
Jangan gunakan ketajaman mulut lamismu
Untuk membentak ibuku
Yang sudah mengajarimu berbicara!
🍃🍃🍃🍃🍃
"Tapi bagiku mengatakan cinta itu penting! Bagaimana aku tahu kekasihku mencintaiku jika dia saja tidak mengatakannya!" Fikss Dea tidak menyadari berbagai macam perhatian Keano selama ini.
"Melalui sikapnya. Bagaimana kekasihmu bersikap padamu. Baik atau tidak saat menghadapi masalah. Perhatian dan khawatir tidak, saat kekasihnya mengalami musibah." Jelas Keano, yang semua mengarah kepadanya, menurutnya tapi. Entah dengan Dea?
Dea lemah di tempat, karena menurutnya semua penjelasan Keano tak ada yang masuk ke dalam kriteria Keano. Keano selalu cuek, dingin, tidak romantis dan selalu kejam padanya, "Kalau begitu, kamu tidak mencintaiku? Dan akan meninggalka---" Keano menghentikan omongan Dea dengan mencium bibirnya.
Dea mengatur napasnya yang terengah-engah, karena Keano menyumpal bibirnya dengan bibir miliknya secara tiba-tiba, "Sayang, kenapa kamu selalu menciumku secara tiba-tiba!" Protesnya kesal.
"Itu hukuman karena kamu bicara sembarangan! Kenapa kamu berpikir, jika aku tidak mencintaimu? Haa!"
"Karena kamu tidak masuk di kriteria yang kamu sebutkan tadi. Kamu tak pernah mengatakan 'Aku mencintaimu Dea istriku yang paling cantik, imut, baik hati dan tidak sombong', kamu dingin seperti suhu di waktu subuh, cuek kayak cobek, selalu bersikap jahat padaku, kamu tidak perhatian dan tidak pernah menghawa--" buset dah ngapa Keano selalu punya waktu yang pas buat cium Dea secara tiba-tiba, saat Dea mangap langsung dah beraksi. Permisi, ketuk pintu atau wassalam dulu kek. Sekali lagi Keano mencium Dea dengan tiba-tiba.
Yang benar saja Keano tidak menghawatirkan Dea, saat mengetahui Dea masuk ke rumah sakit saja gilanya gila beneran. Dan dengan gampangnya, sekarang Dea tidak bilang jika Keano tak menghawatirkannya. Kau itu gebleg banget dah Deu, Keano itu selalu perhatian padamu hanya saja tidak di perlihatkan secara terang-terangan kek lampu bohlam. Keano malu mengakui cintanya pada Dea secara langsung.
Keano melepaskan ciumannya, ia memegang kedua pipi Dea dan menatapnya tajam, setajam silet, "Aku mencintaimu" Keano mengatakan itu dengan wajah serius di tambah dengan tatapan tajamnya. Bukannya membalas, Dea malah menatap Keano dengan mulut yang menganga di tambah detak jantungnya yang berdebar kencang seperti sedang di tabuhi gendang.
Ini jantung mau kemana dah, kenceng banget gerakannya. Mau pindah kali ya nih jantung, karena biaya kontrakannya mahal. Kalo jantungku pindah kontrakan aku mati dong?
"Sudah percaya jika aku memang benar mencintaimu?" Tanyanya, Dea tidak menjawab pertanyaan Keano, ia masih tetap melamun sambil memandangi setiap inci wajah Keano.
__ADS_1
Ya ampun, sejak kapan matanya yang kayak cilok jadi indah kaya klepon. Hidungnya mancung sekali kaya Pinokio, pasti sering ngibulin orang nih, di buat rujak Cingur kayaknya enak tuh. Dan bibirnya, merah menggoda. Mana itu bibir manggil-manggil minta di cium lagi. Hussh... Jangan mesum De. Sejak kapan otakku jadi gesrek beneran sih!?
"Kamu mau aku cium lagi?" Tawarnya yang melihat Dea terus mangap melongo, coba saja ada tawon pasti udah masuk tuh ke mulutnya . Dea seketika tersadar dalam khayalannya, ia menutup bibirnya rapat-rapat sambil menggelengkan kepalanya berulang kali tanda tidak mau lagi.
Pintu ruangan tempat Dea di rawat terbuka, nampak Reno dan Ida berdiri di tengah pintu. Mereka berdua tidak berani masuk karena masih takut dengan Keano.
"Kalian masih disini, aku kira udah pulang dari tadi. Masuklah, ngapain berdiri di situ kaya orang mau minta sumbangan aja!" Suruh Dea, karena measa sudah mendapat persetujuan dari Dea mereka berdua akhirnya masuk. Tapi Keano menahannya.
"Berhenti!" Perintah sang Paduka Raja. Mereka langsung berhenti di tempat, seperti terkena sihirnya pak Tarno.
