
Semua orang dikagetkan dengan perkataan Keano, yang ingin melangsungkan pernikahannya bersama Dea minggu depan.
Kedua orang tua Dea bingung bagaimana bisa mereka mempersiapkan acara pernikahan dalam waktu tuju hari, dan Dea kaget karena ia tidak ingin menjadi seorang istri dari bosnya yang kejam dan dingin itu begitu cepat.
"Dengar nak Keano, kita ini termasuk kelurga yang tidak begitu mampu, bagaimana bisa kami mempersiapkannya dalam waktu satu minggu"
"Ya bos, perkataan bapakku benar kami tidak akan bisa mempersiapkannya dalam kurun waktu satu minggu?
Bagaimana kalo tahun depan saja bagaimana?" ujar Dea pura-pura sependapat dengan bapaknya, padahal ia hanya ingin mengundurkan acara pernikahannya karena tidak ingin menderita dari lebih awal.
"Iya nak, kami sebagai orang tuanya masih belum siap jauh dari anak kami.
Kami sangat menyayanginya karena dialah yang bersama kami miliki sekarang" kata ibu, walaupun terlihat kejam memperlakukan Dea tapi Dena tetaplah seorang ibu, dan tidak ada ibu di dunia ini yang tidak menyayangi anaknya.
Dea yang mendengar ibunya berkata seperti itu, terharu sekaligus tidak percaya,"Ah ibu aku jadi terharu melihat ibu mengatakan hal seperti itu" kata Dea sambil mendekat ke arah Dea dan memeluknya.
"Apa semua perkataan ibu tadi sungguhan?" ujarnya sambil melepaskan pelukannya.
"Dasar kau anak kecil" sambil menonyor kepala Dea.
"Kalian tenang saja, semua persiapan pernikahannya akan saya urus.
Dan tentang Dea, saya tidak akan melarang Dea bertemu dengan kalian, kaena kalian berhak atasnya.
Jadi kalian tidak perlu khawatir semua akan baik-baik saja" ujarnya menjawab pertanyaan orang tua Dea dan menyakinkan mereka bahwa semua akan baik.
"Bagimana De denganmu, mau tidak?" tanya Rifa'i.
"Tid...." saat akan melanjutkan ucapannya, Dea melirik bosnya dan di tempat bosnya, sudah menampilkan senyum mematikannya kepada Dea.
"Hehehe maksud Dea, Dea tidak akan menolaknya pak karena Dea dan bos sudah saling menyukai.
Jadi semakin cepat pernikahannya maka tentu akan semakin baik bukan?" ucapnya menyakinkan kedua orang tuanya dengan tersenyum tapi hatinya menjerit.
"Baiklah kalau itu keinginan kalian, kita setuju yang penting Dea bahagia" ucap Dena sedih.
"Tapi tolong suruh Dea sering berkunjung kemari ya" lanjut Dena meminta pad Keano.
"Ibu takut kangen denganku yaa hem hem" kata Dea sambil tersenyum dan menggerak-gerakkan alisnya ke atas dan ke bawah.
"Iya aku kangen untuk menyiksamu" katanya menjawab Dea dengan wajah yang serius.
"Kalo begitu aku tidak akan pulang kerumah lagi kalo seperti itu, biar ibu tahu betapa berharganya anak ibu ini.
__ADS_1
Kalo sudah tiadaaa baru teraasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga" ucapnya sambil menyanyi dengan nada seperti lagu Saipul Jamil.
"Diam tidak kau" teriak ibu dan Dea menanggapinya hanya dengan cemberut dan memonyongkan bibirnya.
"Heem tentu saja, setiap kali Dea merasa kangen dengan kalian, ia bisa menjenguk kalian begitu juga sebaliknya, jika kalian merasa ingin menemui Dea kalian bisa menelponnya dan menyuruhnya kemari" jawab Keano dengan bijak.
Setelah selesai menjawab dan menjelaskan kepada kedua orang tua Dea, Keano pamit kepada kedua orang tua Dea dan pulang ke mansionnya.
Dan saat sampai mansionnya, ketua pelayan di mansion Keano membukakan pintu dan juga menyambut Keano.
Biasanya semua pelayan akan menyambut Keano tapi karena ini sudah larut malam, pak jamal sebagai ketua pelayan menyuruh mereka semua beristirahat.
"Selamat malam tuan, apakah anda ingin saya menyiapkan makan malam?" Tanya pak Jamal pada Keano dibelakangnya seperti anak ayam yang mengikuti induknya.
"Tidak perlu, saya hanya ingin istirahat sekarang.
Dan ya, persiapkan semua keperluan untuk acara pernikahan karena minggu depan saya akan menikah" Titahnya sambil menuju ke kamarnya.
"Baik tuan" jawab pak Jamal tanpa bertanya kepada tuannya, karena bagi semua pelayan jika tuannya Keano memerintahkan sesuatu, maka harus segera dilaksanakan tidak perlu banyak bertanya alasanya.
