Mafia Girls Vs Ustadz Tampan

Mafia Girls Vs Ustadz Tampan
Hukuman


__ADS_3

Shazia memasuki rumah dan terasa sepi.


"Zia". panggil Lora


"mama". ucap Shazia dan memeluk mamanya dan Lora memeluk mamanya dengan erat


"ayah mana ma". tanya Shazia


"ayah sedang keluar sayang, Ayo makan dulu kebetulan mama masak makanan kesukaan kamu". ajak Lora dan mengajak putrinya menuju dapur


Lora langsung mengambilkan makanan untuk putrinya. Lora memperlakukan Shazia seperti anak kecil walaupun Shazia sudah besar beda dengan ayahnya yang terlalu keras pada Shazia. Shazia makan dengan lahap, Lora mengusap puncak kepala putrinya itu dengan penuh kasih sayang.


"sayang kenapa kamu belum selesai selesai mengerjakan tugas yang di berikan ayah". tanya Lora


"cukup sulit ma untuk bergerak di pesantren itu karena banyak peraturan dan ketauan melanggar akan mendapatkan hukuman ". jawab Shazia dan memasukan potongan wortel ke dalam mulutnya


"segera selesaikan ya sayang mama takut kamu akan mendapatkan hukuman dari ayahmu". ucap Lora karena Lora tau bagaimana sikap suami itu


Lucas adalah orang yang tidak suka jika ada orang yang mengerjakan tugasnya terlalu lama dan tidak akan segan segan untuk menghukum orang tersebut


"itu sudah konsekuensinya ma tapi Zia akan tetap menyelesaikan tugas yang ayah berikan ". jawab Shazia sambil tersenyum


langkah kakinya mengema di rumah itu dan berjalan menuju dapur. Shazia segera menyelesaikan makannya.


"Zia Ikut ayah ". ucap Lucas dan berjalan menuju sebuah ruangan


"ma Zia ikut ayah dulu". ucap Shazia dan segera menyusul sang ayah


sesampainya di ruangan Shazia sudah melihat ayahnya yang sudah duduk dan menatapnya dengan tajam.


"ayah harus memberi mu sebuah pelajaran agar tidak lelet dalam menyelesaikan tugas mu Zia, ayah mengirim mu kesana untuk menyelesaikan tugas bukan main seperti kemarin". ucap Lucas dan menatap putrinya dengan tajam


"maaf ayah kemarin Zia bukan main tapi Zia menemani teman Zia untuk sidang skripsi yah". jawab Shazia

__ADS_1


"teman, sejak kapan kamu bertaman dengan orang orang yang berada di tempat yang seharusnya kamu menyelesaikan tugas mu". ucap Lucas


"ini yang membuat mu lama menyelesaikan tugas karena asik bermain dengan teman mu". sambung Lucas dan mengambil cambuk di laci lalu berjalan ke arah putrinya


"balikan badanmu". perintah Lucas dan Shazia membalikan badannya


"ayah harus membuat tertib kembali orang orang seperti kita tidak perlu teman Zia karena teman akan hanya menghambat tugas kita". ucap Lucas


"Ambi ini". ucap Lucas dan memberikan sebuah kain lalu Shazia mengambil kain itu lalu menggigitnya


Shazia menahan rasa panas pada punggungnya saat cambukan itu mengenai punggungnya


Shazia menahan air matanya jangan sampai menetes karena jika menetes maka ayahnya akan memberikan hukuman yang jauh lebih berat


Shazia mengigit kain itu dengan erat bahkan tangannya mengepal


"jauhi temanmu itu dan fokuslah pada tugas mu Zia ". ucap Lucas


"ini hukuman yang pantas untuk mu karena keterlambatan mu menyelesaikan tugas ". ucap Lucas dan menghentikan cambukannya


"Zia akan segera menyelesaikan tugas Zia yah". jawab Zia


"keluarlah ". ucap Lucas


Shazia keluar dari ruangan ayahnya dengan menahan rasa perih di punggungnya. Lora mengahampiri putrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Lora membuka baju putrinya dan menatap punggung putrinya yang terkena cambukan


"berbaringlah sayang, mama obati agar tidak semakin parah lukanya". ucap Lora


Shazia membaringkan tubuhnya dengan hati hati, Shazia menelungkupkan wajahnya di bantal. Lora segera mengobati punggung putrinya. Shazia meringis saat lukanya yang terkena obat


"tahan perinya sayang". ucap Lora pada putrinya dan Shazia hanya mampu menanggukan kepalanya


"istirahatlah sayang". ucap Lora dan mengusap kepala putrinya

__ADS_1


Shazia yang merasakan kenyamanan memejamkan matanya saat mata itu terpejam air mata Shazia menetes. usap yang di lakukan mamanya membuat Shazia secara perlahan mengantuk dan tertidur.


"maafkan mama sayang kamu harus lahir di di dunia Mafia yang penuh kekerasan". ucap Lora dan keluar dari kamar putrinya


sedangkan di pesantren Dea menatap bajunya yang dia berikan pada Shazia tadi


"ini Shazia dimana tadi saat senam juga tidak ada". ucap Dea dan menghembuskan nafasnya dengan kasar karena lagi lagi Shazia hilang entah kemana


sedangkan di dalam kamar ustadz Ghazali mendapatkan telepon dari ibunya


"Ghazali disini baik baik saja bu". ucap Ghazali


"kapan kamu akan menikah nak, ibu di sini kesepian andai kamu menikah ibu pasti punya teman, semenjak ayahmu meninggal dan kamu menempuh pendidikan yang sangat jauh mama kesepian Ghazali". ucap ibunya Ghazali


"Ghazali belum menemukan perempuan yang cocok ma". jawab Ghazali


"nak disana banyak ustadzah atau santriwati apa tidak ada yang bisa membuat hati mu bergetar ". tanya ibunya


"Bu nanti jika Ghazali sudah menemukan perempuan yang cocok pasti Ghazali kabari ibu". jawab Ghazali


"sehat sehat kamu disana ya nak, jangan melakukan hal hal yang akan merugikan mu apalagi itu di tempat orang " ucap ibunya


"iya Bu, Ghazali akan selalu mengingat pesan ibu". jawab Ghazali


"ya sudah ibu tutup, assalamualaikum ".


"wassalamu'alaikum Bu.


Ghazali meletakan ponselnya di atas nakas dan mengambil pakaian lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Di dalam kamar mandi Ghazali memperhatikan pakaian karena takut terdapat serbuk gatal dan memastikan pakaiannya aman Ghazali memakainya lalu keluar kamar mandi.


Ghazali mengambil anting yang dia temukan waktu itu dan memperhatikan anting itu dengan teliti.


"milik siapa sebenarnya ini anting, jika memang pelaku yang menjahili ku tapi siapa orangnya dan sudah dua hari ini tidak ada yang terjadi, bagaimana caranya agar aku bisa tau siapa pemilik anting ini dan tidak mungkin memeriksa satu persatu santriwati atau perempuan yang ada disini". ucap Ghazali dan memasukan kembali anting itu kedalam laci

__ADS_1


__ADS_2