"Lohh kok di suruh berhenti dadakan sih, Sayang. Sekalian di goreng aja terus..." Dea berhenti berkata dan menunduk saat melihat mata cilok Keano mendelik ke arahnya.
"Keluar! Kalian berdua dari sini!" Dea terkejut dong, kok bisa Keano mengusir adik kandungnya, yang ingin menjenguk Dea. Ada masalah apa sebenarnya ini? Sepertinya Dea ketinggalan gosip yang lagi anget-angetnya nih.
"Kok di suruh keluar, kasihan mereka kan udah nunggu aku dari tadi. Ehh pas artisnya yang di tunggu-tunggu udah sadar malah di suruh keluar. Ibaratkan kita nih udah nunggu jawaban cinta dari orang yang kita suka, tapi tiba-tiba saat kita udah mau menyatakannya malah di suruh pulang sebelum kita mengungkapkan nya. Kan kasi--" ceramah Dea panjang lebar udah kaya rumus luas persegi panjang.
Ya ampun pelitnya Subhanallah, tadi saat aku berbicara dengannya lama banget dia gak nyuruh aku buat istirahat tuh. Lagian waktu empat menit mana cukup, buat makan cilok aja kurang. Kalaupun bisa tepat waktu, pasti udah almarhumah karena keselek sama cilok.
🌻🌻🌻
Ida dan Reno pulang di rumahnya masing-masing, Dea juga sebenarnya ingin pulang tadi tapi suami posesifnya melarangnya. Keano tidak mau Dea kumat lagi nantinya, jadi ia paksa Dea untuk menginap semalam di rumah sakit. Untuk memastikan Dea benar-benar sehat walafiat sampai wafat. Ehh bercanda kok.
"Permisi tuan, saya mau mengantarkan makan malam untuk pasien" perawat datang saat Keano ingin memberi hukuman pada bibir culamitan Dea, yang terus mengoceh kesana kemari tak jelas arahnya.
"Masuklah" ucap Keano. Dea senang karena akhirnya makanannya datang juga, kecebong dalam perutnya sudah berteriak minta di beri asupan gizi.
"Ini tuan" ucap perawat yang memberi nampan berisi makanan pada Keano. Dea langsung menyambut mengambil nampan nya. Benar-benar seperti bukan orang yang sedang sakit.
__ADS_1
"Biar aku saja. Terima kasih sus-," Dea melihat nampannya yang ternyata isinya hanya bubur dan air bening, "-ter ngesot. Kok cuma bubur saja sih sus. Mana ayam crispy, sambel sama lalapannya?!" Protes Dea. Seharusnya orang sakit itu di beri makanan yang enak biar lahap makannya terus sehat deh, ini malah di kasih bubur. Emangnya Dea nenek Kebayan ompong, apa!
Perawat hampir saja ingin mengomel karena di katai Suster ngesot oleh Dea tapi Keano menyuruhnya segera pergi, "Kamu pikir kamu sedang pesan ketring, pake acara milih menu segala! Sini makanannya!" Dea memberikan secara sukarela makanannya, ia mengira Keano yang akan memakannya.
"Ini makanlah. Pesankan aku ayam geprek, tahu genjot. Minumannya es mabuk dan dessert nya es krim, dah itu saja kok" Dea selesai menyuarakan keinginannya dengan senyum pepsodentnya.
"Kamu mau mabuk?"
"Gak kok Sayang, es mabuk itu es Teler. Gak aneh-aneh kok hehehe"
"Buka mulutmu!" Perintahnya, seketika senyum pepsodentnya hilang.
Dea menggeleng, "Tidak mau! Bukannya kamu ingin memesankan aku makanan?"
"Kapan aku bilang seperti itu?" Ah iya juga, Keano hanya meminta buburnya, dia tidak pernah mengatakan ingin memesan makanan untuknya. Duhh, makan makanannya nenek Kebayan nih.
Dengan berat badan, hati dan jiwa, Dea membuka mulutnya untuk menerima suapan bubur dari suaminya.
"Bagaimana, enak kan rasanya? Tentu saja enak, itu karena aku menyuapimu secara langsung" katanya, ngasih pertanyaan sendiri, di jawab sendiri. Udah kaya orang gila saja, untung ganteng kalo gak mah udah beneran jadi orang gila.
"Tidak enak! Rasanya seperti bubur!"
"Memang penglihatanmu mengatakan jika ini ayam geprek, apa?!
Cepat habiskan bubur yang ada di mulutmu, jika saat aku akan menyuapimu, makananmu belum juga habis. Aku cium kamu!" Ancamnya, yang sukses membuat Dea menelan buburnya dengan cepat.
Bersambung dah...
__ADS_1