
Ghazali masuk kedalam kamar dan melihat Shazia yang sedang duduk di dekat jendela. Ghazali menjadi tau jika istrinya itu memiliki kebiasaan berada di dekat jendela. Shazia melihat kakaknya sedang berbicara dengan ustadzah Dila.
"apa yang sedang mereka bicarakan". ucap Shazia dalam hati
Shazia menoleh kebelakang saat ada seseorang yang memegang bahunya.
"ada apa". tanya Shazia dengan Ketus
"mas ingin mengajak mu ke toko baju". ucap ustadz Ghazali
"untuk apa". tanya Shazia
"mencari baju untuk mu". jawab ustadz Ghazali
"bajuku masih banyak". jawab Shazia yang masih fokus memperhatikan kakaknya dan ustadzah Dila
"mas ingin kamu pakai baju yang sesuai ajaran Islam sedangkan baju baju itu membentuk lekuk tubuh walaupun mengunakan hijab". ucap ustadz Ghazali
"tunggu dia ingin mengajak ku keluar, ah kesempatan untuk agar bisa menemui ayah". ucap Shazia dalam hati
"ayok". ucap Shazia
Ghazali mengeluarkan motornya dan setelah itu mereka berdua menuju toko baju. di sepanjang perjalanan Shazia memikirkan cara bagaimana bisa menjauh dari ustadz Ghazali. Ghazali menghentikan motonya di depan toko baju muslim. Ghazali mengandeng tangan Shazia untuk memasuki toko itu.
"ada yang bisa saya bantu ". ucap pegawai toko
"carikan setelan gamis untuk istrinya dan bahannya jangan yang panas ". jawab ustadz Ghazali
"mari mas mba ada di sebelah sini". ucap pegawai itu
"ini beberapa abaya yang memiliki bahan bagus dan tidak panas di pakai, silahkan di pilih ". ucap pegawai itu
Ghazali mengamati abaya abaya yang tergantung di etalase. Ghazali mengambil beberapa abaya yang berwarna gelap
"bungkus yang ini mba". ucap Ghazali
"tidak ingin di coba terlebih dahulu". tanya pegawai
"tidak perlu mba". jawab ustadz Ghazali
"tunggu sebentar saya bungkus terlebih dahulu". jawab pegawai itu lalu pergi untuk menyiapkan pesanan
"ustadz aku ingin ke kamar mandi". ucap Shazia
"ayo mas antar". ucap ustadz Ghazali
"tidak perlu aku bisa sendiri". jawab Shazia
"baiklah, toiletnya ada di sana". jawab ustadz Ghazali
Shazia berjalan menuju arah yang di tunjukan oleh Ghazali.
__ADS_1
"ini mas bajunya". ucap pegawai dan ustadz Ghazali mengambil baju itu lalu membayarnya
Shazia melihat ke belakang dan senyum mengembang ketika tidak melihat ustadz Ghazali.
"mba pintu belakang sebelah mana ya". tanya Shazia
"dari sini mba lurus saja". jawab pegawai
Shazia melangkahkan kakinya menuju pintu belakang. Shazia bernafas legal ketika bisa menjauh dari ustadz Ghazali
"ayo naik". ucap ustadz Ghazali yang sudah berada di depannya bersama motornya dan Shazia melebarkan matanya
"us ustadz kenapa bisa ada di sini, bukannya di dalam ". tanya Shazia
"karena kamu lama di kamar mandi jadi mas pikir kamu keluar dari pintu belakang dan benar ternyata kamu keluar dari pintu belakang ". jawab ustadz Ghazali
"ayo naik". sambung ustadz Ghazali
mau tidak mau Shazia naik dan Ghazali melajukan motornya secara perlahan. ketika Shazia izin ke toilet ustadz Ghazali membuka ponselnya untuk memperhatikan istrinya dan benar dugaan ustadz Ghazali bahwa istrinya berusaha kabur. ya toko yang mereka datangi adalah milik ustadz Ghazali yang ada di daerah tersebut . toko pakaian muslim miliknya memiliki lima cabang.
"kenapa dia bisa tau". ucap Shazia dalam hati
kemarin ketika dia mengambil barang barang miliknya ternyata jam dan ponsel yang dia sembunyikan hilang dan tidak bisa menghubungi ayahnya.
