
sudah satu minggu lamanya Shazia di rawat di rumah sakit dan selama itu pula Khadijah merawat Shazia seperti putrinya sendiri dan hari ini akhirnya di perbolehkan pulang, sebelum pulang dokter kandungan memeriksa keadaan Shazia terlebih dahulu.
"apa yang ibu rasakan". tanya dokter
"sedikit lemas dok". jawab Shazia
"ibu harus banyak istirahat agar kandungannya selalu baik dan makan makanan yang bergizi". ucap dokter dan Shazia menganggukkan kepalanya
"dan untuk menghindari hal yang tidak di inginkan maka bapak dan ibu dan berhubungan dulu sampai melahirkan mengingat bagaimana keadaan janinnya". sambung dokter
"baik dok". jawab Ghazali
"saya permisi terlebih dahulu". ucap dokter dan di anggukan oleh mereka berdua
setelah kepergian dokter Ghazali membantu istrinya untuk bersandar lalu dengan telaten Ghazali menyuapi istri makan.
huek
Ghazali langsung mengambil baskom yang ada di dekat dan di letakkan di depan Shazia
huek
huek
Ghazali dengan mengusap tengkuk istrinya, setiap pagi Shazia memang selalu mual. setelah memastikan istrinya tidak mual lagi Ghazali memberikan air minum
"masih mual". tanya Ghazali dan Shazia mengelengkan kepalanya
"anak Abi jangan nakal pada umi, kalau setelah maka umi kamu buat muntah lalu kamu mau makan apa di dalam sana nak". ucap Ghazali di depan perut Shazia
saat mendengar perkataan suaminya hati Shazia menghangat apalagi ketika suaminya mencium perut bertubi tubi
"buatlah pada Abi saja yang muntah muntah jangan pada umi ya nak". ucap Ghazali
"jangan". ucap Shazia
"kenapa jangan sayang". tanya Ghazali
"kalau ustadz yang mual mual dan nanti lemas siapa yang akan menjaga ku dan dia, masak mau merepotkan mama". ucap Shazia
"hmmm mas masih bisa menjaga kalian, bisakah jangan panggil mas dengan sebutan ustadz ". ucap Ghazali dan Shazia mengelengkan kepalanya
"baiklah jika panggilan itu membuat mu nyaman ". sambung Ghazali
"tunggu di sini dan jangan kemana-mana, mas mau menyelesaikan administrasi dulu". ucap Ghazali lalu mencium kening istrinya lalu mengecup sekilas bibir Shazia
Khadijah masuk ke ruang rawat Shazia dan membawa makanan untuk putranya
"bagaimana keadaan mu nak". tanya Khadijah
"sudah baik ma dan hari ini sudah di perbolehkan pulang". jawab Shazia
"biar Zia saja ma yang membereskan barang barangnya". ucap Shazia
__ADS_1
"istirahat saja nak, biar mama saja yang membereskan Ini, mama yakin mas mu juga tidak akan membiarkan kamu membereskan ini semua". ucap Khadijah
"mama baru tau jika putra mama itu sangat posesif seperti ayahnya ". sambung Khadijah
"maaf ma sebelumnya memang ayahnya ustadz kemana". tanya Shazia
"ustadz kamu memanggil suamimu dengan sebutan ustadz ". tanya Khadijah dan menghentikan gerakan tangannya
"hmm sebenarnya sudah terlanjur nyaman dengan panggilan ustadz ma". jawab Shazia
"mulai sekarang rubah itu panggilannya ". ucap Khadijah dengan dingin
"iya ma Zia akan panggil ustadz eh maksudnya mas Ghazali ". ucap Shazia
"ayahnya sudah meninggal ". jawab Khadijah
"meninggal karena apa ma". tangan Shazia
"meninggal karena...."
