
"Deu kamu tidak apa?!" ucap Keano yang langsung berlari datang ke arah Dea dan memeluk erat Dea. Setelah berhasil membuka pintu secara paksa, Keano melihat Dea yang berdiri bengong memperhatikan tembok.
Keano hampir saja terkena serangan jantung saat melihat mendengar suara teriakan Dea, tapi hatinya lega saat melihat Dea baik-baik saja, "Ada apa, mengapa kamu berteriak? Apa ada penguntit yang sedang menguntitmu saat kamu berada di kamar mandi?" Keano beruntun memberi Dea pertanyaan. Bagaimana ada dan bisa penguntit masuk ke dalam kamar mandinya, kamar Keano saja berada di lantai dua, belum lagi banyak pengawalnya yang menjaga mansion Keano. Lagipula siapa juga yang mau mengintip Dea, tidak memiliki lekukan tubuh yang bahenol semua rata seperti jalan tol.
"Lihatlah Sayang, cicak itu," Dea menunjuk tembok yang terdapat sepasang cicak sedang cik *** cak ahh uuh iihh, Keano hanya melihat arah jari telunjuk Dea dengan penuh tanda tanya.
"Cicak jantan itu sudah memperkosa cicak betina yang malang itu, padahal cicak betina sudah menolak dengan berlari secepat mungkin sampai ngos-ngosan dan kekurangan cairan tubuh, tapi cicak jantan itu mengejarnya dan memperkosanya. Dan sialnya aku melihat adegan pemerkosaan itu"
"Ya ampun, aku kira terjadi sesuatu padamu ternyata hanya karena cicak saja! Aku khawatir saat mendengar suara teriakanmu dan ternyata kamu hanya mempermasalahkan masalah cicak di dinding itu! Memangnya mengapa jika kamu melihatnya? Ada masalah apa?!" Ucap Keano kesal, ia harus ekstra bersabar menghadapi berbagai sikap unik Dea.
"Tidak apa, hanya saja aku takut anak kita trauma karena melihat adegan tak senonoh, kelakuan cicak bugil itu!"
"Kalau kamu takut anak kita trauma, mengapa kamu masih memandangnya?!" ucap Keano, Dea reflek menutup matanya yang tadinya melotot dengan kedua tangannya.
Keano perlahan menyingkirkan tangan Dea dari wajahnya dan memberi penjelasan, "Dengar ya, cicak betina itu hanya jual mahal. Sebenarnya aslinya mau, cicak betina itu hanya ingin di kejar oleh cicak jantan itu seperti di film India. Dan anak kita tidak akan trauma karena nanti dia juga akan segera menyaksikan secara langsung ayah dan ibunya melakukannya." Keano menarik tangan Dea untuk keluar dari tempat kesukaan syaiton itu.
"Tidak! Aku masih marah denganmu." Dea membuang muka dan melepas tangan Keano yang menggenggam erat tangannya.
__ADS_1
"Lalu kamu mau terus di kamar mandi dan menyaksikan secara langsung cicak yang sedang berkembang biak, iya?" Ucap Keano, Dea bingung bagaimana menjawab pertanyaan Keano, karena jika ia menjawab 'iya' berarti ia kalah dari Keano dan Keano tidak akan mengganti pelatih senamnya. Tapi jika 'tidak' , masa iya ia harus semalaman di kamar mandi menyaksikan film dewasa antar sesama cicak.
"Aku akan mengguyur cicaknya supaya mereka pindah dari sini" ucap Dea yang mengatakan ide dalam pikirannya. Dea sudah bersiap dengan gayungnya nenek gayung yang berisikan air, Keano dengan sigap menahan tangan Dea.
"Jangan! Memangnya kamu mau saat kita sedang berhubungan di guyur dengan air juga?" Tanya Keano, membuat Dea mengurungkan niatnya.
"Tapi jika nanti cicak betinanya tidak bisa merayap di dinding karena kelelahan, bagaimana?" Tanya Dea.
