
Brukk... Dea kembali merebahkan tubuhnya di ranjang setelah selesai mandi bersama Keano.
Rasanya hari ini Dea ingin seharian tidur di kasur, tidak ingin kemana-mana. Karena hormonnya yang sering berubah-ubah seperti Dedemit, kadang manja, marah-marah tidak jelas dan bermalas-malasan, untung Keano orangnya penyabar jadi tidak terlalu mengambil hati sikap Dea. Tapi sifat penyabarnya Keano tidak berlaku untuk orang lain, khusus hanya untuk Dea seorang.
"Kenapa tidur lagi? Kamu sarapan dulu lalu olahraga baru boleh tidur lagi, aku sudah menyuruh pak Jamal memasak semua makanan kesukaanmu. Kamu harus sarapan dan olahraga supaya saat nanti bayi kita lahir dia sehat, kuat, besar dan tinggi sepertiku" bujuk Keano, agar Dea mau turun dan melakukan aktivitas. Dea seketika berdiri menghadap Keano, setelah mendengarkan penuturan Keano, ia mendongak menatap Keano yang lebih tinggi darinya.
"Jadi kamu tidak mau bayiku nanti imut dan menggemaskan seperti diriku?! Aku tidak mau bayiku nanti sepertimu yang dingin juga otoriter!" Jelas Dea. Padahal Keano tidak bermaksud begitu, Keano hanya ingin mengiming-imingi Dea, agar anak mereka nanti akan seperti dirinya yang tinggi dan gagah, karena menurut Keano bentuk tubuhnya itu di dambakan oleh banyak orang. Lagian Keano juga membahas bentuk bukan sifat, mengapa Dea malah membahas sifat Keano?
"Dia anak kita, bukan hanya anakmu. Kita membuatnya bersama-sama bahkan aku yang paling dominan, kamu hanya mengikuti arahanku saja" Keano menunduk, mengelus perut Dea yang sedikit membuncit. Keano berdiri dan menatap mata indah Dea, "Lagipula aku membahas bentuk anak kita nanti yang akan seperti diriku gagah, tinggi dan besar, supaya nanti jika ada seseorang yang ingin menindas anak kita, merka akan berpikir ribuan kali sedangkan sifatnya menurun padamu, baik, pemberani dan menggemaskan. Kan yang membuat kita berdua bukan hanya kamu saja, jadi sifat dan bentuknya harus ada di salah satu dari kita" Keano tersenyum sambil mencubit pipi bakpao Dea dengan gemas dan menggoyangkannya ke kanan dan kiri.
Dea menyingkirkan tangan Keano dengan kasar dari pipinya, " Iihh jangan di cubit nanti jadi kendor dan tidak terlihat menggemaskan lagi!"
"Tapi aku akan tetap cinta kok sama kamu, meski pipimu menggembung seperti ikan buntal atau kendor seperti--" belum sempat Keano melanjutkan perkataannya Dea sudah pergi keluar meninggalkannya.
"Huhh sabar" gumam Keano yang melihat Dea pergi sambil mengelus dadanya.
Di meja makan Dea melihat beragam makanan kesukaannya sudah tersaji rapi, dan ibu mertua serta adik iparnya yang sedang menunggunya. Keano melihat Dea berdiri senang dan terperangah menatap meja makan, melihat itu Keano memundurkan kursi untuk Dea.
Krett... Keano menarik kursi dan mau mempersilahkan Dea untuk duduk, "Dud---", tapi saat hendak mempersilahkan pada istri tercinta dan terngeselinnya, Dea malah menarik kursi di sebelah kursi yang di tarik oleh Keano dan duduk dengan manis. Lily dan Reno rasanya ingin tertawa saat itu juga tapi mereka tahan karena takut dengan amarah Keano. Mereka memilih pura-pura tak melihat.
"Waahh banyak sekali makanannya, kamu yang menyiapkannya Sayang?" Tanya Dea, Keano langsung dengan kepala terangkat dan bangga mengakuinya, seolah lupa dengan apa yang barusan terjadi padanya.
__ADS_1
"Tentu saja, memang siapa lagi" balas Keano dengan bangga dan sedikit kesombongan di dalamnya.
"Terima kasih ya pak Jamal sudah menyiapkan semua makanan untuk Dea" ucap Dea pada pak Jamal yang sedang menaruh air di meja. Pak Jamal hanya mengangguk dan tersenyum kikuk membalas Dea, karena merasa tidak enak dengan Keano. Sedangkan Keano di buat kesal oleh Dea, bukannya berterima kasih padanya tapi pada pak Jamal.
