
Umi mengerjapkan matanya dan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.
"Abah". panggil umi
"Abah apa benar yang di katakan Arman bahwa Putri kita masih hidup". tanya Umi
"itu tidak mungkin umi, Abah sendiri yang mengantarkan putri kita ke tempat istirahatnya". jawab Abah
"tapi tadi Arman bilang bahwa dia menukar putri kita bah". ucap Umi
"jika benar cari putri kita". sambung Umi
"umi, Abah akan mencari kebenarannya dulu, apa benar yang dikatakan Arman atau itu hanya alibi Arman saja". ucap Abah
"tapi aku harap yang dikatakan Arman benar dan kita bisa bertemu dengan putri kita". ucap Umi
"kita cari kebenarannya terlebih dahulu dan kita berdoa untuk baiknya bagaimana, dan Abah harap umi jangan terlalu berharap karena kita tau kebenarannya". ucap Abah dan Umi menanggukan kepalanya
sedangkan di UKS pesantren lengan Shazia sedang di obati oleh petugas yang ada disana. Shazia yang sudah sering terluka nampak biasa saja saat luka itu dibersihkan
"untuk saja lukanya tidak terlalu dalam". ucap petugas
"jangan terkena air dulu ya biar luka cepat kering dalam waktu dua sampai tiga hari". sambung Petugas
"iya, makasih". ucap Shazia dan menarik lengan bajunya ke atas lalu mengancing gamisnya
setelah lukanya terobati Shazia keluar dari UKS dan berjalan menuju kolam yang ada di pesantren. sesampainya di sana Shazia duduk di saung
"sebenarnya tinggal disini sangatlah nyaman, udaranya yang segar tetapi aturan yang berlaku di sini yang membuat tidak nyaman apalagi suruh baca apa itu". ucap Shazia
"kenapa ayah menugaskan ku di sini bukan kakak saja, untuk pertama kalinya aku tidak bisa menyelesaikan tugas tidak tepat waktu". sambung Shazia
Shazia melemparkan batu ke kolam, Shazia lakukan kegiatan itu berulang kali. Shazia menyadarkan kepalanya di pendopo saung. Shazia memejamkan matanya saat mendengar seseorang yang sedang mengaji.
"nyaman, apa yang dia baca sehingga aku yang mendengarnya merasakan nyaman dan damai seperti ini". ucap Shazia
Shazia turun dari saung dan mencari sumber suara. Shazia melihat punggung seseorang dan suara itu semakin jelas
"apa ini suara dia". ucap Shazia dan melangkahkan kakinya menuju orang itu
"apa yang sedang kamu baca itu ". tanya Shazia yang berada di belakang orang tersebut
orang itu mengakhiri bacaan saat mendengar suara seseorang
"Al-Qur'an". jawab orang itu dan membalikkan badannya
Shazia melebarkan matanya saat melihat orang yang berdiri di hadapannya adalah ustadz Ghazali
__ADS_1
"Al-Qur'an, tapi kemarin bukan seperti itu bentuknya, kemarin yang Dea berikan padaku besar sedangkan ini kecil dan berlapis emas". ucap Shazia
"Al-Qur'an memelihara ukur besar, sedang dan kecil lalu sampulnya juga berbeda beda". jawab ustadz Ghazali
"apa yang kamu lakukan tadi itu yang di sebut mengaji". tanya Shazia
"iya". jawab ustadz Ghazali
"apa semua orang yang mengaji suara indah seperti itu ". tanya Shazia dan ustadz Ghazali menanggukan kepalanya
"kenapa kamu tidak tau tentang Al-Qur'an, mengaji ataupun yang berhubungan dengan agama". tanya ustadz Ghazali
"aku memang tidak tau tentang itu semua dan itu terasa asing bagiku ". jawab Shazia
"lalu kenapa masuk ke pesantren ini dan asalmu darimana ". tanya ustadz Ghazali
"aku tidak tau kenapa bisa sampai sini karena saat aku bangun sudah ada disini dan aku tidak ingat apapun selain namaku ". jawab Shazia dengan bohong karena tidak mungkin dia menjawab yang sebenarnya, itu sama saja membongkar identitasnya
"saya permisi ustadz". ucap Shazia langsung meninggalkan ustad Ghazali
