil ustadz Ghazali


"iya ustadz". jawab Maryam


"kamu bantu ustadzah Dila untuk membawa alat alat Hadroh ke sini ya". ucap ustadz Ghazali


"iya ustadz". jawab Maryam


"ustadzah akan di bantu sama Maryam karena tidak baik laki laki dan perempuan berdua saja , dan akan menimbulkan fitnah, ustadzah pasti tau itu". ucap ustadz Ghazali


"iya ustadz". jawab Ustadzah Dila


Maryam mengikuti langkah ustadzah Dila menuju ruang penyimpanan alat alat Hadroh. setelah memastikan persiapan sudah selesai Ghazali langsung kembali ke rumah karena Ghazali tidak tenang saat meninggalkan istrinya terlalu lama. sesampainya di depan rumah Ghazali mencium aroma masakan. saat sampai di dapur Ghazali melihat punggung istrinya yang sedang berkutat dengan alat dapur. Ghazali menyandarkan tubuhnya di depan pintu dan memperhatikan istrinya yang sedang fokus memasak sambil membaca selembar kertas, Ghazali yakin itu adalah resep makanan yang sedang di buat istrinya.


setelah selesai masak Shazia mencium masakan


"ustadz sejak kapan di situ". tanya Shazia


"sejak istri mas ini fokus dengan masakannya ". jawab Ghazali menghampiri istrinya


"seperti enak mas mau". sambung Ghazali


"itu di wajan masih ada". jawab Shazia dan melewati suaminya karena sudah tidak sabar untuk memakan nasi goreng buatannya


Ghazali mengambil nasi gorengnya dan Ikut bergabung bersama istrinya lalu memakannya. menurut Ghazali masakan istrinya cukup enak.


"dapat resep dari mana". tahta Ghazali setelah mereka selesai makan


"dari Dea ". jawab Shazia


"kapan bertemu dengan Dea". ucap Ghazali


"tadi, aku keluar untuk menemui ". jawab Shazia dengan santai


"besok lagi kalau mau keluar izin sama mas ya". ucap Ghazali


"iya , lagian tadi ustadz tidak ada di rumah". ucap Shazia


Ghazali membantu Shazia untuk membereskan dan membersihkan alat alat masak yang dia pakai tadi.

__ADS_1


keesokan harinya Harlah Pesantren telah tiba dan Shazia tengah gugup karena sebentar lagi dia akan naik ke atas panggung dan membaca Al-Qur'an


"jangan gugup kamu pasti bisa sayang". ucap Ghazali pada istrinya


Shazia menarik nafasnya ketika namanya sudah di panggil, dengan langkah pelan Shazia berjalan menaiki panggung. Shazia membaca Al-Qur'an dengan lancar walaupun nada Qiroah belum bagus dan Ustadzah Dila yang melihat itu tidak percaya jika Shazia bisa membacanya dengan lancar.


Shazia bernafas lega ketika telah selesai membaca Al-Qur'an, Shazia mengambil minum untuk menghilangkan rasa groginya, walaupun sudah turun dari panggung tangan Shazia masih bergetar.


"assalamualaikum Shazia". ucap salah satu santriwati


"wassalamu'alaikum ". jawab Shazia


"kamu di tunggu ustadz Ghazali di tempat persediaan minum ". ucap santriwati tersebut


"oh iya". jawab Shazia


Shazia berjalan keluar dari alua dan menuju belakang aula tempat persediaan air minum. sesampainya disana Shazia tidak melihat suaminya


"hmmm". ucap Shazia saat ada yang membekab mulutnya


bugh


Shazia yang berhasil lepas dari bekap tersebut langsung membalikan badannya dan mendendangkan orang tersebut


"ustadzah Dila ". ucap Shazia yang melihat ustadzah memegang perutnya


ustadzah meringis saat merasakan nyeri di perutnya akibatnya tendang Shazia. Shazia langsung membalikan badannya ketika melihat bayangan orang dan memegang tangan orang tersebut


"kak Derrel ". ucap Shazia


Shazia dan Derrel terlibat perkelahian di sana, padahal sebelum belum pernah mereka berkelahi seperti ini. Shazia yang merasakan bahwa dirinya dalam bahaya terpaksa melawan kakaknya.


bugh


bugh


"kenapa kakak menyerang ku ". tanya Shazia tapi Derrel sama sekali tidak menjawab pertanyaan Shazia


Shazia membalikkan badannya dan menatap ustadzah Dila dengan tajam karena mendaratkan suntik di bahunya, Shazia mencabut suntikan tersebut dan membuang dengan asal. ustadzah Dila mundur saat melihat tatapan tajam dari Shazia


bugh


"auwh". ustadzah Dila Mering saat kepalanya terkena pinggiran meja karena dorongan Shazia


Shazia memang kepala yang terasa pusing, Shazia menatap ustadzah Dila dan kakaknya secara bergantian


bruk


Shazia terjatuh ke lantai


"kamu yakin kan apa yang kita lakukan hari ini tidak akan ada yang tau dan aku bisa mendapatkan ustadz Ghazali". tanya ustadzah Dila


"kamu tenang saja, selama kamu menutup mulut mu semua aman, aku akan membawanya dengan begitu kamu bisa mendapat ustadz mu". jawab Derrel


"lalu bagaimana cara mu membawanya tanpa ketahuan ". tanya ustadzah Dila

__ADS_1


"sebaiknya kamu kembali ke acara dan ini biar menjadi urusan ku". ucap Derrel


sebelum kembali ke acara ustadzah Dila mengobati luka di keningnya. ustadzah Dila meremas tangannya saat memasuki aula.


__ADS_2