Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
58. KEBERANIAN


__ADS_3

"Memangnya letak hotelnya ada di sekitar rumah sakit ya Sayang?" tanya Dea yang melihat rumah sakit di hadapannya.


"Tidak" jawabnya singkat tanpa memberi penjelasan pada Dea.


"Lalu untuk apa kita ke rumah sakit?"


"Untuk memeriksakan kondisimu" jawabnya datar, Dea kaget dan takut dengan jawaban Keano. Apalagi sekarang mobil sudah berhenti di parkiran rumah sakit.


"Sayang aku tidak apa, aku hanya mabuk udara karena aku baru pertama kali naik pesawat tadi. Kita pergi saja ya, dari sini" pinta Dea dengan wajah melasnya, Ia berharap Keano luluh saat melihat wajah melasnya dan pergi dari rumah sakit. Dea takut dan tidak suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan rumah sakit, entah itu Dokter, obat dan suntikan.


"Tidak bisa! Kita sudah terlanjur sampai di sini jadi kita periksa keadaanmu setelah itu baru kita pergi" jawab Keano dengan tegas, bahkan ia tidak peduli dengan wajah memelas Dea.


Dea membuang nafas kesal karena Keano tetap bersikeras untuk memeriksakannya yang hanya mabuk udara biasa.


Mereka masuk ke dalam rumah sakit yang ada di Jepang. Keano menggandeng paksa tangan Dea.


Namun, saat masuk ke ruang pemeriksaan, Keano hanya melihat Dokter pria yang memiliki rupa lumayan tampan dan seumuran dengannya.


"Apa anda bisa berbahasa inggris?" tanya Keano dalam bahasa inggris pada sang dokter pria yang seumuran dengannya.


"Yes, i can" jawab Dokter muda dan tampan itu.


"Bisa panggilkan Dokter wanita, untuk memeriksa keadaan istri saya?" ucap Keano yang tidak ingin Dea di periksa Dokter pria apalagi dokternya tampan. Mana rela Keano melihat Dea di pegang-pegang pria lain, meski itu hanya seorang Dokter yang hendak memeriksanya.


"Maaf sepertinya tidak bisa, memangnya kenapa? Saya juga bisa memeriksa istri anda dengan baik seperti Dokter lainnya" ucap Dokter yang merasa kemampuannya di ragukan dan juga tak terima di suruh oleh orang yang sama sekali ia kenal.

__ADS_1


"Saya hanya minta anda memanggilkan dokter wanita untuk saya. Saya akan membayar berapapun biayanya kepada anda"


"Saya tidak bisa. Jika anda ingin istri anda di periksa dokter wanita anda bisa meminta bantuan pada Dokter lain di luar sana" ucap sang Dokter yang menolak tawaran Keano.


Keano langsung pergi menggandeng tangan Dea. Dengan penuh amarah karena penolakan yang dilakukan Dokter rumah sakit terhadapnya. Dea bingung sekaligus senang. Ia bingung karena Keano pergi meninggalkan rumah sakit tanpa memeriksanya terlebih dahulu dan senangnya, ia bisa selamat dari jarum suntik dan obat-obatan.


"Sayang kenapa kita pergi? Katanya kamu mau memeriksakan aku, kok tidak jadi?" tanya Dea yang ingin tahu mengapa Keano tidak jadi memekrisakannya.


"Sepertinya kamu semangat sekali ya, untuk segera di periksa oleh Dokter tadi?" tanyanya, ia menatap Dea tajam.


Hahh... Apa maksudnya, bukannya dia sendiri yang memaksaku untuk di periksa bahkan saat aku sudah berusaha menolaknya. Sekarang saat aku menanyakan alasannya kenapa dia jadi menakutkan seperti ini?


"Aku 'kan hanya mencoba menuruti permintaanmu untuk di periksa? Lagian tadi aku sudah bilang tidak usah. Kamu malah maksa" jawabnya yang kesal.


Dea antara malu, di rangkul di muka umum oleh Keano dan takut dengan tatapan mengerikan Keano saat berbicara dengannya, "Sa-yang lepaskan. Lihatlah semua orang menatap kita" Dea berbicara terbata karena takut. Ia juga berusaha melepaskan rangkulan Keano yang begitu kuat.