Karena itu sama saja mempertaruhkan nyawa pekerjaan mereka.
Tapi di tengah jalan menuju kamarnya Keano tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap pak Jamal,
tanyanya pada pak Jamal, meski terlihat cuek dan tidak perduli kepada ibu dan adiknya, tapi sebaliknya Keano sangat menyayangi mereka. Bahkan setiap hari ia selalu menanyakan keadaan dan menyuruh orang untuk mengikuti dan menjaga mereka dari jarak jauh.
Tanpa ibu dan adiknya tahu.
"Mereka sudah istiraht di kamar mereka masing-masing tuan.
Dan seperti biasanya tuan, nyonya besar pergi belanja dan pergi arisan bersama teman-temannya sedangkan tua muda Reno pergi ke kampus seperti biasanya" jelasnya pada tuanya.
"Baiklah, kau istirahatlah" perintahnya pada pak Jamal.
"Baik tuan" jawab pak Jamal sambil menuju ke kamarnya untuk istirahat.
Dan di rumahnya Dea semua orang sudah terlelap dalam mimpinya kecuali Dea, ia masing tidak bisa tidur dari tadi karena gelisah memikirkan pernikahannya dengan bosnya yang akan terjadi satu minggu lagi.
"Bagimana ini, apa aku kabur saja dari sini bersama bapak dan ibu.
Tapi nanti kalo semua karyawan di pecat dan lagian nanti kami mau tinggal dimana coba?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
"Oh bagaimana nanti dengan nasib ku, masa depanmu, dan kebebasanku.
__ADS_1
Apa semuanya akan hilang dalam waktu seminggu dari sekarang.
Hidupku akan sengsara setiap hari, bagaimana tidak punya suami seperti itu dingin seperti mejikom, eh mejikom dingin apa panas ya? ah terserah pokoknya intinya dia dingin.
Kejam seperti penjajah Belanda, suka maksa-maksa lagi mending dipaksa kerja, nah ini di paksa nikah pake acara ngancem segala.
Mana tidak bisa tersenyum lagi orangnya, tapi walau bos tidak senyum tetap terlihat tampan.(sambil tersenyum dan membayangkan wajah Keano).
Ah tetap saja dia tidak bisa senyum, kalau seperti itu, aku sama saja menikah sama patung tapi patung yang tampan.
Tidak-tidak patung bahkan lebih baik darinya, meski patung tidak tampan seperti dirinya, tapi setidaknya patung tidak kejam dan dingin seperti dirinya" ujarnya dengan dirinya sendiri.
Dea sudah selesai berbicara sendiri, karena rasa ngantuk sudah menghampiri dirinya. Dea mulai istirahat dan terlelap menuju alam mimpinya.
Tapi ada suara berisik timbul yaitu ponselnya yang tiba-tiba berdering karena ada seseorang yang menelpon.
'Tilulit tilulit, haiya ya bang jali suka jablay, haiya ya bang jali suka jablay' bunyi telpon Dea.
"Hais siapa sih yang menelpon malam-malam begini" sambil meraba ponselnya di meja dekat kasurnya.
"Ya halo siapa, kenapa malam-malam menelpon memangnya besok kiamat haa, hingga malam-malam menelpon, mengganggu orang istirahat saja" ujarnya dengan keadaan masih ngantuk kepada sang penelpon.
"Hei De, semalam kau dimana saja aku mencarimu di semua tempat acara, juga di kamar mandi tapi kai tidak ada.
Aku juga menelpon om dan tante, kukira kau sudah pulang duluan tapi mereka bilang kau belum pulang.
Dimana saja kau haaa.
Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya aku mencarimu?" Ucap Al panjang lebar yang merasa sangat khawatir padanya tapi Dea tidak mendengarkannya karena ia sudah sangat ngantuk, ia sudah kembali tertidur masuk ke alam mimpinya.
"De Dea, Deeaaa" teriak Al yang membuat Dea kaget.
"Sialan kau Al, kau mengagetkan aku.
Ah sudah aku mau tidur ngantuk besok saja aku jelaskan sekarang aku mau tidur bay" jawab Dea sambil mematikan ponselnya dan kembali ke alam mimpinya.
Di seberang tempat Al berada, "De aku mencintaimu bukan sebagai seorang sahabat, aku ingin hubungan kita lebih dari seorang sahabat De.
Tuhan mengapa persahabatan antara aku dan Dea harus terdapat rasa cinta, bukan rasa cinta sebagai sahabat tapi kekasih, mengapa semua terjadi padaku, dan kenapa kau tak menyadarinya De?" Ucapnya sedih.
Ya ternyata Al mencintai Dea, tapi Dea tidak menyadarinya karena Dea sudah menganggap Al sebagai sahabat terbaiknya, yang selalu ada saat dirinya dalam masalah dan membantunya di saat ia membutuhkannya.
Dan Dea tidak pernah terpikir untuk menjalin kasih bersama Al, karena Al adalah sahabatnya ya hanya sahabatnya.
__ADS_1