Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
23. SALAH PELUK


__ADS_3

Keano sudah selesai dengan laptopnya ia segera membereskan dan bersiap-siap untuk tidur bersama Dea, ia masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan baju tidur.


Setelah selesai berganti pakaian Keano berdiri dan memandangi Dea yang tengah lelap tertidur dan mendekatinya dan memandangi Dea yang tengah lelap tertidur dan mendekatinya.


"Akan saya buat kau mencintai dan tergila-gila kepada saya, camkan itu" ucap Keano pada Dea yang tengah tertidur dan mengecup keningnya dengan pelan karena ia tidak ingin Dea terbangun dan mengetahui jika ia sudah mencium keningnya.


Di kediaman orang tua Dea, Dena merasa sangat kesepian karena tidak ada Dea di rumah mereka, biasanya Dea akan membuatnya marah bahkan sumpah serapah sering terucap dari mulut Dena untuk Dea, namun Dea juga yang selalu membuatnya merasa bahagia dan istemewa.


"Pak sekarang Dea sedang ngapain ya pak?" Tanya Dena pada suaminya yang sedang menyantap hidangan makan malamnya.


"Ibu kangen ya dengan Dea" ucap Rifa'i yang masih terus makan.


"Sepertinya begitu pak, biasanya Dea selalu membuat ibu emosi tapi dia juga yang selalu membuat ibu tertawa bahagia" jawab Dena yang mengakui bahwa dirinya memang sedang kangen dengan Dea.


"Apa ibu telpon Dea saja ya pak, pasti Dea akan mengangkatnya" ucap Dena yang merasa senang sambil mengambil ponsel di sakunya untuk menelpon Dea.


Tiba-tiba Rifa'i menghentikan Dena saat Dena hendak menelpon anaknya, "Tunggu bu, mengapa ibu mengganggu Dea" ucap Rifa'i yang mengambil ponsel istrinya agar istrinya tidak menelpon Dea.


"Mengapa bapak mengambil ponsel ibu, sini kembalikan! mengapa mengganggu, ibu kan hanya mau berbicara dengannya saja" perintah Dea yang emosi karena Rifa'i yang mengambil ponselnya.


"Bu, Dea kan baru saja menikah jadi biarkan mereka berdua tidur dengan tenang, ibu ingin segera punya cucu tidak?"


"Heem..." ucap Dena sambil menganggukkan kepalanya.


"Jadi biarkan mereka membuatkan cucu yang imut untuk kita. Dan sekarang saatnya kita membuat teman untuk cucu kita, ayo bu kita ke kamar" ajak Rifa'i dengan senyum genitnya.


Plakk...


Dena memukul pantat Rifa'i cukup keras, karena sikap Rifa'i yang genit.


"Aww, kenapa ibu berganti memukul bapak setelah Dea pergi, nanti kalau pantat bapak tidak seksi lagi bagaimana, ibu mau punya suami yang tidak menarik lagi hem" kata Rifa'i sambil mengelus-elus pantatnya yang di pukul oleh istrinya.


"Siapa suruh bicara sembarangan sudah tua tapi kelakuannya seperti anak baru kasmaran.


Cuci semua piringnya jika bapak ingin tidur bersama ibu di kamar, jika bapak tidak mau cuci piring, silahkan tidur di ruang tamu yang siap untuk menampung bapak" kata Dena yang pergi meninggalkan suaminya di meja makan bersama piring kotor yang siap untuk di cuci oleh Rifa'i.

__ADS_1


Dea sayang bantu bapak, ibumu sedang menganiaya bapak dengan kejam nak.


Matahari sudah mulai menampakkan dirinya, burung mulai berkicauan dengan indah. Menandakan bahwa hari sudah pagi dan saatnya semua orang memulai aktivitasnya masing-masing.


Dea sudah mulai bangun dari tidurnya tapi rasanya masih ingin tidur, sambil memeluk gulingnya ia mengencangkan pelukan gulingnya dan akhirnya merasakan keanehan dalam gulingnya.


Mengapa guling ini begitu besar dan lumayan keras ya. ucapnya setengah tersadar.


Dea mulai membuka matanya perlahan dan terkejut ternyata yang ia peluk adalah bosnya bukan guling, seketika Dea langsung melepaskan pelukannya dan berteriak membuat Keano terbangun.


"Aaaaa, kenapa bos dekat-dekat dengan saya, bos mengambil kesempatan saat saya sedang tertidur ya" ucap Dea yang berteriak kepada Keano.


