
setelah selesai memasak nasi goreng Ghazali menghampiri istrinya yang sedang duduk sambil menopang dagunya.
"jangan pakai sendok, aku maunya pakai tangan". ucap Shazia saat melihat suaminya akan menyuapi dirinya mengunakan sendok
tanpa banyak bicara Ghazali menyuapi istrinya langsung menggunakan tangannya tapi sebelum itu Ghazali meniupnya terlebih dahulu baru di berikan pada istrinya. Shazia menikmatinya dengan tenang.
sepuluh menit akhirnya Shazia selesai makan dan Ghazali bersiap untuk berangkat mengajar.
"mas berangkat dulu, baik baik di rumah". ucap Ghazali dan Shazia menanggukan kepalanya
"assalamualaikum"
"wassalamu'alaikum"
cup
Ghazali mencium istrinya terlebih dahulu sebelum berangkat. setelah suaminya pergi Shazia menopang kembali dagunya karena merasa kembali bosan
tok
tok
"assalamualaikum Shazia". ucap seseorang
Shazia yang mendengar suara seseorang yang di kenali langsung berjalan menuju pintu depan dan membukanya. Shazia sempat terhuyung karena tiba tiba orang itu memeluknya.
"aku senang kamu kembali Shazia". ucap Dea
"senang sih senang tapi ini sesak Dea". ucap Shazia
"hehehe maaf". ucap Dea
"ayo masuk". ucap Shazia dan Dea mengikuti Shazia
Mereka berdua duduk dengan tenang dan masih saling diam
"syukurlah kamu baik baik saja, berita kamu menghilang membuat heboh pesantren". ucap Dea
"Alhamdulillah aku baik baik saja". jawab Shazia dengan tersenyum
"ada tamu ternyata". ucap Khadijah yang keluar dari dapur
"iya bibi". ucap Dea lalu mencium punggung tangan Khadijah
"kalian lanjutkan mengobrolnya bibi tinggal ke depan" ucap Khadijah
"mama tinggal dulu ya". ucap Khadijah pada Shazia
__ADS_1
"iya ma". jawab Shazia
"itu ibunya ustadz Ghazali". tanya Dea saat Khadijah sudah keluar dan Shazia menganggukkan kepalanya
"mertua idaman, sepertinya mama mertua mu sangat sayang padamu, jadi pengen deh punya mama mertua seperti itu". ucap Dea
"oh kamu tau santri putra yang bernama Derrel itu". tanya Dea dan Shazia hanya diam saja
"beberapa kali aku lihat dia mengobrol dengan Ustadzah Dila, mereka seperti dekat, apa dia masih keluarganya ustadzah Dila ya". ucap Dea
"mungkin". jawab Shazia
"kak Derrel dekat dengan Ustadzah Dila, apa yang membuat mereka dekat". ucap Shazia dalam hati
sedangkan di tempat lain ustadz Ghazali yang sudah selesai mengajar memilih untuk pulang ke rumah
"ustadz tunggu". ucap ustadzah Dila yang sudah menghadang ustadz Ghazali
"saya ingin bicara dengan ustadz". sambung ustadzah Dila
"saya tidak ingin mendengar apapun, saya peringatkan untuk ustadzah jangan ganggu saya atau saya laporkan pada Abah bahwa ustadzah Dila sudah membuat saya pingsan waktu Harlah Pesantren, entah Rencana apa yang ustadz susun pada waktu itu tapi aku sangat berterima kasih dan bersyukur masih selamat dari rencana ustadzah waktu ". ucap ustadz Ghazali
"saya hanya ingin ustadz mendengarkan saya bicara kali ini saja". ucap ustadzah Dila
"tapi maaf saya buru buru, jika ustadzah masih ingin mengajar di sini sebaiknya jauhi saya atau saya benar benar akan mengatakan pada abah". ucap ustadz Ghazali lalu meninggalkan ustadzah Dila
"kali aku bisa membantu mu dan ustadz itu benar benar akan jadi milikmu ". ucap Derrel
"bagaimana caranya ". tanya ustadzah Dila
"akan aku kasih tau tapi kamu harus membantuku". ucap Derrel
"membantu apa". tanya ustadzah Dila
"gampang". ucap Derrel dan melihat ke sekeliling dan memastikan keadaan sedang sepi
"kamu kasihan ini ke makanan atau minuman milik istrinya ustadz Ghazali, bagaimana". ucap Derrel sambil mengeluarkan sebuah botol kecil
"apa itu". tanya ustadzah Dila
"yang pasti bukan racun, jika kamu letakkan ini ke makanan atau minumannya maka aku yakin ustadz Ghazali akan jadi milikmu". ucap Derrel
ustadzah Dila memperhatikan botol itu lalu mengambilnya
"baiklah". ucap ustadzah Dila lalu meninggalkan Derrel
"dasar bodoh". ucap Derrel dengan tersenyum lalu meninggalkan tempat itu
__ADS_1
ustadzah Dila berjalan sambil memperhatikan botol yang di pegang
"ini sebenarnya apa isinya". ucap ustadzah Dila
"bagaimana caranya aku memberikan ini ke makanan atau minuman Shazia sedangkan Shazia selalu berada di rumah". ucap ustadzah Dila
"sudah pikirkan nanti saja". ucap ustadzah Dila lalu memasukkan botol itu ke dalam sakunya
Ghazali tersenyum saat sudah berada di depan rumah
"kenapa pintunya di buka, apa ada tamu". ucap Ghazali
"assalamualaikum". ucap Ghazali
"waalaikumussalam". jawab Shazia dan Dea secara bersamaan
Ghazali bernafas lega ketika tau tamunya adalah Dea , Ghazali sempat berpikir jika tamunya adalah laki laki
"Shazia aku pulang dulu ya". ucap Dea dan Shazia menganggukkan kepalanya
"Shazia ustadz saya pulang dulu assalamualaikum".
"waalaikumussalam"
setelah Dea keluar Ghazali langsung menutup pintunya dan berjalan menghampiri Shazia lalu merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya. Shazia melepas kumis dan janggut palsu suaminya
"tadi mas pikir tamunya laki laki". ucap Ghazali lalu menciumi perut Shazia
" kalau laki laki mana mungkin Zia bawa masuk, mas kan pernah bilang pada zia jangan bawa tamu laki laki masuk ketika mas tidak ada". jawab Shazia sambil mengusap kepala suaminya
"pintarnya istri mas, masih ingat pesan mas". ucap Ghazali
"sayang perutnya baik baik saja kan tidak kram". tanya Ghazali
"tidak mas". jawab Ghazali
"syukurlah ". ucap Ghazali
"usap usap terus kepala mas sayang ". ucap Ghazali
Shazia mengusap kepala suaminya sedangkan satu tangannya di genggaman suaminya, Ghazali memejamkan matanya dan merasakan kantuk saat kepala di usap usap oleh istrinya. Shazia memperhatikan wajah suaminya yang sedang terlelap
"wajahnya begitu damai dan teduh, enak untuk di pandang". ucap Shazia
Shazia menundukkan kepalanya lalu mengecup bibir suaminya kemudian seluruh wajahnya. Ghazali yang tidak benar benar tertidur di dalam hatinya bersorak dengan senang
"tanpa kamu sadari kamu sudah mencintai ku sayang, sikap yang kamu tunjukkan membuat ku bahagia walaupun kamu tidak mau mengakui jika sudah mencintai ku". ucap Ghazali dalam hati
__ADS_1