
Shazia sejak tadi hanya guling guling di ranjang, Shazia merasa bosan lalu duduk. Shazia berjalan menuju pintu dan saat membuka pintu langsung berhadapan dengan ustadz Ghazali ustadz Ghazali langsung mendorong Shazia masuk karena hanya memakai pakaian minim
"mau kemana". tanya ustadz Ghazali
"mau ke dapur". jawab Shazia
"kenapa hanya pakai pakaian seperti ini". tanya ustadz Ghazali
"ya tidak apa apa lagian panas tadi juga ustadz bilang jika di luar aku boleh pakai pakaian seperti dan berhubung ini masih di dalam rumah jadi boleh kan". jawab Shazia
"bukan seperti itu Shazia, walaupun di rumah kalau keluar kamar harus pakai pakaian tertutup karena di rumah bukan hanya ada aku atau kamu, jika hanya di kamar kamu pakai seperti ini tidak masalah karena hanya saya yang lihat itu halal kalau orang lain tidak boleh ". ucap ustadz Ghazali
ustadz Ghazali langsung mengunci pintunya saat melihat pergerakan Shazia yang akan keluar dan memasukan kunci ke dalam sakunya
"kenapa ustadz mengatur hidupku bahkan orang tua ku tidak pernah mengaturku aku mau pakaian seperti apa". ucap Shazia
"bahas orang tua berarti ingatan mu sudah kembali hmmm". ucap ustadz Ghazali
Shazia melebarkan matanya saat menyadari telah salah bicara
"aku tidak akan bertanya apa tujuan mu melakukan ini tapi aku akan membuat kamu melupakan tujuan mu jika tujuan mu itu salah, aku sudah curiga dengan mu sejak masuk dan kamu sama sekali tidak tau tentang agama, tapi aku akan membimbing mu hingga kamu tau mana yang baik mana yang tidak ". ucap ustadz Ghazali
ustadz Ghazali menarik pergelangan tangan Shazia dan membawanya duduk di sofa yang ada di kamar itu. ustadz Ghazali memberikan kantong plastik pada Shazia dan Shazia mengambil kantong plastik itu, betapa terkejutnya Shazia saat kantong plastik itu berisi pembalut
"ustadz membeli ini ". tanya Shazia
"iya , aku tau kamu tidak membawa pembalut kemari". jawab ustadz Ghazali dan membuka kantong plastik yang satunya
"apa ustadz tidak malu membeli barang ini ". tanya Shazia Katena Shazia sendiri kadang masih malu jika membeli pembalut apalagi jika kasirnya laki laki
"kenapa harus malu, aku membelinya untuk istriku ". jawab ustadz Ghazali
__ADS_1
ustadz Ghazali meletakan kontak makanan yang berisi pisang coklat topinya greentea ke hadapan Shazia
"makanlah". ucap ustadz Ghazali
Shazia yang pencinta greentea mengambil pisang tersebut dan memakannya karena memang dia sedang lapar. ustadz Ghazali melepas pecinya dan membuka dua kancing atas bajunya. ustadz Ghazali memandangi Shazia yang sedang makan dengan lahap. tangan ustadz Ghazali terulur untuk mengusap topping greentea yang ada di sudut bibir Shazia dan itu membuat Shazia menghentikan makannya , tapi kemudian Shazia menepis tangan ustadz Ghazali Karena Shazia berusaha menepis perhatian yang ustadz Ghazali berikan agar hatinya tidak luluh, Shazia tidak ingin tujuannya datang ke pesantren berantakan karena dia terlena dengan perhatian ustadz Ghazali
"pelan pelan tidak akan ada yang memintanya". ucap ustadz Ghazali
"ustadz ada ponsel". tanya Shazia
"ada". jawab ustadz Ghazali
"pinjam ". ucap Shazia
"disini tidak ada sinyal, kamu tidak akan bisa menghubungi siapapun ". ucap Ustadz Ghazali dan Shazia menatap tidak percaya
ustadz Ghazali memberikan ponselnya pada Shazia dan Shazia langsung mengambil ponsel tersebut karena memang tidak ada sinyal. ustadz Ghazali terseyum bukan bermaksud untuk berbohong pada Shazia, ustadz Ghazali sebenarnya sudah mengganti kartu yang tidak ada sinyal jika masuk ke desanya. ustadz Ghazali melakukan itu agar Shazia tidak menghubungi keluarganya dan tinggal disini selama satu bulan adalah rencana ustadz Ghazali untuk mengambil hati Shazia dan merubah istrinya itu. ustadz Ghazali melihat bahwa ada sisi baik dalam istrinya.
