
Ghazali yang baru saja membuka pintu kamarnya melihat istrinya dalam keadaan menenggelamkan wajahnya di bantal. Ghazali menghampiri istrinya dan mengusap puncak kepala istrinya yang masih tertutup hijab.
"boleh cerita kenapa kamu takut dengan hujan yang di sertai petir, mungkin dengan cerita kamu akan merasa lebih baik dan tenang". ucap Ghazali
"kapan pulang ke pesantren". tanya Shazia bukan menjawab pertanyaan suaminya
bukan tanpa alasan Shazia menanyakan itu karena Shazia ingin segera menemui ayahnya agar tidak mendapatkan hukuman yang tidak bisa Shazia bayangkan
"tiga minggu lagi". jawab Ghazali
"bisakah pulang besok saja". ucap Shazia
"tiga minggu lagi ya itu tidak lama". ucap Ghazali sambil mengusap pundak Shazia
rintik hujan turun lagi dan Shazia yang mendengar suara hujan badannya mulai bergetar lagi apalagi mulai terdengar suara petir. Ghazali yang melihat itu langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua dan langsung memeluk istrinya dan membacakan sholawat. sepuluh menit Ghazali membaca sholawat akhirnya terdengar dengkuran halus dan dilihat Shazia yang sudah tertidur lelap
"ternyata memiliki sisi rapuh juga dan entah apa yang membuatmu begitu takut". ucap Ghazali dalam hati lalu mencium kening istrinya
setelah memastikan Shazia benar benar tertidur secara perlahan Ghazali turun dari ranjang dan keluar dari kamar
"Ghazali ada yang ingin mama bicarakan". ucap Khadijah
"mama ingin bicara apa". tanya Ghazali
Khadijah membawa putranya untuk duduk di sofa
"tadi mama bertemu dengan nenek Zulfa dan nenek Zulfa meminta mama untuk membujukmu agar mau menikahi Zulfa dan Zulfa bersedia menjadi istri kedua mu". ucap Khadijah
"Ghazali hanya ingin menikah satu kali ma dan istri Ghazali hanya Shazia, Soal ini Zulfa juga sudah mengatakan padaku dan aku sudah menolaknya ". ucap Ghazali dan Khadijah tersenyum
"mama harap kamu tidak akan melakukan poligami, mama harap ketika ada perempuan yang datang padamu dan mengatakan secara gamblang ingin menjadi istri kedua mu, kamu harus jawab pada saat itu juga dengan tegas bahwa kamu tidak ingin melakukan poligami agar perempatan itu tidak berharap padamu". ucap Khadijah
"mama tenang saja karena Ghazali hanya ingin seperti ayah yang cintanya hanya untuk mama dan begitu pula aku ma". jawab ustadz Ghazali
"ma Ghazali ke kamar dulu ya". ucap Ghazali saat mendengar suara petir menggelegar
"iya". jawab Khadijah
sesampainya di kamar Ghazali tersenyum lega saat melihat Shazia yang masih tertidur pulas. Ghazali berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian. Ghazali mengganti bajunya dengan kaos lalu menyusul istrinya untuk tidur karena masih ada waktu satu jam sebelum ashar
__ADS_1
"eugh". lenguh Shazia dan membuka matanya
saat menoleh kesamping Shazia melihat Ghazali yang juga tertidur
Allahu Akbar
Allahu Akbar
"ustadz". panggil Shazia saat mendengar suara adzan
"ustadz bangun". ucap Shazia sambil menepuk pipi ustadz Ghazali
"ustadz bangun sudah adzan". ucap Shazia
"hmmm". guman ustadz Ghazali dan memang tangan Shazia yang menepuk pipinya
"ustadz bangun sudah adzan, ustadz tidak ingin sholat ashar". ucap Shazia
secara perlahan Ghazali membuka matanya dan saat itu adzan sudah berhenti. ustadz Ghazali mencium punggung tangan Shazia yang masih dia pegang dan Shazia langsung menariknya
cup
setelah melakukan itu ustadz Ghazali keluar untuk mengambil wudhu sedangkan Shazia memegang pipinya yang di ciuman ustadz Ghazali
"kenapa dia suka sekali mencium ku". ucap Shazia
Shazia turun dari ranjang dan mengambil handuk serta pakaian ganti, Shazia ingin mandi wajib karena haidnya sudah selesai
"mua mandi". tanya Ghazali yang baru masuk ke kamar dan Shazia menganggukkan kepalanya
"mandi wajib juga". tanya ustadz Ghazali karena ustadz ataupun yakin bahwa isterinya sudah selesai haid dan lagi lagi Shazia hanya menanggukan kepalanya
"tau caranya". tanya Ghazali
"yang seperti mandi biasa Dan keramas kan". jawab Shazia
Ghazali sudah menduga bahwa istrinya tidak tau tata cara mandi wajib. Ghazali berjalan menuju nakas dan mengambil kertas yang sudah dia siapkan lalu memberikan kertas itu pada Shazia
"apa ini ". tanya Shazia
__ADS_1
"itu tata cara mandi wajib setelah Haid". jawab ustadz
"kenapa harus pakai tata cara mandi seperti biasa saja dan selesai ". jawab Shazia
"mandi wajib itu ada tata caranya Shazia di sini situ sudah aku tulis dan jika kamu tidak bisa membaca arabnya aku sudah menulis bahasa Inggris ". ucap ustadz Ghazali
"aku tidak perlu ini". ucap Shazia
"baca tata cara itu atau aku yang mandikan untuk mengajarkan mu secara langsung ". ucap ustadz Ghazali
Shazia melebarkan matanya saat mendengar perkataan ustadz Ghazali.
"tidak perlu aku pakai ini saja". ucap Shazia
Shazia akan merasa malu saat ustadz Ghazali melihat dia mandi dengan keadaan polos. setalah mengatakan itu Shazia langsung meninggalkan kamar. sesampainya di kamar mandi Shazia membaca tulisan itu dan mengikutinya
"ternyata ada caranya, aku pikir sama saja". ucap Shazia lalu mengusap rambutnya yang basah
setelah memastikan rambutnya kering Shazia memakai bajunya dan juga hijabnya lalu kembali ke kamar. sesampainya di kamar Shazia melihat dua sajadah yang terbentang
"ayo sholat bareng". ucap ustadz Ghazali
"aku ambil wudhu dulu". ucap Shazia karena memang dia belum wudhu
Shazia keluar kamar dan menuju kamar mandi lagi
"salah itu cara wudhunya". ucap ustadz Ghazali yang berada di belakang Shazia
Ghazali memberitahu caranya dan Shazia mengikutinya. setelah selesai wudhu mereka berdua melakukan sholat berdua untuk pertama kalinya. Shazia mengikuti gerakan ustadz Ghazali.
setalah selesai sholat Ghazali membalikkan badannya dan mengulurkan tangannya sedangkan Shazia menatap tangan ustadz Ghazali
"apa". tanya Shazia
"Salim Shazia". ucap ustadz Ghazali
"memang harus ya". tanya Shazia dan Ghazali menganggukkan kepalanya
Shazia mengambil tangan Ghazali dan mencium punggung tangannya lalu Ghazali mengusap puncak kepala istrinya
__ADS_1