Mafia Girls Vs Ustadz Tampan

Mafia Girls Vs Ustadz Tampan
Jiwa Yang Terpendam


__ADS_3

Shazia langsung mengalihkan tatapannya. setelah membersihkan wajah Shazia, Ghazali memakai kembali sorbannya. Ghazali langsung menggenggam tangan Shazia dan mengajaknya ke bianglala


"kenapa suka sekali menggengam tangan ku tiba tiba seperti sudah biasa melakukan ini, atau selama ini hanya pura pura saja sok alim". ucap Shazia Dalam hati


sesampainya di depan bianglala Ghazali menyuruh Shazia masuk terlebih dahulu. setelah mereka berdua masuk bianglala mulia berputar. Shazia melihat ke sekeliling dan ini untuk pertama kalinya dia naik seperti ini karena sejak kecil ayah melarangnya untuk bermain apalagi melihat lihat dunia luar, sejak kecil ayahnya selalu mengajak berlatih menembak, silat ataupun ikut ayahnya yang sedang menjalankan tugas dan Lucas tidak membiarkan Shazia dan Derrel melihat dunia selain dunia luar. saat bianglala itu berhenti di atas Shazia dapat melihat pemandangan yang ada di bawah


"jadi ini kesenangan yang dulu waktu kecil aku dengar dari anak anak yang seusia ku". ucap Shazia dalam hati


dulu waktu kecil saat dia menunggu ayahnya di dalam mobil dia mendengar anak anak yang sedang membicarakan keseruan dari sebuah permainan dan itu membuat hati kecil ingin mengikuti anak anak itu tapi sebelum melangkah jauh ayahnya sudah menariknya untuk kembali ke dalam mobil. sejak kecil Shazia sendiri tidak pernah memiliki teman karena tempat tinggal jauh dari perumahan dan kendaraan lain tidak boleh memasuki kawasan disekitar rumahnya.


sudut bibirnya sedikit membentuk senyuman dan Ghazali memperhatikan Shazia yang sedikit tersenyum. setelah menaiki bianglala dan Ghazali mengajak Shazia untuk main lempar bola yang harus merobohkan semua kaleng, Shazia merasa gemas saat melihat ustadz Ghazali melempar bola tidak mengenai sasarannya dan Shazia langsung merebut bola terakhir yang ada di tangan Ghazali


bruk


lemparkan Shazia meruntuhkan semua kaleng yang ada di sana. pemilik permainan memberikan boneka pada Shazia


"ambilah itu hadiah karena kamu bisa merobohkan semua kaleng dalam satu lemparan". ucap ustadz Ghazali dan Shazia mengambil boneka tersebut


Ghazali mengajak Shazia untuk bermain permainan yang ada di sana dan itu membangkitkan jiwa Shazia yang tidak pernah bersenang senang tapi Shazia berusaha menutupi dengan bersikap dingin agar ustadz Ghazali tidak mengetahui bahwa dia senang tapi Ghazali dapat melihat binar bahagia di mata Shazia


Shazia tersentak saat Ghazali memeluk pinggangnya


"lepas". ucap Shazia tapi Ghazali malah semakin mengeratkan pelukannya sehingga membuat mereka berdempetan


apa yang di lakukan Ghazali membuat beberapa pemuda yang menatap Shazia merasa kecewa.


"sudah hampir siang sebaiknya kita pulang". ucap ustadz Ghazali

__ADS_1


Ghazali langsung membawa Shazia ke arah motor mereka terparkir dengan malas Shazia menaiki motor tersebut. saat motor itu melaju Shazia masih memperhatikan pameran tersebut


"besok masih bisa datang lagi". ucap ustadz Ghazali


"siapa juga yang mau datang lagi, seperti anak kecil ". ucap Shazia


sesampainya di rumah Shazia langsung masuk ke kamar dan melepas hijab dan gamisnya karena merasa gerah apalagi jika dan gamis yang di pakai sangat besar. Ghazali yang baru masuk ke dalam kamar terkejut melihat Shazia yang hanya memakai tangktop dan celana pendek. Ghazali langsung berlari ke arah jendela dan menutup apalagi jendelanya tidak ada kacanya dan bisa terlihat dari luar dengan jelas


