
Rindu tak terasa berat
Saat kita sama-sama saling merindu
Untuk segera bertemu
Yang berat itu
Kamunya rindu, Doimu kagak!
🍃🍃🍃🍃🍃
Dena langsung berubah sikap saat melihat Keano datang, apalagi dengan membawa beberapa tas di tangannya. Wajahnya langsung sumringah seperti baru dapat lotre.
Dea pergi meninggalkan Keano yang berisikan berbagai macam oleh-oleh. Sebelum itu, ia meminta ijin terlebih dahulu pada Paduka Raja, walau harus menumbalkan tubuhnya. Dea langsung masuk ke rumah orang tuanya. Makanya Keano datang belakangan karena ia harus mengambil oleh-oleh yang ada di mobilnya.
"Nak Keano ikut juga?" Ucapnya dengan manis semanis madu Tuju. Dena mengulurkan tangannya dan membiarkan Keano mencium punggung tangannya.
Keano mengangguk sambil tersenyum membalas pertanyaan ibu mertuanya. Keano memberikan semua tas yang berisikan oleh-oleh pada Dena, "Bu, ini ada oleh-oleh dari kami" Keano menyodorkan beberapa tas dan memberikannya pada Dena.
Dena menerimanya dengan senang hati. Ia tak munafik, yang pura-pura menolak padahal aslinya pengen, "Memangnya kalian dari mana?" Tanyanya penasaran, sambil menaruh semua barangnya di lantai.
"Kami baru saja pulang dari Jepang" jawab Keano dengan sopan. Meski Keano terkenal dingin tapi jika bersama orang tua Dea, ia jadi sopan dan ramah.
"Bulan madu ya?" Tanya Dena yang penasaran.
"Iya bu," jawab Keano lesu. Bulan madu apa? bahkan berhubungan sekali dengan Dea saja, tidak!
Dena girang mendengar jawaban Keano. Itu pertanda sebentar lagi dirinya akan segera memiliki cucu.
__ADS_1
"Pak kita akan segera memiliki cucu" Dena memberitahu suaminya, padahal Rifa'i juga mendengar sendiri jawaban Keano. Tapi, Rifa'i juga ikut girang sama seperti istrinya. Sampai membalas pelukan daro sang istri, meskipun hari biasa juga sama senangnya, jika di peluk oleh Dena.
"Bapak! Jangan maafin ibu gitu aja dong! Ibu 'kan sudah menganiaya bapak" Dea tak suka bapaknya yang bersikap baik pada ibunya. Padahal Dena sudah menganiaya Rifa'i sampai menangis tadi. Pikirnya.
Dena melepaskan pelukannya dan menatap Dea dengan tatapan horor, "Heii, anak kecil! Aku tidak pernah menganiaya bapakmu. Bapakmu menangis itu karena dia terbawa perasaan saat menonton sinetron 'Suara Hati Suami'!" Bentak Dena yang tak terima di tuduh anaknya melakukan KDRT.
"Benar pak?"
Rifa'i senyum cengengesan menanggapi pertanyaan Dea. Dea kesal ternyata bapaknya saja yang lebai, hanya karena menonton sinetron saja sampai menangis segala. Dea meerasa bersalah pada ibunya. Tanpa tahu yang sebenarnya, ia sudah menuduh ibunya yang tidak-tidak.
"Maafin Dea bu, karena sudah menuduh ibu melakukan KDRT pada bapak" Dea menyesali semua perkataannya yang sembarangan tanpa mengetahui yang sebenarnya.
Dena melengos sambil melirik-lirik sekelilingnya seperti tak ingin memaafkan Dea. Saat matanya tak sengaja tertuju pada perut Dea, wajahnya yang kesal berubah menjadi bahagia. Dena mendekat ke arah Dea, ia berjongkok dan memegang perut Dea, "Waahh... Kamu sudah hamil ya?" Tanyanya sambil mengelus-elus perut Dea yang terlihat agak buncit berbeda dari biasanya.
Keano ikut penasaran saat pendengar perkataan Dena yang mengira Dea hamil, ia ikut mendekat untuk melihat secara dekat. Apakah benar buncitnya Dea karena hamil atau tidak.
