
"Ano mana Ana? Kok gak bareng kamu?" Tanya Dea yang tak melihat Ana bersama Ano.
"Di belakang Ano Mom" balas Ano cuek.
"Mana gak ada" Dea celingak-celinguk mencarinya dan memang tidak ada, Ano jadi khawatir bingung kenapa Ana bisa sampai hilang.
"Lohh kok bisa gak ada sih Mom, tadi Ana di belakang Ano karena Ana jalannya lama jadi Ano duluan"
"Duh Ano sayang kok adiknya di tinggal, kalo di culik dan sampai di apa-apakan penculiknya, gimana?" Dea bingung mesti mencari Ana dimana di tempat seluas ini, kalau Ano yang berada di posisi Ana, Dea bisa sedikit tenang karena Ano pasti bisa mengatasinya, dengan bekal otak juga omongannya yang jelas. Sedangkan Ana?
Dea langsung mencari Ana di sekitar jalan yang tadinya Ano lewati dengan penuh kekecewaan Dea kembali ke tempat awal tanpa Ana. Akhirnya Dea menelpon Keano untuk membantu ikut mencari Ana, tapi, ponselnya tidak aktif. Sekarang Dea mesti mencari Keano terlebih dahulu, Dea mencari tempat yang sekiranya akan Keano kunjungi seperti toko pakaian pria atau aksesoris dan tidak ada batang hidungnya.
"Ya ampun, kamu ngapain disini? Kamu tahu aku mencari kamu kemana-mana!" Keano malah cengar-cengir kegirangan saat Dea memarahinya.
Tanpa sengaja Dea melewati toko yang menjual pakaian seksi wanita, sendirian. Keano tahu Dea tidak akan pernah mau di ajak membeli pakaian seperti itu dengan alasan malu. Dan tanpa rasa malu Keano langsung membelinya sendiri meski mendapat pandangan aneh dari orang sekitar. Pikir mereka, Keano adalah banci dengan wajah tampan yang mempesona.
"Baru aku tinggal sebentar aja udah kangen, kangen biasa apa kangen berat, hem? Oh ya aku mau membelikan lingerie ini untukmu, bagus tidak? Buat kamu pakai nanti malam" bisiknya dengan menggoda, Keano menunjukkan lingerie transparan dengan bagian gelap pada area buah dada dan daerah kewanitaan saja.
Dea memukul lengan Keano keras yang tak melihat orang yang sedang merasa khawatir tapi malah di ajak bercanda. "Kangen prett! Ana hilang" balasnya dengan nada suara khawatir sambil menaruh lingerie ke tempat asalnya, menggandeng tangan Keano dan menariknya agar mengikuti langkah kakinya.
"Ehh tunggu dulu, jelaskan ke aku kenapa, dimana dan kapan Ana hilang?" Keano menghadap Dea menyentuh kedua pundaknya agar Dea tenang.
"Ana hilang! Kita harus segera mencarinya, bukannya tanya jawab. Kamu kira aku anak sekolah! Ayo tak ada waktu main quiz, nanti aja main quiznya saat Ana sudah ketemu" tuturnya yang kembali menggandeng tangan Keano.
__ADS_1
"Bukan begitu maksudku istriku sayang, kalau kita hanya mencari di sembarangan tempat tidak akan ketemu malah nanti Ana jadi semakin jauh. Kalau baru sebentar hilangnya, mungkin saja Ana masih di sekitar toko itu" jelas Keano dengan lembut. Dea paham yang dimaksud Keano.
"Aku dan Ano tadi udah nyari di toko tempat Ana tadi menghilang dan tetap tidak ada"
"Kamu yakin sudah nyari di seluruh tempatnya sampai pelosoknya?" Dea mengangguk ragu, Dea menunjukkan dimana awal hilangnya Ana pada Keano.
Keano langsung menuju kasir, menanyakan keberadaan Ana sekaligus mencari Ana kali saja Ana menunggu disana. Dari kejauhan tampak dua anak kecil yang tengah duduk sambil menikmati coklat, banyak kemasan coklat berserakan di bawahnya.