"kenapa di tutup , panas tau ". ucap Shazia


"kamu tidak malu orang lain melihat tubuh mu yang mengunakan pakaian seperti itu ". ucap ustadz Ghazali


"kenapa harus malu, aku kan pakai baju ". ucap Shazia


"juga orang lain melihat mu seperti ini maka itu akan menimbulkan dosa dan yang kamu lakukan sekarang adalah menunjukkan aurat mu karena sebaik baiknya perempuan harus menutup aurat ". ucap ustadz Ghazali


"kamu saja melihat ku kenapa orang lain tidak boleh lagi juga ini masih pakai baju ". ucap Shazia dan berusaha membuka jendela tapi ustadz Ghazali langsung menarik menjauh dari jendela


"jangan mengatur ku ". bentak ucap Shazia


"aku suamimu dan aku berhak mengatur apalagi kamu melakukan hal yang salah ". Ucap ustadz Ghazali


ustadz Ghazali menghidupkan kipas yang ada di kamar itu


"kipas sudah hidup tidak perlu membuka jendela ". ucap ustadz Ghazali


"sebentar lagi adzan dhuhur aku mau ke masjid dulu dan ingat jangan buka jendela ataupun keluar memakai pakaian seperti ini". ucap ustadz Ghazali dan mengulurkan tangannya

__ADS_1


"apa". ucap ketus Shazia


Ghazali yang tidak mendapatkan reparasi dari Shazia langsung mencium dahinya lalu mengecup singkat bibir Shazia dan itu membuat Shazia diam mematung lalu memegang bibirnya.


"assalamualaikum ". ucap ustadz Ghazali dan keluar dari kamar


"kenapa aku berdebar seperti ini padahal bukan pertama kalinya aku berciuman seperti itu dulu aku sering melakukan bersama Marvin". ucap Shazia sambil memegang dadanya yang berdetak sangat kencang


ya saat pacaran dengan Marvin, Shazia sering melakukan kontak fisik seperti bergandengan tangan, pelukan dan ciuman, hanya sebatas itu dan tidak lebih karena Shazia masih tau sebuah kehormatan yang harus dia pertahankan dan hanya untuk suaminya.


Shazia secara perlahan duduk di ranjang dan Shazia masih bisa merasakan ciuman yang di berikan ustadz Ghazali


"awas saja aku penggal kepala jika masih berani mencium ku karena hanya Marvin yang boleh melakukan itu". ucap Shazia


"Marvin aku harap kamu tidak marah, kamu tenang saja aku akan membuatnya menceraikan ku tapi untuk saat ini aku harus bertahan dalam pernikahan ini untuk menyelesaikan tugasku karena aku yakin Abah sudah tau siapa diriku". ucap Shazia sendirian


Shazia langsung mengusap dahi dan bibirnya yang di cium oleh ustadz Ghazali. Shazia merebahkan dirinya di ranjang dan Shazia menghembuskan nafasnya dengan kasar saat dia tidak membawa ponselnya, Shazia yakin jika ayahnya masih sudah menghubungi berkali kali


"seperti setelah pulang dari sini aku harus bersiap siap menerima hukuman dari ayah". ucap Shazia


sedangkan di pesantren Marvin merasa kesal ketika dia tidak mendapatkan informasi desa tempat ustadz Ghazali tinggal karena seperti ada yang menyembunyikan alamat tersebut. padahal Marvin sudah datang ke dewan pengurus tapi tidak ada satupun yang mau memberitahunya dan jawaban yang di berikan adalah tidak bisa sembarang memberikan alamat tempat tinggal pengajar yang ada di pesantren tersebut.


Marvin semakin kesal ketika anak buahnya juga tidak bisa menemukan alamat ustadz Ghazali dan yang di temukan hanya tentang pendidikan ustadz Ghazali saja.


"Shazia aku mohon jangan serahkan dirimu pada ustadz itu tapi aku yakin kamu tidak akan menyerahkan padanya karena kamu sangat mencintai ku". ucap Marvin


💙💙💙💙

__ADS_1


Hay Hay aku menemukan lagi nih novel yang sangat memukau dan bakalan seru untuk menemani waktu istirahat kalian, yuk manfaatkan waktu istirahatnya untuk membaca novel berjudul "Istriku, Penutup Aibku" karya "Haryani"



__ADS_2