
malam harinya Liona bersiap siap untuk manjat pagar yang dekat dengan kamar mandi.
"sepertinya aman, apalagi ini sudah tengah malam". ucap Liona sambil melihat ke kanan dan ke kiri
"yes aman". ucap Liona dan memanjatkan pagar itu
tiba tiba Liona menghentikan gerakannya saat ada tangan yang memegang kakinya. Liona secara perlahan menatap ke arah bawah dan Liona langsung melebarkan matanya saat melihat ustadz Ghazali yang sedang memegangi kakinya
"turun". perintah Ustadz Ghazali dengan dingin
"haduh kenapa ini ustadz ada disini segala coba". umpat Shazia
bruk
"auw". ringis Shazia saat pantat mendarat di tanah
"bangun". ucap ustadz Ghazali
"mau apa kamu naik ke atas". tanya ustadz Ghazali
"ustadz ngapain sih ada disini bukan tidur". ucap Shazia
"saya bertanya jadi Jangan balik bertanya". ucap ustadz Ghazali
"saya mau keluar ada urusan". jawab Shazia
"urusan apa malam malam seperti ini". tanya ustadz Ghazali
"saya ingin makan bakso kalau lewat pintu depan tidak akan di izinkan ". bohong Shazia
"ikut saya". perintah Ustadz Ghazali
dengan langkah malas Shazia mengikuti ustadz Ghazali dari belakang dan berhenti di seberang sumur
"mau ngapain ustadz Ghazali mengajak ku sini, apa dia berusaha untuk membunuh saya" monolog Shazia dalam hati
"kamu lihat bak itu kosong jadi sebagai hukumannya agar kamu kerah isi bak itu dengan cara menimba ". ucap ustadz Ghazali
"ustadz yang benar saja, Jangan bercanda itu bak gede ustadz, yang ada tangan saya bisa putus kalau seperti itu ". ucap Shazia dan menatap ustadz Ghazali dengan tajam
"lakukan atau hukuman mu bertambah yaitu mengisi dua bak". ucap ustadz Ghazali
Shazia menelan salivanya dengan kasar saat melihat dua bak dengan ukuran yang besar.
"oke oke". ucap Shazia
__ADS_1
Shazia mendekati sumur dan mulai menimba lalu menuang airnya ke dalam bak. Shazia sudah mulai lelah dan tidak kuat untuk menimba lagi tapi isi baknya belum ada setengahnya
"awas saja aku balas perbuatan mu ini ustadz". umpat Shazia dalam hati
Shazia menghela nafasnya saat melihat jam tangannya yang sejak tadi terus berkedip dan Shazia tau itu pasti ayahnya yang menghubungi dirinya.
"aku harus cari cara agar hukuman ini berhenti dan aku bisa keluar untuk menemui ayah, tapi bagaimana caranya". ucap Shazia dalam hati dan menuangkan air ke dalam bak
"ustadz sudah ya, aku leleh lihat tanganku sudah memerah". ucap Shazia sambil memperlihatkan telapak tangannya yang memegang sudah memerah
Shazia yang tidak terbiasa menimba tentu saja lelah dan tangannya merah dan ustadz Ghazali memperhatikan telapak tangan Shazia yang memerah
"saya janji ustadz tidak akan mengulanginya lagi ". ucap Shazia
"sudah ya, please ustadz". ucap Shazia sambil memangkup kedua tangannya
ustadz Ghazali menarik nafasnya
"baiklah dan kembalilah ke kamar mu". ucap ustadz Ghazali
"assalamualaikum ustadz ". ucap Shazia
"besok jangan di ulangi lagi, waalaikumussalam ". ucap ustadz Ghazali
Shazia langsung berjalan dan mengumpat dalam hati saat melihat ustadz Ghazali mengikuti dirinya, mau tidak mau Shazia berjalan menuju asrama. setelah memastikan Shazia masuk ke dalam asramanya. ustadz Ghazali kembali ke kamarnya.
