
keluarga ndalem pagi pagi sekali sedang sibuk untuk menyiapkan acara lamaran Gus Amer dan Humairah. Abah dan Umi sangat senang saat mengetahui siapa calon menantunya ketika beberapa hari yang lalu mereka datang kesana.
"bah aku masih tidak percaya jika Amer akan melamar seorang gadis dan gadis itu adalah teman masa kecil Amer". ucap Umi
"sama umi, Abah sangat senang saat mengetahui bahwa Humairah yang akan menjadi menantu kita karena sudah jelas sifat dan sikapnya". ucap Abah dan umi menanggukan
"Amer sudah di siapkan cincinnya". tanya Umi saat melihat Amer turun dari tangga
"sudah umi". jawab Amer dan terseyum
"Umi masih tidak percaya bahwa gadis yang kamu pilih adalah Humaira, bagaimana bisa nak padahal selama ini kalian tidak pernah bertemu dan pertemuan terakhir kali saat kalian kelas 6 sekolah dasar". ucap Umi
"sebenarnya waktu itu Amer bertemu dengannya satu kali saat di Mesir waktu itu Humaira yang jadi pengisi acara di kampus Amer umi dan saat tau bahwa itu Humaira teman kecil Amer, Amer menyanyikan hati Amer untuk meminang, bukan Amer tidak menjaga pandangan Amer umi tapi waktu itu Amer jatuh cinta pada Humaira saat mendengar suaranya saat mengaji" jawab Amer
"syukurlah Abah kira kamu memandangi perempuan yang bukan mahram mu". ucap Abah
"Amer kamu belum tau bagaimana wajah Humaira bagaimana jika dia tidak sesuai dengan keinginan mu". tanya Umi
"Amer bukan melihat dari parasnya umi tapi Amer melihat hatinya dan perilakunya ". jawab Amer
"umi senang dengarnya nak, kalau kita mencintai seseorang karena parasnya maka suatu saat cinta itu akan pudar saat parasnya mulai berubah tidak seperti awal kita mengenalnya ". ucap Umi
"tapi kalau kita melihat dari sikapnya ataupun hatinya maka cima itu akan terus ada". sambung Umi
"Faisal mana umi". tanya Amer
"tadi katanya mau keliling pesantren ". jawab umi
"abah rasa adikmu ada di pohon mangga belakang asrama putra Karena buahnya sedang lebar saat ini ". ucap Abah saat mengingat bagaimana dulu putranya selalu membolos Mengaji dan berada di atas pohon mangga tersebut
mereka semua tertawa saat mengingat bagaimana Gus Faisal tidak bisa turun lantaran tangga yang di gunakan, di pindah oleh Abah sebagai hukuman karena membolos Mengaji
"Abah umi, Amer mau menyusul Faisal dulu, assalamualaikum ". ucap Amer
"wassalamu'alaikum ". jawab Abah dan Umi bersama
Amer berjalan menuju asrama putranya dan benar saat sampai di bawah pohon mangga itu, Amer melihat Faisal sudah ada di atas pohon sambil memakan buah mangga
__ADS_1
"sudah besar tapi belum berubah juga ". ucap Amer dan Faisal melihat ke bawah
"Abang kenapa kemari bukannya mempersiapkan untuk acara lamaran nanti malam". ucap Faisal dan sambil turun dari pohon itu sedangkan di kantong plastik sudah penuh buah mangga
"semuanya sudah siap tinggal berangkat saja nanti malam". jawab Amer dan Faisal menganggukan kepalanya
"bang andai adik perempuan kita tidak meninggal saat di lahir mungkin dia sudah sebesar gadis itu". ucap Faisal sambil menuju Shazia yang sedang menyapu karena mendapatkan hukuman dari Ustadz Ghazali bahkan ustadz Ghazali mengawasi Shazia
"jaga pandangan mu Faisal". tegur Amer saat melihat adiknya menatap seorang perempuan
"maaf bang". jawab Faisal
Amer memakan buah mangga yang di berikan oleh adiknya. kakak beradik itu sedang duduk santai di bawah pohon mangga tersebut.