Ahh sialan, kenapa saya bisa bangun lebih lambat darinya, padahal biasanya saya selalu bangun pagi-pagi, apa karena saya tidur sambil memeluknya?


Tapi tubuhnya tidak ada yang menarik, ahh mungkin karena tadi malam saya terlalu malam tidurnya. batin Keano yang berusaha menyangkal jika ia bangun siang karena tadi malam ia lembur.


"Hei jaga ucapanmu itu, untuk apa saya memelukmu, tubuhmu saja rata semua tidak ada yang menarik sama sekali, palingan juga kamu yang memeluk saya karena kamu tertarik dengan tubuh atlentis saya, ngaku kamu" kata Keano yang memojokkan Dea.


"Siapa yang tertarik dengan tubuh bos, pasti bos yang mengambil kesempatan saat saya tidur kan bos semalam yang tidur terakhir"


"Saya yang memeluk dan bos yang saya peluk" jawab Dea lemas karena pertanyaan Keano memang benar menunjukkan siapa yang sedang mencari kesempatan.


"Seharusnya kamu senang, kamu bisa menyentuh bahkan memeluk tubuh saya diluar sana banyak wanita yang hanya ingin menyentuh saya tapi mereka tidak bisa, mungin bisa tapi hanya dalam mimpi mereka. Kamu beruntung karena saya tidak akan melaporkanmu ke polisi" ucap Keano penuh kemenangan.


Siapa juga yang senang bisa memeluknya, aku saja tidak minat melihatnya apalagi memeluknya ihh amit-amit.


Keano bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk segera mandi dan berangkat bekerja.


Keano keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk, Dea yang dari tadi sedang membaca noveltoon di ponselnya, merasa terkejut karena Keano keluar hanya mengenakan handuk.


Woww, Tuhan ciptaanmu yang ini sungguh luar biasa, lihat itu perutnya terdapat banyak sekali roti sobek. Di dalamnya ada isi coklat atau stroberinya tidak ya?


Keano yang melihat Dea terus memandangnya tanpa berkedip dengan mulut terbuka, mengagetkan Dea dengan cara memarahinya karena sudah berani menatapnya.


"Beraninya kau menatap saya dengan matamu yang penuh nafsumu itu"

__ADS_1


"Haaaaa... bos mengapa bos keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk saja, bos ingin menodai mata saya yang suci ini ya" teriak Dea yang sudah terlambat karena menikmati terlebih dahulu perut Keano, sambil menutup matanya dengan jari tangannya, sesekali Dea membuka di sela-sela jarinya untuk mengintip.


"Hentikan dramamu itu, memangnya yang kamu lihat tadi apa sampai tidak berkedip dengan mulut terbuka, haa? sekarang pura-pura menutup mata, buka matamu sekarang!" ucap Keano sambil memakai pakaiannya.


Dea pun membuka matanya dan sudah melihat Keano memakai pakaiannya.


"Kamari!" perintah Keano pada Dea yang berdiri di dekat tempat tidur.


Dea datang dan mendekati Keano, "Ada apa bos?"


"Keringkan rambut saya!" perintah Keano yang sudah duduk di depan kaca.


Fuh fuh fuh...


Dea meniupi rambut Keano dengan angin dalam mulutnya.


"Apa yang kau lakukan? kau membuat rambut saya menjadi bau karena bau mulutmu" bentak Keano yang memarahi Dea sambil memegang rambut dan mencium baunya.


"Huekk..." rasanya Keano ingin muntah setelah mencium tangannya.


"Bos sendiri yang meminta saya mengeringkan rambut bos, jadi sekarang apa salah saya"


"Kamu ini kampungan sekali, gunakan hair dryer" ucapnya sambil menunjuk hair dryer.


Dea pun mengambil hair dryer, mengidupkannya dan mengeringkan rambut Keano.


Setelah rambut Keano kering ia menyuruh Dea untuk menyisir rambutnya, "Sisir rambut saya dengan benar dan rapi!" perintah Keano sambil memberikan sisirnya pada Dea.


Seperti bayi saja menyisir saja sampai menyuruh orang lain.


"Baik bos" jawab Dea.


**Hai kakak-kakak yang baik hati dan tidak sombong, terima kasih sudah membaca novel aku, aku harap kalian suka dengan novel ini.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan rate bintang 5 yup kak.

__ADS_1


Tangzu kakakšŸ¤—**...


__ADS_2