Lagi-lagi Keano mesti menjawab pertanyaan yang tidak perlu di jawab oleh seorang pengusaha ternama, "Huuh... Biarkan saja, itu urusannya. Kamu berisik sekali, biarkan mereka membuat keturunan dengan tenang!" Keano menggotong Dea keluar dari kamar mandi secara paksa, Keano tidak menggubris sikap Dea yang menolak dan memukuli dadanyan. Keano menjatuhkan Dea dii atas ranjang.
Dea mulai di rundungi rasa cemas, karena sepertinya Keano akan mewujudkan perkataannya yang ingin berhubungan dan memperlihatkannya secara langsung pada calon anak mereka. Dea hanya memejamkan mata dengan pasrah, terserah Keano ingin melakukan apa pada tubuh ratanya.
"Sayang?" Panggilnya dengan tawa kecil karena geli.
"Apa. Kamu kira aku akan melakukan seperti yang cicak tadi lakukan? Berharap sekali kamu, aku hanya ingin mendengar suara merdu anakku!" Balas Keano yang masih terus menggerak-gerakkan pipinya yang terdapat bulu tipis dan sesekali menciumi perut Dea. Keano mesti berpuasa berhubungan dengan Dea kurang lebih tiga minggu seperti perkataan Dokter. Mau tidak mau Keano harus melakukannya, ia tidak boleh egois dengan mementingkan nafsu daripada istri dan calon anaknya.
"Emmzz... Geli Sayang, jenggotmu membuat perutku geli"
__ADS_1
Bukannya berhenti setelah pernyataan Dea, Keano justru mempercepat usapan pipinya di perutnya Dea. Otomatis membuat Dea tertawa terbahak karena merasa sangat geli.
"Hahaha Sayang hentikan, ge-li" ujar Dea sambil tertawa.
Keano menghentikan aktivitas nya mengerjai Dea, ia melihat istrinya yang terlihat lelah tertawa, Keano lalu mengecup pipi Dea dan berbaring di sebelah istrinya, "Besok kamu cukur bulu-bulu di pipiku agar aku bisa dengan leluasa menciumi anak yang ada di dalam perutmu" suruh Keano pada Dea. Dea membalasnya dengan anggukan dan senyum manisnya.
"Sayang, anak kita kira-kira perempuan atau laki-laki, ya?" Tanya Dea yang penasaran dengan jenis kelamin anak mereka nantinya.
"Tidak tahu, kandunganmu masih muda jadi belum keliatan jenis kelaminnya. Nanti saat kandunganmu sudah berumur kurang lebih lima bulan, kita USG ke rumah sakit" balas Keano dengan lembut, sambil mencium kening Dea.
"Kalo kamu inginnya laki-laki atau perempuan?"
"Aku ingin anak kita perempuan, agar sama sepertimu imut dan menggemaskan," jawab Keano dari dalam lubuk hatinya sambil memainkan pipi cubby milik Dea. Jujur Keano ingin mempunyai anak-anak yang imut juga pemberani seperti Dea, "kalau kamu ingin anak kita berjenis kelamin apa? Dan seperti siapa?" Tanya Keano, ia ingin mendengar jawaban Dea yang berharap anak mereka kelak seperti dirinya.
"Laki-laki atau perempuan tidak masalah yang terpenting dia nanti harus imut, pintar, baik, tidak sombong, tidak pelit, tidak otoriter, tidak sombong, ramah dan menggemaskan seperti diri--" jawab Dea antusias, seolah tidak mau anaknya memiliki sifat dari Keano. Dea memang tidak bisa membaca keadaan dan keinginan Keano, Dea juga tidak bisa menjawab kenyataan dengan sebuah kebohongan. Oleh karena itu, Dea menjawab pertanyaan Keano apa adanya tanpa kebohongan. Antara tidak mau bohong atau tidak peka, entahlah hanya Dea yang tahu.
Keano yang tadinya santai sambil menciumi wajah Dea jadi berhenti dengan raut wajah merah seperti di warnai blus on, "Diam!" Tuturnya dengan keras, Dea seketika diam membeku.
__ADS_1
"Tidur jika kamu bicara lagi, aku akan mengurungkan niatku untuk tidak melakukan sama seperti yang di lakukan oleh cicak tadi, mengerti!" Perintah Keano. Dea mengangguk pelan karena merasa ketakutan mendengar ucapan Keano yang terdengar sedang emosi.
Bersambung....