"Ana..." Dea berlari ke arah Ana, memeluk erat putrinya. Dengan keadaan mulut penuh dengan coklat, Ana membalas rangkulan Dea. Sambil menggerakkan kakinya, menyingkirkan beberapa kemasan wadah coklat bekasnya.
"Kamu kenapa pergi gak bilang sama abang Ano dulu, Mommy khawatir daritadi nyari kamu sayang. Gimana kalau ada orang jahat yang nyulik Ana?"
"Ana ndak papa tok Ommy, Ana kan pintal dan belani jadi ndak ada pencuyik yang belani nyulik Ana." Tuturnya menenangkan Dea, senyum manis disertai lesung pipi Ana membuat hati Dea tenang. Namun, semua itu hanya sesaat, saat mata Dea melihat bagian bibir Ana yang belepotan dengan coklat.
Ana was-was dengan pertanyaan Dea, jawab jujur pasti bakal di marahi karena Ana sudah makan tuju coklat tapi kalau bohong dan Dea nanti tahu bakal lebih marah. "Ana ndak matan coklat tok Ommy, iya kan Mel?" Ana memberi kode dengan mengedipkan mata kanannya. Dea melirik Amel, ingin mendengar jawaban dari Amel meski Dea sudah tahu Ana berbohong.
"Bohong tante, tadi Ana makan coklat sepuluh kemasan" Ana mendelik, tiganya masuk lewat mana? Padahal Ana baru makam tuju kemasan saja. Bagaimana bisa sampai sepuluh.
"Ndak Ommy, Ana matan tuju doang. Nih kemasannya" Ana mengambil lalu menunjukkan bekas kemasan coklatnya yang Ana sembunyikan di bawah kursi.
"Tadi katanya gak makan? Ana kenapa bohong sama Mommy?"
"Maaf Ommy, Ana takut Ommy malah tama Ana" ujarnya menyesal dengan wajah menatap ke bawah.
__ADS_1
Dea mengusap pelan rambut Ana, memberinya penjelasan. "Ana, Mommy tidak akan memarahi Ana kalau Ana bicara jujur sama Mommy. Karena nanti kalau Ana sudah berbohong satu kali, Ana akan berusaha menutupi kebohongan pertama, begitu terus, sampai Ana akan terbiasa nantinya"
"Baik Ommy"
Tanpa Dea sadari, Amel terus memperhatikan dengan seksama bibir serta tutur lembut Dea saat memberi Ana penjelasan, terdengar damai dan lembut.
"Hai, ini siapa cantik sekali. Teman baru Ana, ya?" Dea beralih pada Amel.
Amel mengangguk antusias. "Iya tante, aku teman barunya Ana. Nama aku Amel, tante"
"Butan Ommy, Amel butan teman Ana" sinis Ana, baru beberapa jam yang lalu Ana mengajak Amel untuk jadi temannya dan sekarang Ana sudah memutuskan tak mau berteman dengan Amel.
"Ana! Gak boleh gitu, masa cuma gara-gara Amel mengatakan kebenarannya sama Mommy, Ana jadi gak mau berteman sama Amel"
"Baik Ommy, Amel teman Ana kok"
"Duh pinternya anak Mommy. Dimana ibu sama ayah kamu Amel?" Tanya Dea, yang tak melihat orang tua Amel di sisi Amel.
"Amel kesini sendiri tante, tadi Amel disuruh beli ini sama ayah Amel" jelasnya sambil menunjukkan tas berisikan sesuatu yang Dea tak tahu apa isinya. Yang terpenting, mengapa seorang ayah tega menyuruh anaknya membeli barang sendirian di mall.
"Ya sudah, pulangnya kita antar, bagaimana?"
"Gak usah tante, rumah Amel dekat dari sini kok" tolaknya dengan sopan, Amel berpamitan mencium punggung tangan Dea dan Keano. "Dahh Ana" Amel pergi sambil melambaikan tangan. Dea tersenyum nanar saat melihat senyuman Amel yang seperti tersimpan sejuta misteri sedangkan Ano yang biasanya cuek tak perduli tanpa sadar ikut tersenyum membalas senyuman Amel.
__ADS_1