"Hahaha... Ibu salah, perut Dea ini isinya pup es semua. Tak ada bayinya, itu karena Dea sering makan selama berada di Jepang" Dea menjawab pertanyaan Dena dengan tertawa. Ia mengira jika akibat dari perut buncitnya itu karena ia hobi makan banyak. Tapi, kalo beneran ada bayinya, bagaimana? Dea segera menyingkirkan pikirannya itu, ia masih belum siap menjadi seorang ibu. Menjadi seorang ibu tidak hanya nama panggilannya saja yang berubah. Tapi tugasnya juga akan menjadi lebih berat daripada hanya menjadi seorang istri saja.
🌻🌻🌻
Dea dan Keano menginap semalam karena saat akan pulang sudah larut malam dan Dena juga memaksanya untuk tinggal.
Keano terus menciumi seluruh wajah Dea, Dea yang sudah tertidur nyenyak karena seluruh tubuhnya terasa pegal linu semua. Dea terbangun karena terganggu dengan kejahilan Keano.
"Sayang, hentikan. Aku ngantuk dan tubuhku pegal linu, aku mau tidur!" Dea membentak Keano karena kesal dengan perbuatan Keano yang mengganggunya.
"Bayar dulu hutangmu sebelum tidur!" Sentak Keano pada Dea yang masih terus mengganggunya.
Ya ampun, IQnya berapa sih. Aku sudah tidur agar dia melupakan masalah itu, tapi dia masih saja ingat. Memang kalo masalah kemesuman dia paling utama.
__ADS_1
"Besok saja ya, aku sudah ngantuk sekali. Haah," katanya yang meminta keringanan dengan sesekali menguap agar Keano mentoleransinya.
"Tidak bisa! Malam ini juga, kalo kamu tidak mau. Aku pastikan malam ini dan malam seterusnya kamu tidak bisa tidur dengan tenang!" Ancamnya. Dea langsung bangun dengan mata yang luar biasa semangatnya.
Keano terlentang di atas ranjang Dea yang lebarnya hanya muat satu orang saja. Dea berdiri menatap horor suaminya yang sudah bersiap untuk ia cium sepuluh kali. Itulah hutang Dea pada Keano yang ia katakan waktu berada di pesawat. Dan kali ini Keano menagihnya walau harus mengganggu tidur Dea.
"Tunggu apa lagi? Cepat lakukan!" Sentaknya, Dea menarik napas panjangnya dan mendekat ke arah Keano.
Kuq kuruqkuq... Ponsel Dea berbunyi dengan nada ayam berkokok di pagi hari, yang benar saja, belum juga di mulai sudah pagi hari saja. Keano kesal, ia mengutuk seseorang yang sudah menelpon Dea di waktu yang berharga ini. Tanpa melihat, Keano mengambil ponsel Dea dan mematikannya.
Keano kembali bersiap untuk menerima hutang yang akan Dea bayar padanya. Namun...
Kuq kuruqkuq... Bersuara lagi. Sungguh ponsel tak tahu diri. Keano mengambilnya lagi dan hendak membantingnya. Melihat itu Dea langsung menghentikannya. Yang benar saja, ponsel keluaran terbaru mau di banting gitu aja. Emang kalo orang banyak duit mah bebas mau ngapain aja.
"Eh Sayang jangan di banting. Sini biar aku angkat telponnya, kali aja itu penting"
"Jadi maksudmu panggilan ini lebih penting dariku hemm. Sampai kau lebih memilih mengangkat panggilan dari ponselmu terlebih dulu dari pada membayar hutangmu padaku, begitu!"
Dea gugup mendengar Keano yang marah padanya hanya karena ia ingin menerima panggilan yang masuk saja.
"Bukan Sayang. Maksudku jika -" 'kuq kuruqkuq', suara ayam memotong perkataan Dea, Dea merijeknya dan mencoba kembali menjelaskan pada Keano, "Dasar ponsel tidak tahu diri! Begini Sayang, jika aku mengangkatnya penelpon pasti akan merasa lega dan tidak mengganggu kita lagi, begitu" jelasnya.
"Kau non aktifkan saja ponselmu!"
"Kasihan Sayang orang yang menelponku. Sudah berkali-kali berusaha menghubungi, ehh malah gak di bales usahanya. Sakit tahu..." ucapnya yang terbawa perasaan.
"Baiklah, angkatlah dan jawab seperlunya!"
Dea mengangguk dan menelpon balik orang yang sudah menelponnya. Ia ingin bersungkeman kepada sang penelpon karena sudah menyelamatkannya dari Keano.
__ADS_1
Bersambung...