"kenapa jam dan ponsel ku bisa hilang ya padahal tidak ada satupun yang tau". ucap Shazia dalam hati
Ghazali menghentikan motonya di sebuah restoran. Ghazali akan mengajak istrinya makan siang terlebih dahulu baru pulang.
"ayo masuk jangan diam saja". ucap ustadz Ghazali
"emang ustadz punya uang makan di tempat mewah ini". tanya Shazia dan Ghazali tersenyum
"jika mas mengajak mu kemari berarti mas punya uang sayang". jawab ustadz Ghazali
"jangan panggil sayang sayang, awas saja jika tidak bisa bayar". ucap Shazia
"tenang saja jika tidak bisa bayar kamu mas jadikan jaminan ". jawab ustadz Ghazali
"enak saja siapa yang mengajak makan". jawab Shazia dengan Ketus
Ghazali membawa Shazia masuk ke dalam restoran tersebut ketika pelayan datang Shazia tersenyum lalu memesan makanan yang paling mahal dan itupun tidak hanya satu
"sayang kamu memesan banyak makanan apa akan habis ". tanya ustadz Ghazali
"jika tidak habis ustadz lah yang menghabiskan ". jawab Shazia
"aku ingin lihat apa dia bisa membayarnya". ucap Shazia dalam hati
pelayan datang dan meletakan makanan mereka. Ghazali berdiri dan keluar dari restoran
"makanan datang malah kabur, sudah kuduga tidak bisa bayar". Ucap Shazia
__ADS_1
"maaf sayang aku mengajak mereka untuk makan bersama, mas yakin kita tidak bisa menghabiskan makanan sebanyak ini , jadi dari pada mubazir mas ajak mereka". ucap ustadz Ghazali
Shazia memperhatikan beberapa anak anak yang berpakaian lusuh lalu menganggukkan kepalanya Karena dia sendiri juga tidak akan bisa menghabiskannya. Ghazali tersenyum saat melihat anak anak itu makan dengan lahap. diam diam Shazia memperhatikan ustadz Ghazali yang sedang tersenyum. Shazia salah tingkah ketikan ustadz Ghazali menatapnya sedangkan dirinya masih menatap ustadz Ghazali
uhuk
uhuk
Shazia menepuk nepuk dadanya ketika tersedak. Ghazali memberikan minum tetapi Shazia masih terbatuk juga. Ghazali berdiri mendekat ke istrinya lalu mengusap punggung istrinya dan juga membantu istrinya mengusap usap dadanya agar batuknya berhenti
uhuk
uhuk
"makan hati hati". ucap ustadz Ghazali sambil mengusap air mata Shazia yang keluar karena terbatuk
"minum lagi". ucap Shazia dan Shazia meminumnya
"udah mendingan". tanya ustadz Ghazali dan Shazia menanggukan kepalanya
Ghazali kembali duduk dan melanjutkan makannya. Shazia tercengang ketika Ghazali bisa membayar makanan bahkan Ghazali meminta lagi untuk di bungkus dan di kasihkan ke anak anak tersebut
"terima kasih om tante makanannya". ucap salah satu anak
"sama sama, ingat ya jangan sampai lupa kewajiban sebagai umat muslim". ucap ustadz Ghazali
"iya om, kami selalu ingat dan kami tidak pernah meninggalkan sholat" jawabannya
Shazia memperhatikan suaminya yang sedang berinteraksi dengan anak anak jalanan itu.
"Ayo kita pulang sebentar lagi dhuhur dan setelah dhuhur mas kembali mengajar lagi". ucap ustadz Ghazali
mereka berdua pulang menuju pesantren An-Nur. salah satu tangan Ghazali di gunakan untuk memegang stir sedangkan satunya memang tangan Shazia yang melingkar di perutnya. Ghazali mengendarai motor dengan pelan saat mengetahui istrinya tertidur.
sedangkan di dalam mobil amarah Lucas memuncak saat melihat putri begitu nyaman.
"tabrak motor itu". ucap Lucas dengan dingin
"mas kamu jangan gila , itu putrimu". ucap istrinya
"Regi tabrak". ucap Lucas
"Regi jangan". ucap istri Lucas
Regi melajukan mobilnya dengan kencang mengarah ke motor yang di kendarai Ghazali dan Shazia
💙💙💙💙
Hay aku menemukan novel yang memukau dan wajib untuk di baca, cuss langsung di baca dengan judul " I'M NOT A FLOOZY " karya " Delima Rhujiwati"
__ADS_1