Mafia Girls Vs Ustadz Tampan

Mafia Girls Vs Ustadz Tampan
Persiapkan Harlah Pesantren


__ADS_3

Dua Minggu lagi harlah pesantren akan di laksanakan dan semuanya santri, ustadz dan ustadzah sedang sibuk mempersiapkan acara tersebut. Shazia sendiri mulai ngeluh saat belajar mengaji. Shazia menutup Al-Qur'an nya


"kenapa di tutup". tanya Ghazali pada istrinya


"capek dan susah karena sejak di salahkan terus sama ustadz". jawab Shazia dengan kesal


"bukan salah sayang hanya bacaan belum tepat panjang pendeknya dan untuk huruf Hijaiyah sudah benar bacaan tinggal memperbaiki panjang pendeknya saja". ucap Ghazali


"ayo belajar lagi". sambung Ghazali dan membuka Al-Qur'an


"sudah capek". ucap Shazia dan naik ke atas ranjang dan menenggelamkan wajahnya di bantal


tok


tok


"assalamualaikum ustadz". ucap seseorang


Ghazali menutup Al-Qur'annya dan berjalan keluar kamar lalu membuka pintunya


"wassalamu'alaikum ". jawab Ghazali


"maaf ustadz jika menganggu waktunya, ustadz di suruh asrama putra untuk membantu santri putra yang akan bermain drama di harlah pesantren nanti" ucap Santriwan


"iya saya akan kesana ". ucap Ghazali


"baiklah ustadz saya permisi dulu, assalamualaikum ". ucap Santriwan


"wassalamu'alaikum ". jawab Ghazali


Ghazali menghampiri istrinya yang sedang berada di ranjang lalu mengusap kepalanya


"sayang mas harus ke asrama putra untuk mengajari santriwan latihan drama, kamu di rumah saja dan jangan kemana mana ya". ucap ustadz Ghazali


"sama ustadzah Dila juga". tanya Shazia dan membalikkan badannya


"tidak, ustadzah Dila mengajari santriwati ". jawab Ghazali sambil tersenyum


"pergilah". jawab Shazia


"ingat jangan kemana kemana tetap di rumah dan jangan membawa masuk tamu laki laki". ucap Ghazali


"iya iya". jawab Shazia


"mas pergi dulu assalamualaikum". ucap Ghazali dan mencium kening istrinya

__ADS_1


"wassalamu'alaikum". jawab Shazia


Shazia menatap langit langit kamarnya sambil memainkan jari jari setelah Ghazali pergi. Shazia turun dari ranjang lalu memakai hijabnya dan berjalan menuju halaman belakang. Shazia duduk di bangku kayu dan menatap sayuran yang sudah tumbuh


"sebenarnya kemana orang itu pindah kenapa tetangga tidak ada yang tau". ucap Shazia


"aku harus mencari kemana lagi, sebaiknya aku menemui ayah setelah mendapatkan benda itu agar aku tidak mendapatkan hukuman jika aku menemui dengan tangan kosong sudah di pastikan aku mendapatkan hukuman yang lebih berat apalagi aku sudah menikah sekarang ". sambung Shazia lalu memetik tomat yang ada di sampingnya dan memakannya


Shazia memejamkan matanya dan menyadarkan kepalanya pada kursi, Shazia tersenyum lalu membuka matanya dan entah apa yang membuat Shazia tersenyum.


sedangkan di asrama putra ustadz Ghazali memperhatikan santri yang sedang latihan drama


"berhenti dulu". ucap ustadz Ghazali


"jika ingin penampilan kalian bagus, kalian harus bisa menjiwai peran kalian jangan asal menghafal teks dan buatlah drama ini mengalir seperti suasana dalam naskah itu ". ucap ustadz Ghazali


"ini di sini sudah di jelaskan bagaimana karakter setiap tokoh jadilah kalian seperti harus bisa seperti mereka agar drama ini seperti nyata dan agar apa yang ingin kalian sampaikan itu sampai kepada penonton ". sambung ustadz Ghazali


"coba di ulang lagi ". ucap ustadz Ghazali


"baik ustadz ". jawab santri


ustadz Ghazali tidak hanya memberitahu mereka lewat mulut tapi ustadz Ghazali juga memperhatikannya agar para santri lebih mudah untuk memahaminya


para santri sangat kagum dengan ustadz Ghazali yang bisa di segala bidang. setelah selesai membacanya ustadz Ghazali memerintahkan Heri untuk membaca puisi.


