Mafia Girls Vs Ustadz Tampan

Mafia Girls Vs Ustadz Tampan
Acara Di Rumah Ustadz Ghazali


__ADS_3

malam hari tiba, Shazia menatap dirinya di depan cermin. kali ini penampilan sungguh berbeda dimana sebuah gamis yang longgar dan juga jilbab yang besar. bahkan pakaian yang dia pakai warna senada dengan milik ustadz Ghazali


"saya harap kamu tidak membuat masalah atau membuat malu". ucap ustadz Ghazali


"ishh kenapa kamu malah menikahi ku, sungguh menyebalkan". ucap Shazia


"kamu yang membuat kita harus menikah jadi jangan menyalahkan saya". ucap ustadz Ghazali


"ayo sekarang keluar, semua orang sudah menunggu". sambung ustadz Ghazali


"tunggu". ucap ustadz Ghazali


"apalagi". tanya Shazia


ustadz Ghazali mengambil kain yang ada di ranjang dan memberikan pada Shazia


"pakai ini". ucap ustadz Ghazali


"ini untuk apa". tanya Shazia


"ini cadar digunakan untuk menutup wajah mu". jawab ustadz Ghazali


"kenapa harus di tutup segala seperti penjahat saja". ucap Shazia


tanpa aba aba ustadz Ghazali langsung memakaikan cadar di wajah Shazia


"kenapa harus pakai ini ,sesak tau mana hanya mata saja yang terlihat". ucap Shazia


"ayo keluar". ucap ustadz Ghazali dengan dingin

__ADS_1


Shazia mengikuti langkah ustadz Ghazali dan ikut duduk di samping ustadz Ghazali. Shazia yang tidak bisa mengaji hanya mendengarkan saja, lantunan ayat suci Al-Quran membuat hati Shazia begitu damai dan tanpa di ketahui semua orang Shazia tersenyum di balik cadarnya. mendengar orang Mengaji lama la rasa kantuk menyerang Shazia hingga tanpa sadar Shazia merbahkan kepalanya di pangkuan ustadz Ghazali dan itu membuat ustadz Ghazali terkejut sendangkan orang orang yang ada di sana hanya tersenyum melihatnya.


ustadz Ghazali menepuk nepuk pipi Shazia sehingga membuat Shazia mengerjapkan matanya dan yang di lihat adalah wajah ustadz Ghazali, Shazia langsung duduk kembali. apalagi yang di lakukan Shazia mengundang senyum orang orang yang ada di sana.


bruk


ternyata lagi lagi Shazia tidak bisa menahan rasa kantuknya dan terjatuh di pangkuan ustadz Ghazali. Khadijah melarang putranya yang akan membangunkan Shazia. ustadz Ghazali hanya bisa menghela nafasnya. sampai acara pengajian selesai Shazia masih tertidur nyaman di pangkuan ustadz Ghazali


"istrimu lucu Ghazali". ucap nek idah dan Ghazali hanya tersenyum


nenek Idah mengusap puncak kepala Shazia dan Shazia hanya mengeliat saja


"pantas saja kamu selalu menolak jika ibumu ingin menjodohkan mu ternyata sudah punya calon sendiri". ucap nek Idah


"nek ayo pulang". ucap Zulfa dan menatap Shazia yang ada di pangkuan ustadz Ghazali


"Khadijah saya dan cucu saya pulang dulu". ucap nek Idah


"bibi Zulfa pulang dulu ya". ucap Zulfa dan mencium punggung tangan Khadijah


"iya hati hati". jawab Khadijah


setelah nek Idah dan Zulfa pulang Khadijah menatap putranya


"jaga pandangan Ghazali, sekarang tanggung jawab mu pada Shazia". ucap Khadijah karena sejak tadi Khadijah melihat putranya mencuri pandang ke arah Zulfa


"gedong saja istrimu". ucap Khadijah dan Ghazali hanya menanggukan kepalanya


sesampainya di kamar Ghazali merebahkan Shazia di ranjang dan tidak lupa membuka cadar Shazia. Ghazali yang merasa lelah dan punggungnya yang terasa nyeri ikut merebahkan dirinya di sampaikan Shazia, Ghazali tidur menghadap Shazia karena jika dia tidak memunggungi Shazia, Ghazali takut Shazia tidur tidak bisa diam dan akan menyenggol punggungnya.

__ADS_1


malam itu suasana desa yang begitu sejuk membuat dua orang tidur bersama dalam satu ranjang untuk pertama kalinya. dan benar saja tebakan Ghazali bahwa Shazia tidur tidak bisa tenang, kini Shazia sedang mencari kenyamanan di dadanya ustadz Ghazali.


sedangkan di pesantren Marvin mencoba menghubungi Shazia tapi nomor ponselnya sedang tidak aktif. Marvin begitu marah ketika tau Shazia ada berada di kampung halaman ustadz Ghazali selama satu bulan. pikirkan Marvin tidak bisa jernih memikirkan hal hal yang bisa di lakukan sepasang suami istri


"Zia aku harap kamu tidak menyerah dirimu pada ustadz itu karena kamu hanya milikku". ucap Marvin


"kamu bawa ponsel". ucap Fajar teman sekamar Marvin


"iya". jawab Marvin


"disini tidak boleh bawa ponsel nanti kalau ketahuan ponselmu bisa di ambil dan di hancurkan oleh pihak pengurus ". ucap fajar


"selama tidak ketahuan jadi tidak masalah, yang terpenting kamu diam". ucap Marvin


"sebaiknya kamu titipkan saja itu ponselmu pada pengurus ". ucap Fajar


"kamu diam jangan banyak bicara ". ucap Marvin lalu keluar dari kamar asrama


jika tidak keluar Marvin takut dia malah melukai fajar karena emosinya.


"Zia kenapa ponselmu tidak aktif sayang, aku harap kamu bisa menjaga dirimu hanya untuk ku". ucap Marvin


Marvin menghubungi seseorang dan meminta untuk mencari alamat rumah ustadz Ghazali. Marvin akan menyusul ke sana untuk mengawasi Shazia. Marvin tidak rela jika sampai ustadz Ghazali menyentuh kekasihnya.


💙💙💙💙


Hay aku menemukan novel yang sangat memukau dan wajib untuk di baca, langsung ketik di kolom pencarian dengan judul "Racun Cinta Arsenio" karya "Crazy_Girls"


__ADS_1


__ADS_2