
setelah selesai sholat mereka melanjutkan perjalanan menuju pesantren An-Nur. di perjalanan tidak ada percakapan sama sekali hanya diisi dengan lantunan ayah suci Alquran. saat mobil memasuki halaman pesantren Kemala langsung membenarkan pakaian dan berdiri di tempatnya yang memungkinkan terlihat oleh Gus Faisal. saat kedua Gus itu turun beberapa santriwati saling berbisik bagaimana tampannya kedua Gus itu.
"assalamualaikum abah umi". ucap Gus Amer dan Gus Faisal secara bersamaan lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya
"waalaikumussalam". jawab Abah dan umi secara bersamaan
"maaf abah tidak bisa menjemput Kalian di bandara". ucap Abah
"tidak apa apa bah, yang penting kami berdua sudah selamat sampai di sini". jawab Gus Faisal
Abah dan umi mengajak anaknya untuk masuk ke dalam ndalem. Gus Amer dan Gus Faisal mengikuti langkah kedua orang tuanya
Kemala mengkerutkan bibirnya saat Gus Faisal sama sekali tidak melihat ke arahnya
"kalian disana sehat sehat kan nak". tanya umi
"Alhamdulillah sehat umi". jawab Amer
"kalian benar benar membuat umi merindukan kalian karena lebih suka tinggal di sana dan jarang pulang ". ucap umi
"maaf umi tapi disana sungguh tempat yang nyaman ". jawab Gus Faisal sambil memegang kedua tangan uminya
"selama kalian tidak ada umi selalu menanyakan kapan kalian pulang, Abah sampai bosan mendengarnya ". ucap Abah
"maaf kami telah membuat umi jauh dengan Kita dan maaf jika keputusan kamu melanjutkan pendidikan di Mesir membuat umi sedih ". ucap Gus Amer dan menyadarkan kepalanya di bahu umi
"Umi tidak sedih hanya saja merasakan kesepian disini karena dulu rumah ini yang membuat rame adalah canda tawa kalian berdua ". ucap umi sambil mengusap pipi kedua putranya yang menyandarkan kepalanya di bahunya
"kalian pasti lapar, Ayo makan dulu ,umi sudah memasak makanan kesukaan kalian berdua ". ucap umi
"terima kasih umi, umi adalah umi yang terbaik ". ucap Gus Faisal dan mencium pipi uminya
"kami sangat bangga punya umi seperti umi". ucap gus Faisal
Abah, umi, Gus Amer dan Gus Faisal berjalan menuju dapur. saat sampai dapur Mata gua Faisal berbinar saat melihat makanan kesukaannya sudah tertata rapi di meja makan. Abah dan umi hanya mengelengkan kepalanya saat melihat Gus Faisal langsung mengambil makanan
"Sudah lama aku tidak makan ini Abah umi, disana tidak ada yang membuat makanan ini". ucap Gus Faisal
"kalau begitu segera makanlah dan jangan lupa membaca do'a". ucap Abah
mereka semua makan dengan tenang dan terdapat kebahagiaan di mata sepasang suami-isteri itu ketika mereka bisa makan bersama anak anak mereka lagi. setelah selesai makan Abah dan umi menyuruh Gus Amer dan Gus beristirahat.
"bah mungkin suasana ini akan lebih bahagia jika ada Putri kita". ucap umi
"Abah sedang mencari kebenaran tentang perkataan Arman jika memang masih hidup Abah akan berusaha untuk mencarinya tapi jika yang di katakan Arman itu bohong, umi harus ikhlas jika makam bayi itu memang putri kita". ucap Abah sambil mengusap kepala istrinya
"iya Abah, umi akan ikhlas". ucap Umi
"ini baru istrinya Abah jadi Jangan sedih". ucap Abah sambil mencubit pipi istrinya
__ADS_1
"hemmm". ucap gus Amer saat melihat kemesraan orang tuanya
"ada apa Amer". tanya Abah
"hanya ingin mengambil minum". ucap Gus Amer dan meninggalkan kedua orang tuanya
"malu bah, dilihat Amer". ucap umi sambil mencubit pinggang suaminya dan Abah terkekeh saat melihat rona merah di pipi istrinya.
Shazia sedang berjalan santai sambil mengibaskan buku yang di gunakan sebagai kipas.
