Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
EKSTRA PART


__ADS_3

Sesuai keinginan kedua anaknya, hari ini Keano mengajak keluarga kecilnya piknik bersama. Tapi sebelum piknik di pantai yang sudah Keano pesan hanya untuk keluarganya, Ana mengajak belanja di mall terlebih dahulu.


"Ommy, nanti Ana mau benni matanan yang banyak sama mainan balu buat Andel(Angel)" ujarnya sambil mendongak memandang wajah Dea. Dea senang akhirnya anaknya memiliki teman yang seharusnya dijadikan teman.


"Wahh Ana punya teman baru ya, kok Mommy gak dikenalin? Kenalin dong Mommy sama Angel"


"Ana batal kenayin Ommy tama Andel kok, sekalang aja ya Ana kenayinnya" Dea mulai merasa aneh saat Ana berniat mengenalkan temannya sekarang, karena di dalam mobil tak ada orang lain selain keluarganya.


"Memangnya  Angel kamu ajak juga, tapi Mommy kok gak lihat ya?" Dea berkata sambil menengok ke belakang, mungkin saja Ana menyembunyikan  temannya di kursi belakang. Tapi hasilnya nihil, Dea tak menemukan orang lain dalam mobilnya.


"Ini Ommy, Andelnya" Ana menunjukkan se ekor cicak yang berada dalam kandang berukuran kotak transparan. Dea sudah curiga dari awal jika Ana tidak mungkin benar-benar memiliki teman manusia.


"Cicak?" Ucap Dea dengan wajah cengohnya. Dan Ana hanya mengangguk polos dengan senyum imutnya.


"Ana kenapa cicaknya diberi nama Angel?" Tanya Keano.


"Iya kebagusan itu, seharusnya namanya Eva atau gak Evana lebih cocok hahaha" hina Ano, tanpa merasa bersalah sedikitpun Ano tertawa hingga tawanya memenuhi mobil.


"Ommy Ono nakal" rengek Ana, jurus andalan yang Ana keluarkan saat Ano mengejeknya , dengan begitu Ano akan mendapat hukuman dari Dea karena jika Ana yang membalas perbuatan Ano, Ana nanti pasti mendapat omelan dari Dea jadi alangkah lebih baik jika Ana berpura-pura lemah.


"ANOO" tawa Ano seketika terhenti mendapat peringatan dari Dea. Sedangkan Ana tertawa bahagia dalam hati namun dengan wajah masih melas.


"Kalena Andel sepelti malaikat, baik, suka menoyong dan imut" ketiganya diam, saling memandang dengan wajah cengoh, bagimana bisa cicak di bilang imut, imut dari segi mana?


Perjalanan yang cukup panjang tak terasa, tiba-tiba sudah sampai di tempat tujuan. Di mall terbesar di kota tempat Keano tinggal, banyak orang berlalu-lalang membeli barang atau hanya sekedar liburan bersama keluarga.

__ADS_1


"Deu, kamu mau yang rasa nanas, strawberry, melon atau anggur?" Dea melotot dengan tawaran yang Keano ajukan, Keano tak sadar jika di belakangnya ada kedua anaknya yang setiap saat menjadi makmum setiap mengikuti kemana pun mereka pergi.


"Apa itu Pah? Pelmen ya? Ana mau dong"


"Ehh jangan pegang-pegang, ini bukan permen jadi gak boleh di makan, mengerti!" Jelas Dea, Ana mengayunkan bibirnya tanda kekesalannya.


"Anak Papa jangan cemberut gitu dong, nanti tambah imut loh. Gimana kalau Ana beli mainan di temani Ano?" Ana mengangguk mengiyakan seketika senyum cerah menghiasi bibir merah muda Ana.


"Lain kali jangan membicarakan permasalahan orang dewasa di hadapan anak-anak."


"Iya... Berarti kalau tidak ada anak-anak boleh langsung praktek ya?" Tanpa menjawab, Dea ngeloyor meninggalkan Keano menyusul si kembar dengan senyum tersipu malu.


Karena tak ada jawaban dari Dea, hanya senyuman malu-malu yang di artikan oleh Keano bahwa Dea menyetujuinya. Akhirnya Keano memutuskan untuk membeli semua ko*dom yang tersedia agar Dea sendiri nanti yang memilihnya.