Shazia mengintip dari jendela dan memastikan bahwa ustadz Ghazali sudah pergi. Shazia melihat jamnya dan benar saja banyak pesan dari ayahnya. Shazia memperhatikan Dea dan kemala yang sudah tertidur lalu membuka pintunya dan berjalan menuju tempat yang tidak akan ketahuan jika dia memanjat tembok
"mau kemana kamu". ucap ustazah Dila
Shazia mengepalkan tangannya saat mendengar suara ustadz Dila
"ish kenapa juga ada ustadzah Dila
"mau ke kamar mandi ustadzah ". jawab Shazia.
"kamar mandi santriwati ada disana, kamu mau apa berjalan menuju bagian belakang asrama santriwati ". ucap Ustadzah Dila
"kembali ke kamar mu". perintah Ustadz Dila
Shazia dengan langkah gontai kembali ke kamarnya dan sampai di kamarnya Shazia langsung merebahkan dirinya di ranjang
"besok sajalah bertemu dengan ayah malam ini banyak rintangannya kalau mau keluar ". ucap Shazia dan menutup matanya
sedangkan di rumah Shazia
__ADS_1
"dimana anak itu ". udah Lucas
"benar benar sudah tidak bisa andalkan anak itu". ucap Lucas dan melempar ponselnya
"inilah kenapa aku tidak ingin anak perempuan jadi seperti ini jika di beri tugas asik dengan dunia apalagi tadi pagi bertemu dengan Marvin". ucap Lucas dan mengepalkan tangannya
"aku harus memberikan pelajaran yang berat sehingga membuat anak itu bisa menyelesaikan tugasnya". sambung Lucas
Lucas menyandarkan kepalanya di kursi dan menatap langit langit ruang kerjanya setelah itu Lucas menyambar kunci mobilnya
"sayang kamu mau kemana". tanya Lora
"aku mau keluar sebentar". ucap Lucas dan meninggalkan istrinya yang masih di depan pintu kamar
Lora menatap mobil suaminya yang pergi meninggalkan rumah, Lucas mengendarai mobil menuju ke suatu tempat. sesampainya disana lucas langsung turun
bugh
Marvin terkejut saat ayahnya Shazia memukulnya dengan tiba tiba
"kenapa kamu menemui Zia". tanya Lucas
"maaf om aku hanya ingin berbicara dengannya sebentar karena hampir lima bulan aku tidak bertemu dengannya". jawab Marvin sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah
"jangan temui Zia lagi saya tidak ingin dia tidak bisa menyelesaikan tugas, kamu dengan itu". ucap Lucas
"om aku bisa bantu Zia untuk menyelesaikan tugas tapi setelah itu izinkan aku menikah dengan Zia". ucap Marvin
"tidak akan ada yang akan menikah dengan Zia karena hidupnya akan berada di mafia dan tidak ada waktu untuknya bersenang senang". ucap Lucas
"kenapa om tidak memperbolehkan dia menikah". tanya Lucas
"itu bukan urusan mu, jika kamu masih mau hidup tinggal Zia". ucap Lucas dan meninggalkan Marvin
Marvin menatap punggung ayahnya Zia yang mulai menjauh
"tanpa restumu aku akan tetap menikahi Zia, ada orang tua yang tidak ingin anaknya menikah". ucap Marvin dengan sinis
Marvin mengambil kotak obat dan mengobati sudut bibirnya yang terasa perih.
Marvin mengambil bingkai foto yang ada gambar dirinya dan juga Shazia. di dalam foto itu mereka tampak bahagia.
"Zia aku harap kamu mau menikah dengan ku walaupun tanpa restu ayahmu". ucap Marvin dan mengusap bingkai foto itu
Lucas mengendarai mobilnya menuju markas besar Black . Saat sampai sana Lucas terseyum saat melihat ada lima orang yang terbaring
__ADS_1
"segera ambil organ dalam mereka". perintah Lucas
dokter yang bekerja dengan Lucas langsung mengambil organ dalam orang orang itu. Lucas tersenyum puas saat melihat orang dalam yang masih sehat dan pasti dia akan mendapatkan keuntungan yang besar