
Dea dan Keano keluar bersama dari kamar mereka karena Dena memanggil mereka untuk sarapan bersama, Dea dan Keano keluar bersama namun berjauhan dan tidak saling bergandengan.
"Ehh anak-anak ibu sudah datang, ayo sini duduk kita makan bersama" ucap Dena dengan manis pada Keano dan Dea.
Dasar ibu sok manis, biasanya saja marah-marah tidak jelas.
"Hei, mengapa kalian jalannya tidak berdekatan dan bergandengan, apa kalian sedang marahan?" lanjut Dena yang bertanya karena melihat Dea seperti tidak memperdulikan Keano.
Dea yang mendengar ibunya bertanya seperti itu kaget tidak menduga, ibunya akan bertanya tentang hal tersebut sebab Dea mengira Dena akan acuh dan tidak perduli tapi dugaannya itu salah besar.
Karena ia tidak ingin ibunya melihat keanehan dalam hubungan mereka, Dea tiba-tiba memeluk lengan Keano tanpa rencana dan begitu saja muncul ide seperti itu, agar ibu dan bapaknya tidak curiga dengan hubungan mereka yang sebernarnya terjadi bukan karena cinta melainkan sebuah ancaman.
"Tidak kok bu, hubungan kami baik bahkan sangat baik, iyakan SAYANG" ucap Dea sambil menatap wajah Keano dan juga mengedipkan sebelah matanya seperti mengisyaratkan untuk mengikuti alur drama yang di buatnya.
Ohh begitu, kamu mengajak saya membuat drama di depan orang tuamu, baiklah saya ikuti kemaumanmu.
"Iya bu, kami baik-baik saja ibu tidak usah khawatir" balas Keano sambil tersenyum manis pada Dena ibu mertuanya.
Syukurlah, sepertinya aku akan membayar mahal karena hal ini. batin Dea.
"Baiklah, ibu senang mendengarnya jika kalian baik-baik saja, iyakan pak?"
"Iya bu" jawab Rifa'i mengiyakan ucapan istrinya.
"Sekarang kalian duduklah, dan kita makan bersama" kata Dena yang menyuruh Dea dan Keano untuk duduk.
Saat sarapan Dea berpura-pura menjadi istri yang baik di depan orang tuanya, agar orang tuanya tidak curiga seperti menawari makanan Keano dan jika ada yang di inginkan Keano maka Dea akan mengambilkannya secara sukarela.
"Sini Sayang piringmu biar aku yang ambilkan makanan untukmu." ucapnya sambil mengambil piring Keano.
"Sedikit saja nasinya" pinta Keano.
"Ahh tidak Sayang nasinya harus banyak biar kamu selalu kuat saat berada di atas ranjang bersamaku.
Sayang kamu mau lauk apa?" ucap Dea yang sambil tersenyum dan menanyai Keano ingin lauk apa.
__ADS_1
"Terserah kamu saja, saya pasti memakan semua yang istri saya pilihkan untuk saya" jawabnya sambil menatap ke arah Dea dan tersenyum.
Astaga dia manis sekali, tapi setelah ini bos pasti akan menghukumku karena telah berani memanggilnya dengan sebutan menjijikan itu.
Dea pun mengambilkan lauk ayam dan juga sayur di piring Keano.
Dena yang mendengar Dea berucap seperti tadi kaget karena Dea bisa berkata sevulgar itu bahkan di depan mereka, sekaligus senang karena Dena otomatis akan segera mendapatkan cucu dari Dea.
"Apa sosisnya Keano sudah pernah masuk ke dalam goa mu De?" tanyanya penasaran.
"Maksudnya?" tanya Dea yang merasa bingung dengan pertanyaan ibunya bahkan Keano juga tidak paham maksud dari ibu mertuanya itu.
"Itu lohh hubungan suami istri" ucapnya memperjelas pertanyaannya yang tadi.
"Haiss ibu bahasa aneh-aneh saja, pasti efek dari Kisah Beneran yang sering ibu tonton kan?
Sudahlah bu berhentilah menonton Kisah Beneran tapi boongan itu, tidak baik untuk ibu, lebih baik ibu nonton Tuyul dan mbak Yul banyak untungnya untuk ibu, ibu bisa tau caranya mengambil uang tanpa di ketahui banyak orang" jelas Dea dengan santai tanpa rasa bersalah.