sebelum Khadijah menjawab pertanyaan Shazia, Ghazali masuk sambil mendorong kursi roda
"Ghazali makanlah lebih dulu sebelum pulang, mama bawakan ayam rica rica ". ucap Khadijah
"iya ma". jawab Ghazali
Ghazali mengambil rantang yang di bawa mama lalu memakan karena memang di lapar. Shazia menelan salivanya saat melihat ayam rica rica itu
"sayang tadi kamu memanggilku apa". tanya Ghazali
"mas". ucap Shazia dan senyum ustadzah Ghazali mengembang
"sebegitu bahagia dia saat aku memanggilnya mas". ucap Shazia dalam hati
"ada ada yang sakit sayang". ucap Ghazali meletakan makanan dan menghampiri istrinya
"tidak ada". jawab Shazia
"lalu". tanya Ghazali
"A aku ingin makan ayam rica rica nya sepertinya enak". ucap Shazia
"hmmm lagi ngidam ternyata". ucap Ghazali dan akan berdiri mengambil makanan tapi Khadijah sudah memberikan pada putranya
Ghazali menyuapi Shazia makan sedangkan Shazia makan dengan lahap dan tidak sadar sudah menghabiskan makanan untuk suaminya
"eh maaf aku habiskan". ucap Shazia
"tidak apa apa". jawab Ghazali dengan tersenyum
"tapi mas belum makan". ucap Shazia dengan mata berkaca-kaca
"sudah tidak apa apa kita akan pulang setelah ini , jadi jangan sedih hmm". ucap Ghazali dan menarik pipi istrinya
__ADS_1
"kenapa aku jadi sedih seperti ini sih". ucap Shazia dalam hati
"aku bisa sendiri mas". ucap Shazia ketika suaminya ingin mengendongnya
Ghazali langsung mengendong istrinya dan meletakan di kursi roda. Ghazali mendorong kursi roda tersebut keluar dari rumah sakit dan menuju taxi online yang dia pesan tadi. di dalam taxi Ghazali duduk di depan sedangkan Shazia dan mamanya duduk di kursi penumpang.
saat melewati toko buah Shazia menatapnya dengan mata berbinar, Ghazali yang melihat ekspresi istrinya dari kaca langsung menghentikan taxi tersebut
"ada yang kamu inginkan dek". tanya Ghazali
"buah apel, buah naga, stroberi dan anggur itu seperti segar". Jawab Shazia
"tunggu di sini mas belikan dulu". ucap Ghazali lalu turun dari taxi
Ghazali membelikan buah yang di inginkan istrinya dan Ghazali juga membeli beberapa buah lagi yang tidak di sebutkan oleh istrinya. setelah membeli buahnya mereka melanjutkan perjalanan menuju pesantren. sesampainya di pesantren Ghazali menuntut istrinya masuk ke dalam rumah
"tunggu di cuci dulu". ucap Ghazali memegang tangan
Ghazali mengambil buah stroberi lalu mencucinya dan meletakan di depannya istrinya.
"ma ayam rica-rica tadi mama beli atau bikin sendiri". tanya Shazia
"mama masak sendiri nak, kamu ingin makan lagi". tanya Khadijah
"tidak ma". jawab Shazia
"mas ayam rica rica jangan di makan ya , itu untuk aku , mas makan yang lain ya ya". ucap Shazia
Ghazali yang melihat sifat manjanya Shazia hanya tersenyum dan menurut Ghazali itu sangat menggemaskan
"iya sayang, mas akan makan yang lain, itu ayam rica rica nya untuk kamu semua". jawab Ghazali
"Ghazali Shazia, mama ke Ndalem dulu tadi Aisyah minta bantuan mama soalnya". ucap Khadijah
"iya ma". jawab mereka berdua
"assalamualaikum". ucap Khadijah
"waalaikumussalam ma". jawab mereka berdua
Shazia mengambil piring yang ada di depan Ghazali lalu mengambilkan nasi , lalu sambal, sayur kangkung dan telur kemudian di letakkan di depan suaminya
ya sejak tadi mereka berdua duduk di ruang makan
"mas bisa ambil sendiri padahal, terima kasih". ucap Ghazali
"nanti kalau ambil sendiri mas ambil ayam rica rica nya". jawab Shazia lalu memasukkan buah stroberi ke dalam mulut
"jadi kamu mengambilkan makan mas karena takut ayam rica rica nya mas makan buka karena perhatian dengan mas". tanya Ghazali dan dengan entengnya Shazia menganggukkan kepalanya
Ghazali menarik nafasnya lalu membaca do'a dan langsung menguapkan nasi ke dalam mulutnya
"ternyata khawatir dengan ayam rica rica, awas kamu ayam rica rica gara gara kamu istriku lebih peduli padamu ". ucap Ghazali dalam hati
__ADS_1