Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
65. PINGSAN


__ADS_3

Katakan apa yang membuatmu bahagia


Aku akan slalu berusaha mewujudkan nya


Meski nyawa taruhan nya


Aku rela...


Asal jangan pernah kau minta


Ada jarak di antara kita


Sungguh... Jika itu, maaf, aku tak bisa.


🍃🍃🍃🍃🍃


Dea memilih mampir di restoran terlebih dulu sebelum pergi ke tempat lainnya. Bagi Dea perut adalah yang terpenting, jika perutnya kosong melakukan aktifitas apapun akan terasa malas. Beda jika perut kenyang, rasanya seperti semangat ngelakuin aktifitas apa aja.


"Kakak pesan apa?" Tanya Reno pada Dea. Reno sudah memegang buku menu dan memperlihatkannya pada Dea.


"Dua porsi seblak, seporsi bakso syaiton level sepuluh dan soft drinknya dua" Dea mengatakan keinginanannya sambil menampilkan seutas senyum manisnya.


"Yang benar kak? Perutmu bisa terkena asam lambung kalo kakak memesan makanan yang super pedas seperti itu. Belum lagi minuman soft drink gak baik di minum banyak-banyak" tutur Reno yang khawatir. Reno mencoba memberi penjelasan, jika memakan makanan pedas dengan porsi yang banyak tidak baik untuk kesehatan.


"Tidak apa, aku dah biasa makan pedas kok, lagian pedasnya makanan mah gak ngefek dan gak kerasa bagiku. Karena pedasnya makanan gak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan pedasnya cibiran tetangga yang ngiri haha" Reno dan Ida ikut tertawa, membenarkan ucapan Dea. Reno akhirnya menyetujui pesanan Dea.


"Aku juga mau pesen sama kaya Dea" ucapnya sambil melirik Reno seperti memberikan kode pada Reno. Entah Reno memang tidak mengerti maksud Ida atau hanya pura-pura tak mengerti, "Akang Reno, kok gak ngelarang aku sih padahal aku kan sama pesen makanan seperti Dea. Akang teh gak kasian kalo nanti liat aku sakit ya?"

__ADS_1


"Memangnya kamu siapaku? Sampai aku harus kasian segala?" Jawab Reno ketus. Yang sukses membuat Dea ketawa dan Ida galau bercampur kesal.


"Yaudah mbak aku gak jadi pesen kaya punya temenku. Aku pesen cilok sama air bening aja!" Ucapnya kesal.


Mentang-mentang ganteng dan aku ngejar dia, jadi dia bisa seenaknya gitu? Untung kamu calon imamku, kalo bukan udah aku jadiin kekasih gelapku! Apa ini karma ya? Karena dulu aku sering mainin hati cowok-cowok. Ahhh peduli syetan dengan karma, yang penting calon imam udah di depan mata, harus bisa! Kalo gak bisa, yaudah. Toh masih banyak dukun kan di Indonesia? Hahaha. Jangan di tiru ya, adegan berbahaya. Author gak mau kamu kenapa-napa soalnya. BULSHIT deh.


Semua sudah selesai makan, meski Ida dan Reno harus menunggu Dea, menghabiskan makanannya yang biasa di luar banyaknya. Sekarang tinggal membayar dan melanjutkan kembali bersenang-senang menikmati hidup. Reno mengeluarkan kartu tanda penduduknya untuk membayar semua makanan yang sudah di makan tadi. Ehh kok kartu tanda penduduk, kartu atm, dong!


"Kita kemana lagi nih?" Tanya Reno yang sebenarnya di tujukan pada Dea.


"Ke bioskop aja. Kebetulan hari ini ada film Reno dan Ida" balas Ida antusias. Dea bingung, memang ada ya film layar lebar judulnya kek begitu?


"Film apaan tuh? Baru denger namanya" karena seumur-umur dia nonton tv gak ada tuh yang promo judul film kaya yang di sebutkan Ida.


"Itu loo film Dilan dan Milea. Ibaratin aja kaya aku sama akang Reno" ucap Ida sambil menatap Reno dengan tatapan mata yang di naik turunkan. Reno geli sendiri melihatnya.


"Setuju" balas Reno yang menyetujui usul Dea. Daripada menerima usup Ida, bisa GR dia nanti. Di kira Reno suka padanya nanti, padahal dari lubuk yang paling dalem sedalem-dalemnya amit-amit. Tertarik saja tidak apalagi suka?


"Kok akang Reno lebih milih film horor daripada filmnya kita berdua sih" terdengar nada kecewa di dalam ucapannya.


Reno tak merasa iba atau kasihan melihatnya, "Rekomendasi film horornya apa kak?" Tanya Reno yang minta pendapat Dea.


