
Shazia kini sudah berdiri di depan rumah yang berada di alamat yang dia temukan di berkas itu. Shazia melihat ponselnya untuk memastikan alamat yang di datangi benar benar rumah Ini. setelah memastikan alamatnya benar Shazia melangkahkan kakinya menuju rumah tersebut. Shazia melihat ke sekeliling dan rumah ini tampak bersih dan terawat.
ting
tong
ting
tong
"kenapa tidak ada yang buka". ucap Shazia
ting
tong
ting
tong
"neng cari siapa". tanya seseorang
Shazia yang mendengar suara seseorang membalikkan badannya
"cari pemilik rumah ini pak". jawab Shazia
"pemilik Sudah tidak tinggal di sini neng". jawab bapak itu
"tidak tinggal disini tapi ini rumah seperti di rawat". ucap Shazia
"saya di tugaskan untuk merawat rumah ini sebelum pemilik pindah neng". jawab bapak itu
"kalau boleh tau pindah ke mana ya pak". tanya Shazia
"saya kurang tau neng, soalnya pemilik tidak mengatakan apapun waktu pindah". jawab bapak itu
"kira kira apa ada kemungkinan pemilik akan kemari lagi pak". ucap Shazia
"bapak juga kurang tau neng, sudah sekitar dua puluh tahun pemilik pindah tidak pernah datang kemari ". jawab bapak itu
"gitu ya pak". ucap Shazia
"neng ada urusan apa sama pemilik rumah ini". tanya bapak itu
"urusan pekerjaan saja pak dan dapat alamatnya di sini ternyata sudah pindah ". ucap Shazia
__ADS_1
"sekitar tiga tahun yang lalu ada yang datang kemari, beberapa orang dengan pakaian serba hitam dan menyeramkan mencari pemilik rumah ini ". ucap bapak itu
"kira kira bapak kenal dengan saudara dari pemilik rumah ini tidak pak". tanya Shazia
"bapak tidak tau neng, soalnya pemilik rumah ini jarang bersosialisasi dengan tetangga, jika kerja pulang malam ". jawab bapak itu
"terima kasih ya pak ". ucap Shazia
"sama sama neng". jawab bapak itu lalu pergi dari hadapan Shazia
"sial kemana dia pergi". umpat Shazia
"apa di pesantren ada Informasi mengenai dirinya yang jauh lebih detail ". sambung Shazia
dengan perasaan kesal Shazia meninggalkan rumah itu dan berjalan dengan kesal
"kenapa tugas kali ini sangat sulit, aku harus segera menemukan orang itu dan mengambil benda tersebut". ucap Shazia dan menghentikan taxi lalu masuk ke dalam
"pak ke club Cendai ya". ucap Shazia dan supir taxi terkejut saat seorang perempuan berhijab meminta ke sebuah club
"iya neng". jawab sopir taxi itu
Shazia menyandarkan kepalanya dan melihat luar jendela. punggungnya masih terasa sakit akibat cambukan yang di berikan oleh ayahnya. sesampainya di depan club Shazia melepaskan hijab lalu keluar.
Saat masuk ke club itu masih terasa sepi karena masih siang. Shazia berjalan menuju ruang kakaknya
cetar
cetar
saat melewati ruangan Shazia mendengar suara cambukan dan tangisan seseorang. Shazia masuk ke ruangan itu dan melihat Pablo yang sedang mencambuk seorang wanita bahkan wanita itu dengan keadaan polos
"ini pelajaran untuk mu karena berusaha kabur dari sini". ucap Pablo
"ada apa ini". ucap Shazia
semua orang yang di sana menundukkan kepalanya saat melihat Shazia
"nona Shazia". ucap Pablo
"apa ini Pablo kenapa kamu mencambuknya dan kau memaksanya untuk menelan milikmu". ucap Shazia yang melihat beberapa pria yang di sana juga dalam keadaan polos
"ini hukuman untuknya karena dia berusaha kabur dari sini". jawab Pablo
"nona tolong saya, saya tidak mau disini hiks hiks". ucap wanita itu dan memegangi kakinya Shazia
__ADS_1
tapi Pablo memberikan isyarat pada salah satu anak buah dan anak buah langsung menarik wanita itu lalu melemparkan ke ranjang. beberapa pria langsung mengitari wanita itu
"dimana kak Derrel". tanya Shazia
"tuan ada di ruangannya". jawab Pablo
Shazia langsung keluar dari ruangan itu bahkan Shazia mengabaikan teriak Wanita itu untuk meminta tolong. hal semacam ini bukan untuk pertama kalinya Shazia melihatnya.
