Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
89. PERTENGKARAN SI KEMBAR


__ADS_3

Sarapan bersama dengan suasana yang sangat kacau bagi Keano, tapi terkesan harmonis telah selesai. Kini saatnya Keano berangkat ke kantor, sebelum berangkat, Keano harus meminta ponselnya, pada Ana terlebih dahulu. Hampir setiap pagi Keano melakukannya.


"Ana sayang, dimana Ana letakkan ponsel Papa? Sini kemarikan ponselnya nanti Papa belikan es krim" Keano membujuk Ana dengan memberikan sebuah imbalan.


"Ndak mau! Nanti Caty ndak unya emen Pah!" Karena di ponsel Keano ada permainan kucing jadi-jadian jadi Ana jadikan itu sebagai teman peliharaannya.


"Kamu sekarang meliahara kucing baru?!" Tanya Ano kesal, Ano mengira memelihara kucing karena adiknya menyebut nama peliharaannya dengan sebutan Caty dan teman mainnya kucing jadi-jadian dalam ponsel. Ana selalu memelihara binatang yang aneh yang seharusnya tidak di pelihara.


"Siapa biyang! Itu nama tikus Ana yang ulu. Ono biyang nama Niya (Nila) gak ocok kalo di adikan nama ikus!" Ano menghina, jika nama Nila tidak cocok untuk tikus karena Nila itu nama ikan. Ano memang selalu menghina peliharaan Ana, itu Ano lakukan agar Ana tidak memelihara binatang yang tidak wajar lagi.


"Nama Caty itu lebih cocok untuk nama kucing bukan tikus. Lagian kucing sama tikus itu musuhan, bakal berantem terus, gak bisa temenan! Dasar aneh." Ano tidak banyak bicara tapi sekali bicara langsung ngena ke hati.


Ana tentu murka di katai aneh oleh abangnya. Ana bukan tipe anak yang apabila di hina dan di buly akan diam serta mengadu pada ibunya. Ana akan membalas menggunakan kekuatannya sendiri. "Kamu yang aneh! Ikus mana bisa belantem sama ucing yang ada didalam hp! Dasal aneh, jeyek kaya cobek!" Balas Ana.


"Kamu itu sudah kecil, jelek kaya tokek!" Balas Ano yang tidak ingin kalah dari kembarannya.


"Kita kembal, jadi kayo kamu kaya okek kamu uga sama" dalam hal kecerdasan Ana memang sedikit lemah tapi saat berdebat, Ana juaranya. Ano mati gaya serta omong, karena kalah, Ano pun hanya menggeram kesal sambil memelototi kembarannya.


"Kamu yang jelek!" Tegas Ano sambil memelototkan matanya.


"Sudah-sudah kalian malah bertengkar. Sayang, beri penjelasan pada anakmu agar memberitahukan dimana ponselku. Ini sudah siang dan aku masih juga belum berangkat" Keano sudah tidak kuat menghadapi kelakuan kedua anaknya yang selalu saja bertengkar karena masalah kecil. Keano menyerahkan kasusnya pada istrinya untuk di selesaikan.


Dea yang awalnya membereskan piring bekas sarapan pagi tadi bersama bi Inah, terpaksa menghentikannya terlebih dahulu, saat mendengar suaminya memanggilnya.


"Tuh gara-gara kamu Papa pusing kepalanya!" Masih sempat Ano menyalahkan dan kembali mengajak bertengkar adiknya.

__ADS_1


"Enak aja, amu tuh"


"Hei anak-anak Mommy, kenapa bertengkar? Kalian itu saudara kembar, harus saling menjaga dan menyayangi. Bukannya bertengkar dan saling menghina seperti tadi. Sekarang saling minta maaf ya," Ano dan Ana masih tetap dengan wajah, ekspresi dan posisi yang sama. Tak ada yang mau minta maaf terlebih dahulu.


"Baiklah. Siapa yang mau ikut ke rumah nenek bareng Mommy?" Ana antusias ingin pergi ke mansion Keano dulu. Di sana ada omnya Reno yang selalu memanjakannya dengan membelikan berbagai macam keinginannya, baik keinginan normal atau aneh.


"Ana mau itut" ucap Ana antusias. Tapi tidak dengan Ano, dia sangat malas ke mansion neneknya karena Reno selalu bekerja sama dengan Ana untuk mengusiknya.