Shazia langsung pergi karena takut di tanya semakin jauh
drt
drt
drt
"assalamualaikum" ucap orang yang ada di seberang sana
"waalaikumussalam, ada apa Ali". jawab ustadz Ghazali
"gini ustadz, Minggu depan ada acara pengajian di masjid Al-furqan dan ustadz di minta untuk mengisi kajian disana, apa bisa". tanya Ali
"bisa dan jam berapa acaranya". jawab ustadz Ghazali
"acaranya habis isya ustadz". ucap Ali di sebrang telepon
"iya bisa kebetulan Minggu depan tidak ada acara". ucap ustadz Ghazali
"baiklah ustadz kalau begitu saya sampaikan ke orang bahwa ustadz Ghazali bisa mengisi kajian". ucap Ali
"assalamualaikum ustadz" sambung Ali
"wassalamu'alaikum". jawab ustadz Ghazali
setelah sambungan teleponnya terputus ustadz Ghazali memasukkan ponselnya ke saku bajunya dan melanjutkan mengajinya. ustadz Ghazali lebih suka menghabiskan waktu untuk mengaji di bandingkan harus membuang waktunya untuk hal yang tidak berguna
__ADS_1
Dari kejauhan Shazia duduk di balok pohon dan mendengarkan ustadz Ghazali yang sedang mengaji. lama kelamaan Shazia merasakan kantuk dan tertidur di bawah pohon itu.
Dea yang baru saja pulang dari kuliahnya masuk ke dalam asrama
"Kemala kamu lihat Shazia tidak". tanya Dea sambil meletakkan pisang coklat yang dia beli tadi
"tidak tau dan bagus jika dia pergi dari sini karena dia bisanya hanya merepotkan saja". jawab Kemala
"tidak boleh berbicara seperti itu, aku yakin dulu kamu juga seperti Shazia". ucap Dea
"ya tidaklah, jelas jelas aku berbeda darinya aku pintar sedangkan dia mengaji saja tidak, Al-Qur'an saja dia tidak tau". ucap Kemala dengan sombong
"kalau pintar kenapa tidak lulus lulus dari pesantren ini". ucap Dea
"ya karena aku suka disini ". jawab Kemala
"suka tempatnya atau mau cari perhatian dengan salah satu Gus di sini". ucap Dea
dam
tepat sasaran ucapan Dea karena kemala memang menyukai gus Faisal dan itu menjadi alasan Kemala yang rajin piket di ndalem dan berusaha mencari perhatian umi
"bukan urusan mu, cari sana teman mu takutnya tenggelam di kolam karena frutasi tidak tau apa apa". ucap Kemala dan membaca bukunya kembali
Dea segera mengganti pakaian dan segera mencari Shazia untuk memberikan pisang coklat yang dia beli tadi. Dea keluar dari kamar asrama dan segera mencari Shazia. Dea juga bertanya ke beberapa santriwati tetapi tidak ada yang mengetahui keberadaan Shazia
"Shazia kamu kemana tidak mungkin kamu kabur lagikan". ucap Dea
dan saat melewati kolam Dea melihat seseorang di bawah pohon. Dea segera melangkahkan kakinya menuju pohon, Dea terseyum saat melihat Shazia yang bisa bisanya tidur di bawah pohon dan untuk saja tidak ada santriwan yang lewat
"Shazia bangun ". ucap Dea sambil menepuk pipi temannya
"Shazia ". panggil Dea
Shazia membuka matanya dan melihat ke sekeliling ternyata dia tertidur disini
"aku cariin ternyata di sini". ucap Dea dan mendudukkan dirinya di samping Shazia
"ini tadi aku beli pisang coklat ". ucap Dea dan membuka bingkisan tersebut
"ayo kita makan bersama ". ajak Dea
Shazia yang kebetulan sedang lapar memakan pisang coklat itu. mereka berdua makam dengan tenang di bawah pohon
"kamu kok bisa tidur di sini". tanya Dea
"karena di sini suasana nyaman jadi ketiduran ". jawab Shazia dengan bohong karena tidak mungkin dia mengatakan itu dia sedang mendengarkan ustadz Ghazali yang sedang mengaji yang ada bisa di goda oleh Dea. sedangkan Dea tentu saja percaya dengan apa yang di dikatakan Shazia karena suasananya memang nyaman
__ADS_1