
Shazia menyandarkan tubuhnya di brangkar dan tangan mengedong baby Rayyan yang sedang meminum ASI. Shazia mengusap pipi putranya.
"Umi sayang padamu nak". ucap lalu mencium pipi Rayyan secara bergantian
Shazia turun dari brangkar lalu meletakkan Rayyan ke dalam box lalu mengedong Reyhan yang masih tertidur lalu mencium pipinya. air mata Shazia secara perlahan turun.
"umi sangat sayang pada kalian". ucap Shazia lalu meletakan Reyhan kembali ke dalam box.
Shazia menghapus air matanya lalu keluar dari ruang rawatnya.
"maafkan umi Reyhan dan Rayyan, umi harap kalian tidak membenci umi". ucap Shazia dan kakinya melangkah meninggalkan rumah sakit.
Shazia langsung menghentikan taxi dan mengatakan tujuan pada sopir. Shazia menyender kepala pada kursi dan melihat ke arah keluar. Shazia menutup mulutnya saat tidak bisa menghentikan tangisnya.
"maafkan aku mas, maaf". ucap Shazia sambil terisak
taxi tersebut melaju dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan shalat tidak bisa menghentikan tangisnya. taxi yang Shazia kendarai telah berhenti
"pak kenapa berhenti di sini". ucap Shazia saat melihat ke sekitar
"pak ayo jalan dan menuju ke alamat yang saya sebutkan tadi". perintah Shazia tapi sopir taxi sama sekali tidak menjalankan taxinya
"pak ayo jalan, kalau bapak tidak mau jalan saya akan cari taxi lain". ucap Shazia dan berusaha membuka pintu taxi tapi tidak bisa terbuka
"pak anda seorang supir taxi seharusnya mengantarkan penumpang seusai tujuan bukan seperti ini". ucap Shazia dengan dingin
"anda tidak punya telinga ya pak". ucap Shazia
"kamu mau pergi kemana sayang ".
Shazia melebarkan matanya saat mendengar suara tersebut
"mas". ucap Shazia dengan keterkejutan saat supir taxi itu menoleh kebelakang dan ternyata adalah Ghazali
"ma mas kenapa bisa kamu ". ucap Shazia dengan gugup
"aku pernah bilang, aku tidak akan membiarkan mu pergi ". ucap Ghazali
"mas ku mohon biarkan aku pergi, ini untuk mu dan juga anak anak kita, aku tidak ingin kalian Kenapa kenapa ". ucap Shazia
__ADS_1
"mas aku yakin kamu bisa jadi ayah yang baik untuk anak anak kita, biarkan aku pergi ". ucap Shazia
"tidak ". ucap Ghazali dengan dingin
"mas aku mohon jika aku tidak tidak pergi ayah ku akan melakukan sesuatu padamu dan juga anak anak kita, aku tidak bisa melihat mu dan masalah atau sampai terluka ". ucap Shazia
"tugas mu Hanya jadi ibu yang baik dan urusan ayahmu itu urusan ku ". ucap Ghazali
"mas aku bukanlah orang biasa dan tidak akan sebanding dengan mu". ucap Shazia
Ghazali turun dari mobil lalu membuka pintu penumpang dan membawa Shazia masuk ke rumah sakit
"mas please biarkan aku pergi, aku sudah membuat kesempatan dengan ayahnya, ayahnya tidak akan melukainya kalian jika aku kembali, aku Moh hiks". ucap Shazia dan berusaha melepaskan pegangannya tangan Ghazali sedangkan Ghazali tidak menghiraukan ucapan Shazia dan terus berjalan menuju ruang rawat
"auwh". Shazia meringis saat bagian bawanya terasa sakit dan Ghazali yang melihat itu langsung mengendongnya
"aku bisa melindungi mu dan juga anak kita jadi kamu hanya diam dan menurut pada ku". ucap Ghazali dan meletakkan Shazia di brangkar
"mas mengertilah". ucap Shazia
"kamu lihat kedua anak kita, kamu ingin meninggalkannya, apa kamu sanggup hidup tanpa mereka". tanya Ghazali dan Shazia mengelengkan kepalanya
"aku memang tidak sanggup hidup tanpa mereka atau mu mas tapi ini demi kalian, mas ayah ku seorang mafia dan terkenal sangat kejam , dia tidak akan membiarkan mu atau anak kita selamat selama ada aku di sini". ucap Shazia
"ma mas". ucap Shazia dengan gugup
"dengar sayang, kamu cukup jadi istri yang penurut dan soal keselamatan ku dan anak kita dan juga kamu itu adalah tanggung jawab ku". ucap Ghazali tanpa eksepsi
"kamu adalah istriku dan aku tidak akan membiarkan mu kembali ke dunia Hitam tersebut ". sambung Ghazali
"tapi mas.."