Keano tak bergeming, ia tidak memerdulikan pandangan orang lain yang sedang menatapnya. Ia masih terus merangkul Dea sambil terus menatapnya. Seakan ia masih menunggu jawaban dari Dea, atas pertanyaan yang ia lontarkan.


Sekuat tenaga Dea berusaha melepas rangkulan Keano. Entah kekuatan yang berasal dari Nyai Roro Ngalor Ngidul atau Jinny. Dea bisa melepas rangkulan Keano yang sangat kencang kepadanya.


"Kenapa kamu menuduhku, jika aku ingin di periksa Dokter tadi?! Saat aku menolaknya, kamu justru memaksaku untuk di periksa. Dan saat aku mau di periksa, kamu menarik paksa tanganku dan merangkulku di depan umum seperti tadi! Sebenarnya apa mau mu?!" ucap Dea dengan emosi yang berapi-api.


Dea begitu berani menentang Keano, sampai tak menyadari, hal apa yang bisa Keano lakukan terhadapnya jika membuatnya marah.


Dea langsung pergi menuju mobilnya. Meninggalkan Keano yang hanya merespon Dea dengan santai di sertai senyuman misterinya, "Woow... Kamu sudah pantas menjadi istri dari Keano Atmaja" ucapnya, sambil melihat punggung Dea yang semakin jauh dari pamdangannya.

__ADS_1


🌻🌻🌻


"Kamu tidak berniat meminta maaf kepadaku?" Dengan percaya dirinya, Keano berkata seperti itu kepada Dea yang sedang duduk di tepi ranjang dengan perasaan sebal dan wajah yang kesal.


"Untuk apa? Di sini kamu yang bersalah jadi kamu yang harusnya meminta maaf!" Ego dan keberanian Dea berkumpul jadi satu, hingga berani meminta Keano meminta maaf padanya.


Apa barusan aku menantangnya? Oh tidak! Kau akan celaka Dea. batinya, ia merasa takut Keano akan murka, tapi egonya masih menyuruhnya untuk bersikap kesal pada suaminya.


Keano berjongkok agar ia bisa melihat wajah kesal istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang, "Baiklah, aku minta maaf" ucapnya sambil memamerkan senyumannya. Dea luluh, karena seorang Keano Atmaja tidak pernah meminta maaf, berterima kasih pada orang lain, menurutnya itu akan menurunkan harga dirinya. Tapi itu tak berlaku untuk istrinya.


"Baiklah aku memaafkanmu. Dengan syarat besok ajak aku pergi jalan-jalan, bagaimana?" pinta Dea dengan datar yang mencoba meniru gaya Keano saat marah. Tapi itu tidak cocok di pasangkan di wajah imut Dea, dengan mamasang wajah datar. Menurut Keano, Dea terlihat tambah menggemaskan dan imut bukannya menakutkan.


Keano tersenyum lagi, "Baik. Asalkan kamu mau bermain denganku malam ini, bagaimana?" Keano menyetujui permintaan Dea. Namun, ia juga mengajukan syarat kepada Dea.


"Tidak mau! Hanya aku saja yang boleh mengajukan syarat. Karena aku yang di rugikan di sini bukan kamu!"


"Semua keputusan terserah padamu. Toh di sini aku yang akan di untungkan dari segi manapun" balasnya yang akhirnya memutuskan untuk merebahkan diri dan memejamkan matanya.


Dea bertanya-tanya, perasaanya mulai tak enak. Kenapa bisa Keano yang di untungkan dari berbagai segi, "Sayang, apa maksudnya kamu yang akan untung dari segi manapun?" tanyanya, Dea menggerak-gerakan tubuh Keano.


Kau tak bisa marah lagi haha.


"Jika kamu tidak mau bermain denganku malam ini. Kamu tidak bisa pergi besok dan jika kamu tidak pergi maka aku akan tetap bisa bermain denganmu. TANPA BATAS" jawabnya yang masih terpejam, seketika Dea merinding, bulu kuduknya berdiri seakan merasakan datangnya genderuwo.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2