"Train To Depok aja. Ceritanya seru, bikin deg-deg serr sama ada zombienya juga" celetuknya. Sejenak Reno berpikir tentang film yang Dea sebutkan.


"Eemmz kak bukannya judulnya Train To Busan ya?" Tanya Reno dengan ragu.


"Itu versi Koreanya kalo versi Indonesia namanya Train To Depok"

__ADS_1


"Emang ada ya kak?" Tanya Reno lagi.


"Ah kamu kebanyakan tanya. Langsung otw aja! Keburu zombienya ngejemput kita" Dea berlari menarik Ida dan Reno menuju mobil untuk pergi ke bioskop nonton film horor yang berjudul Train To Depok. Itu katanya Dea ya, jadi kalo mau muring-muring sama Dea aja. Seenak jidad ngeganti judul film, malah dia kata versi Indonesia pula.


Dea membeli jagung yang bisa mengembang terus ada berbagai warnanya ada merah, kuning, hijau di wadah kertas berbentuk kerucut seperti curut, rasanya manis kaya gula gitu tapi lebih manisan yang baca. Untuk menemaninya nanti saat nonton.


Ida menjerit saat menonton adegan zombie yang sedang mengejar para penumpang di dalam kereta. Dengan keadaan sadar, Ida memeluk lengan Reno sambil menjerit tak jelas. Reno berusaha menyingkirkan tangan Ida tapi tak bisa. Karena Ida selalu menjerit saat Reno mau melepaskan tangannya dari lengan Reno, otomatis Reno hanya bisa menjauhkan kepalanya agar suara cempreng Ida tidak membuat selaput gendangnya pecah menjadi seribu lima ratus.


Sedangkan Dea fokus dan terlihat begitu memperhatikan filmnya, Dea menonton dengan raut wajah datar sambil memasukkan jagung mengembang ke dalam mulut mungilnya.


Di lihat dari sisi manapun Reno adalah orang paling merugi. Bayangkan saja, menjadi supir pribadi bukannya di beri bayaran malah di suruh membayar, tekor dah uang jajannya dan yang paling parah dirinya harus bertemu dengan wanita seperti Ida yang sintingnya Subhanallah yang tergila-gila padanya.


Durasi film hampir berakhir. Dea berhenti memakan jagung mengembangnya, bukan karena habis. Tapi perutnya terasa begitu sakit luar biasa, Dea berusaha menahannya sampai berakhirnya durasi film Train To Depok. Keringat deras membasahi seluruh wajah Dea karena menahan sakit di perutnya.


Aduhh kenapa nih perutku? Kok tiba-tiba sakit begini, perasaan tadi cuman makan dua porsi seblak sama satu mangkuk bakso syaiton doang deh. Kok sakitnya bisa sedahsyat ini ya?


Akhirnya yang di nanti selesai, durasi film sudah habis semua orang berdiri. Termasuk Dea, dengan sekuat tenaga Dea berusaha berdiri tapi saat ia sudah berhasil berdiri. Pandangannya terlihat kabur ke kanan dan ke kiri seenaknya, tanpa menghidupkan lampu sein riting terlebih dulu. Kepalanya terasa berat seperti sedang memanggul tuyul di atas kepalanya dan juga pusing.


Dea tak mampu menopang dan menyeimbangkan tubuhnya lagi, Dea terjatuh pingsan. Membuat Reno dan Ida panik bukan main.


"Deu bangun Deu, kamu kenapa bisa pingsan seperti ini?" Tanya Ida sambil menepuk-nepuk pipi Dea agar Dea tersadar.


"Kau lihat kak Dea pingsan kan? Untuk apa kau bertanya segala? Memangnya kak Dea bisa ngejawab pertanyaanmu apa! Dasar, kebanyakan nonton drama!" Dengan nada ketus Reno menjawab pertanyaan Ida yang di tujukan pada Dea. Keano langsung mengangkat Dea dan membawanya ke rumah sakit. Reno takut Kakaknya murka padanya karena tak becus menjaga istrinya tapi sekarang Reno lebih takut bakal terjadi apa-apa pada Dea.


Sesampainya di rumah sakit, Dea langsung di tangani Dokter dan beberapa Perawat. Kecemasan Reno berkurang karena Dea sudah di tangani oleh Dokter yang profesional. Tapi perasaannya kembali berkecamuk, apa ia harus mengatakan keadaan Dea pada Kakaknya atau tidak? Jika iya, pasti nanti Keano akan memberi pelajaran padanya. Tapi jika tidak di beri tahu, kelak juga Keano pasti bakalan tahu, dan Keano akan semakin murka karena telah menyembunyikan masalah yang menyangkut Dea. Sang belahan jiwanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2