saat sampai di ruangan kakaknya Shazia membuka pintu ruangan dengan kasar sehingga membuat wanita yang ada di pangkuan Derrel terkejut lalu buru buru membenarkan penampilan
"keluarlah". perintah Derrel dengan dingin
"tumben kemari ada apa Zia". tanya Derrel pada adiknya itu
"Zia pusing kakak". ucap Shazia dan duduk di sofa dengan kasar
"pusing kenapa". tanya Derrel
"kakak tau aku sudah menemukan alamat orang itu tapi ketika aku sampai di sana ternyata dia sudah pindah dua puluh tahun yang lalu, jadi sekarang aku harus mencarinya kemana". ucap Shazia sambil menuangkan alkohol lalu meminumnya
"coba kamu cari di pesantren itu, mungkin ada petunjuk". Ucap Derrel
"kakak aku rasa Abah kenal dengan orang itu karena aku menemukan berkas tentangnya ada di kamar Abah, jika memang orang itu hanya santri pasti berkasnya jadi satu dengan para santri dua puluh atau dua puluh Lima tahun lalu". ucap Shazia
"ya sudah kamu tanya sama Abah Abah itu". ucap Derrel yang ikut meminum alkohol
"masalah tidak semudah itu kakak apalagi Shazia masuk kesana dengan pura pura amensia kalau tiba tiba aku bertanya tentang orang itu yang ada Abah bisa curiga". jawab Shazia yang sudah menghabiskan dua gelas alkohol
"sudah jangan banyak banyak apalagi kamu akan kemben ke pesantren ". cegah Derrel saat adiknya akan meminum lagi
"kakak tidak bisa bantu apa". tanya Shazia
"Zia bukannya kakak tidak mau bantu tapi Zia tau ayah kalau memberikan tugas pada kita, kita harus menyelesaikan sendiri dan tidak boleh ada yang membantu ". ucap Derrel
Derrel masih ingat dulu ketika dia mendapatkan tugas dan dia meminta bantuan pada anak buahnya ayahnya. ayahnya tidak segan segan menghukumnya dengan cara dia di ikat dan di masukin ke dalam tangki air bahkan orang yang membantunya langsung di pengal oleh sang ayah
"Huff gini nasib terlahir di lingkungan mafia, jika nanti Zia terlahir kembali Zia harap Zia tidak terlihat di lingkungan mafia". ucap Shazia
"sudah di nikmati saja lagian ada untungnya kita terlahir di lingkungan Mafia Katena tidak ada yang berani dengan Kita apalagi jika kamu nanti mendapatkan benda itu tidak akan ada mafia mafia lain yang berani dengan kita". ucap Derrel
"dan yang pasti Lion Black akan menjadi rajanya mafia, kakak harap kamu bisa segera menemukan benda itu agar yang lainnya tunduk di bawah kita ". sambung Derrel
"iya kakak benar aku harus segera mencari sebelum Mafia dari klan lain yang menemukannya ". ucap Shazia
"ini baru adik kakak, harus semangat ". ucap Derrel dan mengusap kepala adiknya
__ADS_1
mereka berdua saling diam setelah berbincang. kali ini Shazia tidak mendengarkan perkataan kakaknya yang melarangnya minum alkohol. Shazia hanya ingin menghilang rasa lelahnya dan setelah meminum alkohol itu membuat beban Shazia terasa ringan