"Tapi Ana harus minta maaf dulu sama abang Ano dan kembalikan ponsel Papa" Dea mengajukan syarat jika Ana ingin ikut ke mansion Lily. Tanpa mikir lagi Ana segera mengulurkan tangannya dan meminta maaf pada Ano.


"Maaf ya Ono." Setelah meminta maaf pada Ano ala kadarnya, Ana langsung lari ngibrit entah kemana.


"Ehhh ehh Ana mau kemana?" Tanya Dea.


"Minta maafnya pakai nama yang benar, Ana sayang" Dea selalu menegaskan agar Ana memanggil Ano dengan benar tapi semua itu seperti angin lalu bagi Ana.


"Maafin Ana ya bangno" Dea tersenyum mendengar Ana yang selalu tidak rela menyebut nama Ano dengan benar. Pasti akan Ana plesetkan. Lagi-lagi Ana lari ngibrit setelah meminta maaf. Dan Dea harus menghentikannya lagi.


"Tunggu dulu, Mommy belum selesai bicara. Sekarang Ano juga minta maaf sama Ana" perintah Dea, mendengar ibunya menyuruh Ano untuk meminta maaf pada Ana. Ana memanfaatkannya untuk balas dendam, Ana berdiri dengan gaya sombongnya, mata menatap ke atas dan kedua tangannya di taruh di pinggangnya.


"Tapi Ano gak ikut ke rumah nenek Mom, jadi gak perlu minta maaf" melihat gaya tengil Ana saja, Ano ingin menjintaknya malah di suruh minta maaf.


"Anooooo" Ano memutar bola mata malas saat Dea memanggilnya, untuk menuruti perintahnya.


"Maaf" ucap Ano acuh dengan mata jengah.

__ADS_1


Ana akhirnya mengambil ponsel Keano yang Ana letakkan di kandang Caty, tikus peliharaannya. Ana juga ikut membawa tikusnya saat menyerahkan ponsel Keano.


"Ini Pah onsel Papa" Ana memberikan ponsel Keano yang ia ambil dari dalam kandang Caty. Tanpa mengecek, melihat dan membuka ponselnya terlebih dulu, Keano langsung pergi ke kantor karena sudah kesiangan.


"Papa berangkat dulu ya," Keano berpamitan sambil mencium pipi istri serta anak-anaknya. "Harumnya memabukkan" tutur Keano saat mencium Dea.


"Lebai" jawab Dea, bukannya tersipu malu dengan pipi yang merah seperti kepiting rebus, Dea malah menjawab gombalan Keano dengan ketus tak berperasaan. Selanjutnya Keano mencium Ana dan bertos tangan dengan Ano.


Setelah Keano pergi dan Dea melanjutkan pekerjaannya bersama bi Inah, Ana melirik Ano yang sedang fokus membaca buku dengan lirikan mata mencurigakan.


Kyaaaa.... Ana meletakkan Caty didepan Ano tepat diatas buku yang Ano baca. Ano tentu kaget, apalagi tikus merupakan hewan yang sering kotor-kotoran. Sedangkan Ano, tidak suka dengan hal yang kotor. Ana tentu tertawa terpingkal melihat saudara kembarnya kaget dengan wajah yang kesal.


Bugg... bugg... bugg... Ano memukul tikus yang berlari-lari menggunakan buku tebal yang Ano baca.


"Ono belhenti! Nanti Caty bita mati" Ana berusaha menghentikan Ano yang memukul tikus kesayangannya. Tapi Ano tidak menggubrisnya, Ano tetap memukul tikusnya sampai akhirnya tikusnya sekarat.


"Huhuhu Ommy Ommy, Ono jahat..." Ana berlari ke arah Dea sambil menangis, mengadukan Ano karena sudah membunuh Caty .


"Ono jahat Ommy, Caty di ukul pate butunya huhu"


Dea melihat Ano yang dengan santainya, tanpa merasa bersalah. Karena memang Ano tidak bersalah. Dea bertanya pada Ana tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dan tahu jika yang Ano lakukan tidak sepenuhnya salah Ano.


Dea menghapus air mata Ana dan memenangkannya. "Ana juga tidak boleh usil sama abang Ano, coba tadi Ana tidak mengganggu abang Ano pasti Caty tidak akan mati. Lain kali tidak boleh usil ya. Jadi, sudah ya jangan nangis lagi. Lebih baik sekarang kita kubur Caty yuk" ajak Dea. Ana menghapus ingusnya Dan menerima ajakan Mommynya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2