"ustadz kenapa saya di hukum, sayakan tidak melakukan kesalahan apapun ". ucap Shazia
"ini hukuman untukmu karena minum alkohol yang jelas jelas haram hukumnya dan jangan mengelak saya tau kamu meminumnya". ucap ustadz Ghazali
"jangan membantah atau saya adukan pada Abah ". sambung Ustadzah Ghazali saat melihat Shazia akan membuka mulutnya
"assalamualaikum ustadz ". ucap Gus Amer dan Gus Faisal
"wassalamu'alaikum Gus Amer Gus Faisal ". jawab ustadz Ghazali
"kenapa dia hanya menyapu sendirian di halaman seluas ini ustadz ". tanya Gus Amer
"Santriwati ini sering melompat pagar untuk membolos makanya saya memberikan hukuman ini agar di jerah". jawab ustadz Ghazali dan kedua Gus itu menanggukan kepalanya
sedangkan Shazia yang mendengar perkataan ustadz Ghazali, terus saja mengumpat dalam hati dan menyapu halaman dengan kasar
"jika menyapu mu seperti itu, itu bisa membuat daun daun yang kumpulkan menjadi berantakan lagi ". ucap Gus Faisal yang sadar bahwa gadis di hadapannya ini sedang kesal sama seperti waktu dulu dia di hukum abahnya karena sering membolos
"iya Gus". jawab Shazia dan kembali menyapu daun daun yang berserakan.
"kalau begitu kami pergi dulu ustadz, assalamualaikum ". ucap Gus Amer
"wassalamu'alaikum Gus". jawab ustadz Ghazali
__ADS_1
malam hari tiba
kini Keluarga Gus Amer sudah berada di rumah Humaira dan sejak tadi Humaira mendudukkan kepala karena tidak berani menatap Amer atau keluarganya
"Humaira bolehkah lepas cadar mu agar putra umi bisa melihat wajah mu". ucap umi dan Humaira menanggukan kepalanya
ibu Humaira melepaskan cadar yang di gunakan putrinya
"angkat kepalanya sayang agar calon suamimu dapat melihat wajah mu". bisik ibunya
dengan jatuh yang berdebar Humaira mengangkat wajah secara alami dan saat itu pandangan Humaira dan Amer saling bertemu tetapi itu tidak berlangsung lama karena keduanya langsung menundukkan kepalanya
Amer tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat melihat wajah calon istrinya
"selain cantik hatinya ternyata cantik parasnya, tapi aku tidak peduli hal itu yang aku harapkan hatimu tetap cantik Humaira ". ucap Gus Amer dalam hati
acara lamaran pun di mulai, umi memasang cincin di jari manis Humaira lalu mengusap kepala Humaira
"umi harap hatimu secantik wajah mu nak". ucap umi
"Humaira kamu ingin mahar apa untuk pernikahan kita nanti ". tanya Gus Amer
"saya tidak ada keinginan khusus Gus, mahar apapun yang Gus berikan dan mahar itu tidak memberatkan Gus ataupun yang merendahkan saya". jawab Humaira
"tapi saya hanya minta untuk di bacakan surat Ar Rahman dan surat Yusuf saat akad nanti, apa Gus bisa ". ucap Humaira
"akan saya kabulkan keinginan mu Humaira ". jawab Gus Amer
"terima kasih Gus". ucap Humaira
setelah berunding pernikahan Gus Amer dan Humairah alam di laksanakan Minggu depan karena lebih cepat lebih baik. setelah acara lamaran selesai keluarga Gus Amer meninggalkan kediaman Humaira
"ayah tidak percaya nak kamu anak menikah dengan Gus Amer dan menjadi menantu Abah Usman padahal kita hanya manusia biasa tanpa gelar ". ucap ayah Humaira
"nak saat sudah nikah nanti jangan buat malu keluarga Amer ya, kamu sungguh beruntung akan menjadi istri Gus Amer , ibu harap kamu juga jangan sombong, ibu takut saat kamu menikah dengan Gus Amer akan berubah sombong karena mereka bukan orang biasa". ucap ibunya
"insyaallah Humaira tidak akan sombong Bu". jawab Humaira
__ADS_1