"kalian berempat masuk ". ucap Ghazali dengan dingin dan menjauhkan tubuh dari Shazia
masuklah dua laki laki yang berbadan besar dan juga dua orang perempuan. Shazia menatap ke empat orang itu.
"tugas kalian ada menjaga istri dan anak anakku jangan sampai orang asing masuk ke dalam ruangan ini dan jangan biarkan istri ku keluar dari ruangan ini". Ucap Ghazali dengan dingin
"siap tuan". jawab keempat orang itu
__ADS_1
setelah mengatakan itu Ghazali memberikan isyarat pada mereka untuk berjaga di depan. Ghazali berbalik menatap ke arah istrinya
"sayang kamu hanya cukup diam disini bersama anak anak kita, mas akan menyelesaikan semuanya agar hidup kita tenang". ucap Ghazali dengan lembut
"maksudnya". tanya Shazia
"mas akan mengambil kembali kalung yang telah kamu berikan pada ayahmu empat bulan lalu, mas tau apa yang kamu lakukan empat bulan yang lalu dan sebuah kesepakatan yang telah kamu buat bersama ayahmu untuk keselamatan ku dan juga anak anak kita ". ucap Ghazali
"jangan kesana mas , biarkan aku saja yang pergi, aku tidak sanggup jika mendengar mu celaka, mas kamu belum tau seberapa jahat dan kejinya ayahku dan juga kakakku". ucap Shazia
"sayang jangan khawatir, mas janji akan pulang dengan selamat, mas harus mengambil kalung itu kembali dan melaksanakan amanah yang ayah mas tinggalkan untuk mas". ucap Ghazali dengan lembut
"amanah". tanya Shazia
"mas pergi dulu, assalamualaikum". ucap Ghazali dan mencium kening istrinya
"mas jangan pergi". ucap Shazia dan turun dari brangkar untuk menyusul suaminya
saat Shazia akan mengejar suaminya dua perempuan yang tadi menahan
"lepaskan aku". teriak Shazia
"nona sebaik istirahat agar cepat pulih setelah melahirkan".
"mas jangan pergi kumohon, mas belum tau seberapa kuat ayahku dan juga anak buahnya". teriak Shazia
"lepas". ucap Shazia
"ishh kenapa mereka begitu kuat apa aku masih lemah karena habis melahirkan". ucap Shazia dalam hati karena tidak bisa menghempaskan kedua perempuan yang memeganginya
"mama mas Ghazali ma". ucap Shazia dan menghampiri mama mertuanya
"nak ayo masuk, kamu harus banyak istirahat". ucap Khadijah
"tapi mas Ghazali ma". ucap Shazia
"suamimu pasti kembali dengan selamat ". ucap Khadijah
Khadijah menuntun Shazia masuk ke dalam ruang rawat, Shazia berbaring di brangkar dengan gelisah. sebenarnya Khadijah sendiri juga khawatir pada putranya tapi Khadijah yakin putranya pasti selamat.
__ADS_1
"ya Allah hamba mohon bawa pulang suami hamba dengan selamat". do'a Shazia
Shazia melihat anak anaknya yang masih terlelap dalam tidurnya