"Plak... kau pikir ibumu ini tega apa mencuri uang lain yang dengan susah payah mereka dapatkan." bela Dena sambil memukul lengan Dea, padahal biasanya Dena sering mengambil uang Dea tanpa sepengetahuan Dea, namun Dea tahu jika uangnya hilang pasti ibunya yang mengambil dan Dea membiarkannya karena Dea bekerja memang untuk orang tuanya.
"Ah sudah-sudah kenapa malah jadi membahas tuyul kembaranmu sih, sekarang katakan sudah apa belum?" tanya Dena yang sangat penasaran.
"Tentu saja sudah, iyakan Sayang" ujar Dea sambil melihat Keano dan berharap Keano mengiyakan meski sebenarnya belum sama sekali.
"Heem" jawab Keano dengan singkat.
"Wahh itu berarti ibu akan segera mendapatkan cucu yang cantik seperti ibu dan tampan seperti nak Keano" katanya dengan senang.
"Tentu saja. Ehh, tapi mengapa harus cantik seperti ibu kan aku ibu kandungnya sedangkan ibu nanti hanya akan jadi nenek tuanya?" tanya Dea yang merasa heran.
"Hei jaga ucapanmu aku ini belum tua, lihat saja body ku masih seperti gitar spanyol, memangnya dirimu body seperti lidi tubuh seperti kurcaci hahaha.
Dan tentu saja harus cantik tinggi dan juga seksi seperti ibu , karena jika seperti kau nanti cucuku akan kecil seperti kurcaci sama sepertimu kan tidak lucu jika cucunya Dena yang seksi ini, mempunyau cucu kecil seperti kurcaci" jelas Dena yang membuat Dena marah juga kecewa.
"Tidak bisa, anakku nanti harus sepertiku yang imut dan juga manis sepertiku, lagian juga yang membuatkan aku dan juga suamiku masa wajahnya mirip ibu kan tidak pas jadinya, nanti semua orang mengira ibu simpanan suamiku lagi, padahal suamiku kan hanya mencintai aku, benarkan Sayang." ucapnya yang mencari pembelaan dari Keano.
__ADS_1
"Tidak, cucuku harus mirip denganku, memangnya kamu mau anakmu kecil sama sepertinya" ujar Dena pada Keano sambil menunjuk ke arah Dea.
"Kecil kecil enak saja, aku itu imut tahu" tekan Dea pada ibunya.
"Iya bu, nanti anak kita akan ada perpaduan antara wajah ibu dan juga Dea" ucap Keano yang mencoba bersikap adil dengan membela keduanya.
"Iya mirip aku dan ibu, tapi lebih dominan aku secara aku ibunya" kata Dea menyombongkan diri yang tidak mau kalah dari ibunya.
"Sudah-sudah kalian ini selalu saja bertengkar saat bersama, jika terpisah baru kalian saling merindukan" ujar Rifa'i yang mencoba menghentikan pertengkaran anak dan istrinya.
Perdebatan masalah membuat anak yang sama sekali belum pernah terjadi, akhirnya selesai setelah Rifa'i menghentikan keduanya, sekarang sarapan tinggal keheningan dan suara sendok juga garpu.
Setelah selesai sarapan seperti biasa Dea membantu ibunya membereskan meja makan dan mencuci piring, sedangkan Keano berbicara dengan Rifa'i di ruang tamu.
"Apakah kamu akan pergi sekarang?" tanya Dena pada Dea.
"Ya sepertinya begitu" jawabnya cuek sambil terus mencuci piring.
"Apa tidak sebaiknya kalian menginap lagi di sini?" tawar Dena, yang sebenarnya masih rindu dengan anaknya.
"Memangnya kenapa? ibu masih kangen ya sama aku" jawab Dea yang menghentikan mencuci piringnya dan berbalik manatap ibunya.
"Cihh, untuk apa aku kangen denganmu, aku hanya masih ingin mantu ibu ada di sini, ibu ingin memamerkannya pada tetangga ibu kalo ibu punya mantu yang tampan sekaligus kaya seperti nak Keano"
"Anak ibu suamiku atau aku mengapa ibu malah ingin memamerkan suamiku ketimbang aku"
"Memangnya apa yang bisa di pamerkan dalam dirimu?" tanyanya menohok yang begitu menyakitkan bagi Dea.
"Ya sudah aku pergi saja hari ini" balasnya sambil melenggang pergi meninggalkan ibunya di dapur.
**Hai kakak-kakak yang baik hati dan tidak sombong terima kasih sudah main ke novelku, aku harap kalian suka dengan novel ini.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan rate bintang 5 yup.
Terima kasih dan jumpa lagii bayyy**
__ADS_1