"pakailah gamis dan hijab mu, aku ingin membawa mu ke suatu tempat". ucap ustadz Ghazali
"malas". ucap Shazia dan menyandarkan kepalanya di sofa
"di dekat belakang rumah ini ada air terjun kamu tidak mau kesana hmm". ucap ustadz Ghazali
Shazia masih tidak bergeming tapi telinganya menangkap suara gemericik air
"pemandangannya sangat indah dan disana sejak, aku yakin kamu tidak akan merasa gerah ". ucap ustadz Ghazali
"awas ya jika sampai pemandangannya tidak indah, aku penggal kepala mu". ancaman Shazia
"silahkan ". ucap ustadz Ghazali
__ADS_1
Shazia langsung memakai gamis dan hijab yang di lempar tadi. lalu mereka berdua keluar rumah dan menuju belakang rumah. berjalan beberapa meter akhirnya mereka berdua sampai di air terjun tapi akses untuk turun ke bawah cukup terjal dan licin. ustadz Ghazali mengandeng tangan Shazia bahkan Shazia melingkarkan tangannya di lengan ustadz Ghazali ketika dia beberapa kali akan jatuh.
"aaa". teriak Shazia
ustadz Ghazali langsung melingkarkan tangannya di pinggang Shazia ketika istrinya akan jatuh, jika Ghazali telat sedikit saja kepala Shazia sudah terbentuk di bebatuan. Shazia melingkarkan tangannya di leher ustadz Ghazali sehingga membuat Shazia bisa mencium aroma mint dari ustadz Ghazali. Shazia yang masih betah dalam posisi itu menghirup dalam aroma mint tersebut
"masih mau seperti ini". ucap ustadz Ghazali dan Shazia langsung membuka matanya dan melepaskan tangannya
tapi Shazia langsung mengertakan pegangan pada lengan ustadz Ghazali dan melanjutkan untuk turun. Shazia bernafas lega saat sudah sampai di bawah.
"benar ternyata pemandangan disini sangat indah, sayang tidak membawa ponsel jadi tidak bisa mengabdi moment ini". ucap Shazia dalam hati
ustadz Ghazali menarik pinggang Shazia lalu mengeluarkan ponselnya untuk foto berdua.
"ish lepas jangan suka pegang pegang". tolak Shazia dan melepaskan tangan ustadz lalu menjauh dari ustadz Ghazali
ustadz Ghazali mengambil beberapa gambar Shazia yang sedang menikmati keindahan air terjun
lagi lagi Shazia harus terkejut saat Ghazali mengandengnya dan membawanya berjalan menuju ke air terkejut tapi lebih tepatnya ustadz Ghazali mengajak Shazia untuk menghampiri baru besar yang berada di bawah air terjun. Shazia sedikit kesusahan saat berjalan di air saat menggunakan gamis. sesampainya di depan batu ustadz Ghazali mengangkat Shazia dan mendudukkan Shazia disana lalu di susul oleh ustadz Ghazali. di bebatuan itu tanpa persetujuan Shazia ustadz Ghazali mengajak berfoto bahkan di salah satu foto itu ustadz Ghazali mencium pipi Shazia
"ayolah Shazia jangan baper karena dia melakukan ini untuk membongkar identitas mu". monolog Shazia dalam hati sambil memegangi dadanya yang berdetak dua kali lipat
Shazia menganggap apa yang di lakukan ustadz Ghazali adalah untuk membongkar identitasnya. ustadz Ghazali yang melihat Shazia hanya dia diam menarik pipi istrinya
"sudah aku bilang jangan memegangi ku". bentak Shazia dan menepis tangan ustadz Ghazali sedangkan ustadz Ghazali hanya terkekeh
💙💙💙💙
hello semuanya aku menemukan lagi novel yang sangat memukau yang wajib di baca, karya dari "Lusiana Anwar" dengan judul "Penyesalan Suami: Pecah Seribu ",cuss langsung di baca
__ADS_1