"sudah bagus tinggal mematangkannya saja". ucap ustadz Ghazali


jeduar


jeduar


jeduar


ustadz Ghazali langsung keluar saat mendengar suara petir dan benar saja di luar sudah hujan yang di sertai petir. Ghazali yang ingat bahwa istrinya takut dengan hujan Petir langsung berlari tanpa peduli bahwa hujan sedang lebat. asrama putra ke rumahnya cukup jauh. Marvin yang juga sedang berlari menuju rumah yang Shazia tempati dan terdapat kekhawatiran di wajah Marvin


"Zia aku datang jangan takut". ucap Marvin


Marvin tersenyum saat sebentar lagi sampai di rumah Shazia tapi kemudian langkah terhenti saat melihat ustadz Ghazali yang lebih dulu sampai rumah.


Ghazali langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamar tetapi istrinya tidak ada


"sayang kamu di mana". ucap ustadz Ghazali lalu melihat pintu belakang yang terbuka


Ghazali langsung berjalan menuju halaman belakang dan Ghazali melihat istrinya yang meringkuk di samping kursi bahkan keadaan sudah basah kuyup

__ADS_1


"hiks hiks buka gelap". racau Shazia


"jangan tinggalkan aku di sini hiks buka gelap, sesak hiks".


"sayang hey. ucap ustadz Ghazali


"tenang aku disini". bisik ustadz Ghazali


"aku takut". ucap Shazia dan mencengkram lengan Ghazali dengan erat


"jangan takut ada aku di sini, sekarang ayo masuk". ucap Ghazali


"jangan tinggalkan aku hiks".


Ghazali memilih untuk mengedong istrinya karena tidak ada pergerakan, sesampainya di kamar Ghazali menurunkan istrinya di kursi. Ghazali mengambil handuk lalu melepaskan hijab istrinya lalu mengering rambutnya


"ganti baju dulu ya nanti sakit". ucap ustadz Ghazali tapi tidak ada respon dari istrinya


Shazia memang sudah tidak menangis tetapi tubuhnya masih bergetar bahkan pandangan kosong. Ghazali mengambil pakaian istrinya di lemari lalu melepaskan pakaian yang istrinya gunakan satu persatu dan setelah itu Ghazali juga mengganti pakaian sendiri.


Ghazali mengedong istrinya lalu menurun di ranjang


"jangan pergi". ucap Shazia dan memegang pergelangan tangan Ghazali ketika Ghazali turun dari ranjang


"mas hanya ingin membuat air hangat untuk mu". ucap Ghazali tapi Shazia mengelengkan kepalanya


jeduar


"aaaaa". teriak Shazia sambil menutup telinga


Ghazali langsung memeluk istrinya dengan erat dan membaca sholawat agar istrinya bisa tenang


Ghazali mengusap punggung istrinya sedangkan Ghazali mencengangkan baju Ghazali dengan erat.


"mas boleh tau kenapa kamu bisa takut dengan hujan Petir, mungkin dengan cerita dengan mas kamu akan merasa lega dan mas bisa membantu mu untuk menghilangkan ketakutan mu". tanya ustadz Ghazali saat istrinya merasa tenang


Ghazali merapikan rambut Shazia yang menutup wajahnya, Shazia menatap suaminya dengan intens


"dengan kamu cerita mas bisa cari solusinya dan jangan malu, mas suamimu akan melakukan apapun agar ketakutan mu bisa hilang hmmm". ucap Ghazali dan mengusap pipi istrinya


"pada hari itu....." ucap Shazia


💙💙💙💙


jeng jeng hayo apa yang kira kira yang membuat Shazia takut hujan petir ?

__ADS_1


__ADS_2