
pagi pagi sekali Shazia menarik nafasnya saat melihat cuciannya sudah menumpuk.
"ishh padahal saat di rumah tidak pernah mencuci seperti ini tapi sekarang harus mencuci dan mengunakan tangan lagi". ucap Shazia sambil menatap malas cuciannya
Shazia akhirnya duduk dan mencuci bajunya dengan cemberut, sudah tiga puluh menit Shazia belum menyelesaikan mencucinya padahal tangannya sudah panas
"aish jika seperti ini rasanya ingin pulang ke rumah saja". ucap Shazia
"rumah siapa Shazia". ucap Dea saat mendengar ucapan Shazia
"bukan urusan mu". ucap Shazia
"kamu sudah mengingat siapa dirimu". tanya Dea karena tadi mendengar Shazia menyebut rumah
"belum". jawab Shazia dengan singkat
"tapi tadi kamu menyebut rumah". tanya Dea
"ya memang orang amnesia tidak boleh menyebut rumah dan bisa jadi dulu aku di rumah tidak pernah mencuci seperti ini". ucap Shazia lalu membilas pakaiannya
"owh aku pikir sudah pulih ingatan mu". ucap Dea dan melanjutkan mencucinya
"tadi aku liat sepertinya akan ada santriwan". ucap salah satu santriwati yang sedang menjemur dan Shazia mendengar ucapan santriwati itu
"kamu lihat di mana". tanyanya
"tadi saat aku sedang membersihkan masjid aku lihat dia masuk ke kantor dewan santri ". jawabnya
"dan kamu tau dia sangat tampan ". sambung
"ternyata masih ada santri yang tidak bisa menjaga pandangan padahal yang aku tau di sini di ajarkan tidak boleh memandang lawan jenis ". ucap Shazia dalam hati
"sungguh apa dia setampan Gus Amer, Gus Faisal atau ustadz Ghazali ".
__ADS_1
Shazia mengkerutkan dahinya saat mendengar ada yang bilang ustadz Ghazali tampan
"kamu bilang ustadz Ghazali tampan ". ucap Shazia
"iya".
"tampan dari mananya pakaian saja seperti itu tidak modis ". ucap Shazia
"matamu berarti bermasalah sudah jelas jelas ustadz Ghazali itu tampan ". ucap Santri itu
Shazia memutar bola matanya lalu pergi dari sana. Shazia menatap para santriwati yang berdiri di pinggir pagar asrama putri
"apa yang mereka lihat". ucap Shazia
"dua pangeran tampan sedang lewat".
"kira kira siapa ya namanya santriwan baru itu"
"humm andai bisa jadi istri dari ustadz Ghazali atau santriwan itu pasti aku akan sangat bersyukur"
"itukan Marvin jadi santri baru itu Marvin, ngapain dia kesini". ucap Shazia dalam hati
"apa dia kemarin menyusul ku tapi tau dari mana aku di sini ". sambung Shazia dalam hati
"jaga pandangan mu anak muda". ucap ustadz Ghazali saat melihat Marvin terseyum ke arah para santriwati yang ada di pagar
"eh iya ustadz ". ucap Marvin
"kalian ngapain di sana kembali ke asrama dan jaga pandangan kalian". tegur ustadz Ghazali
"iya ustadz ". jawab mereka semua lalu meninggalkan tempat itu
ustadz Ghazali mengantarkan Marvin menuju asrama putra.
__ADS_1
"kita sudah dekat Zia, aku menyusul mu karena aku tidak ingin kamu jatuh cinta pada orang lain ". ucap Marvin dalam hati
"ini kamar mu, di sini ada aturan yang harus di patuhi, saya harap kamu seperti santri yang lainnya dan semoga betah tinggal di sini". ucap ustadz Ghazali
"iya ustadz ". jawab Marvin
"Rafa ". panggil ustadz Ghazali pada santriwan yang mengunakan kacamata
"iya ustadz ". jawab Rafa dan mendekat ustadz Ghazali lalu mencium punggung tangan ustadz Ghazali
"ini ada santri baru, saya harap kamu bisa menjadi teman baiknya dan dia akan tinggal di kamar ini ". ucap ustadz Ghazali
"iya ustadz ". jawab Rafa
"assalamualaikum ". ucap ustadz Ghazali
"waalaikumussalam ". jawab Rafa
"saya Rafa". ucap Rafa dan mengulurkan tangannya
"saya Marvin ". jawab Marvin dan menerima uluran tangan Rafa
Rafa mengajak Marvin masuk lalu menujuk ranjang yang akan di tempati Marvin dan juga lemari pakaian untuk Marvin
"ranjang sekecil ini dan tidak ada AC di sini". tanya Marvin
"kamu masih beruntung Marvin Karena dulu awal masuk hanya mengunakan kasur lantai saja, di sini adanya angin sepoy sepoy". jawab Rafa
"jika kamu lelah istirahat dulu nanti baru kamu bereskan pakaian mu". ucap Rafa
Marvin membaringkan tubuhnya di ranjang itu
"ternyata keras tapi kenapa banyak yang mau tinggal di sini, berarti selama ini Zia ku tidurnya tidak nyaman ". ucap Marvin dalam hati
__ADS_1
"habis ini aku akan menemui Shazia ". senyum Marvin mengembang
tidak sia sia dia mengikuti Shazia yang baru keluar dari club malam Derrel sehingga dia tau bahwa Shazia tinggal di pesantren ini