"padahal sudah malam kenapa masih terasa gerah sih". ucap Shazia
Shazia melebarkan matanya saat melihat ustadz Ghazali dan itu membuat Shazia langsung bersembunyi karena malas jika harus mengumpulkan catatan huruf Hijaiyah dan membacanya. Shazia bersembunyi di bawah pohon sambil memperhatikan ustadz Ghazali yang sedang melewati dirinya tapi tiba tiba ustadz Ghazali menghentikan langkahnya dan itu membuat Shazia mengkerutkan dahinya.
"Kenapa dia malah berhenti di sini". monolog Shazia dalam hati saat ustadz Ghazali berhenti tepat di depan pohon tempat dia bersembunyi
"assalamualaikum ustadz". ucap Kemala saat akan melewati ustad Ghazali
"waalaikumussalam ". jawab ustadz Ghazali
"Kemala satu kamar dengan Shazia kan". tanya ustadz Ghazali
"iya ustadz". jawab Kemala
"tolong panggilkan Shazia untuk menemui saya di masjid dan Jangan lupa suruh bawa buku catatannya ". ucap ustadz Ghazali
"iya ustadz ". jawab Kemala
"kenapa dia tidak lupa dengan catatannya, sebaiknya aku nunggu Kemala tidur baru kembali ke asrama ". ucap Shazia yang masih melihat ustadz Ghazali
kretek
Shazia memejamkan matanya saat menginjak ranting dan menahan nafasnya saat ustadz Ghazali berjalan ke arah pohon
"mampus, kenapa harus menginjak ranting ". ucap Shazia
meong
meong
meong
Shazia semakin gemetar saat ada seekor kucing ada di kakinya
"astaga kenapa harus ada kucing sih". ucap Shazia
hus
hus
__ADS_1
hus
Shazia yang sudah berkeringat dingin mencoba mengusir kucing tersebut.
meong
meong
meong
Shazia bernafas lega saat kucing itu meninggalkan dirinya
"hey manis ternyata dirimu yang ada si balik pohon ". ucap ustadz Ghazali yang mengendong kucing itu dan mengusap kepalanya
ustadz Ghazali pergi membawa kucing itu, setelah kepergian ustadz Ghazali Shazia keluar dari balik pohon.
dor
Shazia terkejut saat ada seseorang yang mengejutkan dirinya dan saat membalikkan badannya Shazia melihat Dea yang tersenyum
"hehehe maaf membuat mu terkejut". ucap Dea
"habis darimana aku tidak melihat mu ada di pesantren". tanya Shazia
"hmmm aku tadi sedang mengurus berkas berkas untuk sidang". jawab Dea sambil memperlihatkan tumpukan kertas yang ada di tangannya
"balik ke asrama yuk". ajak Dea
"kamu duluan saja de". ucap Shazia
"memang kamu mau kemana". tanya Dea
"aku mau cari angin soalnya di asrama gerah". jawab Shazia
"ya sudah aku duluan, assalamualaikum". ucap Dea
"wassalamu'alaikum". jawab Shazia
setelah kepergian Dea, Shazia berjalan menuju kursi yang ada di dekatnya lalu duduk disana dan memejamkan matanya sambil menikmati angin yang mengenai wajahnya
"kenapa tugas kali ini terasa sulit". ucap Shazia sambil mengusap wajahnya dengan kasar
saat sedang duduk sayup sayup Shazia mendengar orang yang sedang berbincang, saat menoleh Shazia melihat dua orang pemuda yang sedang berbincang sambil berjalan
"siapa mereka aku belum pernah melihatnya atau mereka berdua anak Abah dan umi yang baru datang ". ucap Shazia yang terus memperhatikan orang itu yang berjalan menuju masjid
"Shazia kamu di cari ustadz Ghazali dan di suruh ke masjid ". ucap Kemala yang tiba tiba sudah ada di depannya
"kamu itu sama saja seperti ustadz Ghazali dan ustadzah Dila yang datang tiba tiba ". ucap Shazia dan memperhatikan penampilan Kemala yang begitu rapih
__ADS_1
"mau kemana". tanya Shazia
"mau jalan jalan ". jawab Kemala dan meninggalkan Shazia lalu berjalan menuju masjid