***


"Tapi Andel gak jadi beyi mainan, katanya pelutnya lapal. Iya kan Andel?"


Krik... krik... krik... Tak ada jawaban dari Angel, cicak imut itu hanya mengamati Ana, majikannya. "Tuh kan apa Ana biyang, Andel mengatuinya. Matanya jangan beyi coklat banyak Andel, jadi Ana deh yang dimalahin tama Ono" Ano menghembuskan nafas kasar mendengar celotehan kembarannya yang berbicara dengan seekor cicak.


"Ono tunduin Ana cama bantuyin bawa coklatnya" Ana berjalan dengan susah payah karena membawa banyak makanan juga Angel di kandangnya.


Ana tertinggal jauh di belakang Ano, hingga langkahnya menghentikannya. Matanya menangkap anak perempuan seumuran dengannya sedang menangis, tanpa berpikir dua kali Ana langsung menghampirinya.


Ana meletakkan makanannya di atas lantai dengan Angel yang masih tetap berada di tangan kirinya. "Hei tamu anak natal! Kembayikan es klimnya. Siapa nama tamu?"

__ADS_1


"Amel hiks hiks" jawab anak perempuan itu dengan tangis sesegukan.


"Kembayikan es klimnya Amel!" Ana melanjutkan perkataannya yang terjeda karena terkendala nama. Dengan keberanian tidak tanggung, Ana memarahi anak laki-laki yang lebih tua darinya sambil menunjuk tepat di depan wajah anak laki-laki tersebut.


Anak laki-laki itu menyingkirkan telunjuk Ana dengan senyum mengejek. "Hahh ngomong aja masih belepotan, udah berani merintah aku, dasar anak kecil! Mending kamu pulang terus tidur dan minta di dongengin sama mama kamu. Sana" anak laki-laki itu memutar balik kan tubuh Ana agar berjalan pergi.


"Apa? Kenapa balik lagi? Mau ngambil barangmu?" Pertanyaan bertubi terlontar dari bibir anak laki-laki itu, Ana menatap sinis dengan mata membelalak.


"Barangmu sudah jadi milikku jadi pergilah sekarang" tuturnya, mengambil semua makanan milik Ana, susah payah Ana mendapatkannya sampai Angel, Ana jadikan alasan untuk memenuhi keinginannya dan sekarang anak laki-laki dengan perawakan tengil ingin mengambilnya.


Ana mengambil tas berisikan coklat dan makanan ringan yang berada di tangan anak laki-laki itu. "Ini punyatu, tamu tidak bo..."


"Jauhkan hewan itu!" Teriaknya dengan nada jijik. Spontan, semua tas dalam genggamannya terlepas. Otak jahil Ana memberikan sebuah ide nakal untuk di jalankan.


Ana semakin mendekatkan Angel pada anak laki-laki itu dan anak laki-laki itu juga semakin menjerit meminta agar dijauhkan dari Angel.


"Jauhkan itu atau kalau tidak makananmu aku ambil semua" ancamnya, bukannya ketakutan dan merengek Ana malah semakin mendekati anak laki-laki tersebut dengan tawa ala nenek lampir.


"Hahaha dasal penatut tama cicak aja ndak belani hahaha. Hei Amel, tenapa tamu matih takut? Ayo teltawa" Amel pun ikut tertawa atas permintaan Ana sedangkan anak laki-laki itu berlari, pergi meninggalkan Ana dengan perasaan kesal dan penuh akan dendam.


"Awas kamu ya, akan aku balas nanti perbuatanmu lebih dari yang kamu lakukan sekarang padaku" ujarnya yang berjalan mundur sambil menunjuk Ana.


"Ndak takut wekk" Ana menjulurkan lidahnya dengan memasang wajah konyol, tak takut dengan ancaman yang di buat anak laki-laki tersebut.


"Niihhh" Ana mendekatkan lagi Angel pada anak laki-laki itu.

__ADS_1


"Jauhkan! Mama tolong Kendrik, ada anak kecil yang bawa cicak..." Ana menambahkan volume tawanya saat mendengar anak yang sok berani mengadu pada ibunya.


"Yuk" ajak Ana pada Amel, Amel menerima gandengan tangan Ana dan jalan bersama.


__ADS_2