"Kenapa kamu berterima kasih pada pak Jamal?! Aku yang menyiapkan semua ini!" Katanya tidak terima.
"Karena pak Jamal yang memasak semua masakan ini, kamu kan hanya memerintah saja" jawabnya tanpa berdosa sekalipun. Sekali lagi Lily dan Reno harus menahan tawa mereka, di sini rasanya Reno ingin kentut karena terus-terusan menahan tawa, melihat kakaknya di perlakukan tidak baik oleh Dea.
"Tapi aku yang sudah membayar gaji pak Jamal bahkan aku membayarnya tiga kali lipat dari koki pada umumnya!"
"Ohh gitu ya. Makasih deh" balas Dea cuek. Keano menarik napas dalam-dalam untuk menahan emosinya, Keano tidak mau membentak dan memarahi Dea.
"Kamu mau makan apa? Biar aku ambilkan" tawar Keano yang mencoba bersikap baik meski dalam hatinya, ia ingin mencium Dea karena kesal padanya.
"Sama sambelnya juga" pinta Dea lagi. Keano ingin menolak permintaan Dea karena mengingat pesan Dokter jika Dea tidak boleh makan terlalu banyak makanan pedas tapi jika Keano menolaknya, Dea akan ngambek dan marah padanya. Akhirnya Keano mengambilkan sedikit sambal saja di piring Dea.
"Lagi" ucapnya. Keano menambahkan sedikit lagi sambal di piring Dea. Dea kesal sendiri, Keano pelit sekali memberikan sambel di piringnya. Karena tidak sabar, Dea mengambil sendok di tangan Keano dan menyendok lima sdm sambal di atas piringnya. Sehingga di piringnya ini sudah terpenuhi oleh sambal.
"Kamu mau membuat anak kita keluar karena merasa kepedasan di dalam perutmu! Kamu lupa, asam lambungmu kambuh saat memakan makanan pedas, haa?!" Keano memarahi Dea Karena menaruh banyak sambal di piringnya.
"Iya kak, kami tidak mau calon adik Reno brojol karena di perut kakak gak ada air galon untuk minum" ucap Reno asal. Lily menginjak kaki Reno karena bicara sembarangan.
__ADS_1
"Makanan pedas gak baik untuk ibu hamil" ucap Lily yang ikut menyakinkan Dea.
"Tenang makanan ini bukan untuk Dea makan kok" jelas Dea, melihat keluarganya yang begitu mengkhatirkannya. Semua orang jadi bingung, kalo bukan untuk Dea lantas mengapa Dea menaruhnya di piringnya?
"Lalu untuk siapa?" Tanya Keano yang mewakilkan Lily dan juga Reno.
Dea menggeser piringnya yang berisi banyak sambal ke depan Keano, "Ini untuk Kamu Sayang" jawabnya sambil memperlihatkan senyum menggemaskannya. Namun, sekarang Keano tidak tidak terlihat senang melihat senyum menggemaskan Dea.
Semua orang yang ada di meja makan terkejut dengan keinginan Dea, termasuk Keano. Keano lebih terkejoet bagai kecembur di got mendengar perkataan Dea, "Tapi ini sambalnya terlalu banyak Deu, kalau aku sakit per--"
"Tapi ini kemauannya dedek bayinya Sayang, gimana dong?" Ucap Dea yang menyela perkataan Keano.
Keano melihat makanan di hadapannya yang sudah menunggu untuk Keano makan. Dengan berat hati Keano memakan sarapan lauk sambal ijo, sepertinya Keano mesti memanggil Dokter pribadinya ke mansionnya untuk mengobati Keano nantinya.
Dan dengan wajah tak berdosanya Dea mengamati Keano yang sedang tersiksa, sambil terus tersenyum ka arah Keano.
Keano telah menghabiskan makanan yang Dea berikan, walau harus menghabiskan se teko air putih sampai bibirnya membesar dan merah ndower tapi terlihat tambah seksi.
Keano mengipasi bibirnya yang kepanasan dengan tangannya.
"Sayang, besok kamu ganti makan dengan sambalado ya, sekalian nanti sambil joget"
__ADS_1
Pyarr... Keano rasanya ingin menukar istrinya dengan istri yang lain karena akhir-akhir ini sering merepotkannya. Tapi ia tidak bisa hidup tanpa Dea. Gimana, dong?
Bersambung...