
Setelah selesai pertemuannya bersama dengan Kinan, dan makanan yang di pesan juga sudah habis. Dea langsung mengajak Keano untuk segera pulang, kalau lama-lama sama Kinan di restoran, takutnya si Kinan pulang tinggal kepalanya saja. Karena emosi Dea yang tidak terkontrol lagi, melihat titisan Pelakor di hadapannya.
"Sayang, pulang sekarang yuk. Tiba-tiba badanku gak enak, apalagi perutku rasanya seperti sedang gempa bumi, anak kita dari tadi nendang-nendang terus sepertinya anak kita kangen di peluk papanya" Dea berkata sambil melirik ke arah Kinan. Seperti ingin melihat ekpresi Kinan, apakah sudah seperti cacing kegerahan atau belum.
Keano yang mendengar perkataan Dea, langsung timbul rasa khawatir. Takut terjadi sesuatu pada Dea, "Kenapa tidak bilang dari tadi, kalau badanmu tidak enak. Jika aku tahu kamu sakit seperti ini, kita bisa membatalkan pertemuan nya" Keano memegang dahi Dea, dan memang sedikit hangat, Keano beralih ke perut Dea. Ia meletakkan telinganya di perut Dea, Keano ingin mendengar suara detak jantung sekaligus tendangan anaknya, "Hei anak-anak Papa, jangan nakal, jangan main bola di perut Mommy dan jangan buat Mommy kalian merasa kesakitan. Kalau kalian menuruti nasehat Papa, Papa janji akan belikan banyak mainan dan akan bermain dengan kalian nanti" Keano berbicara pada anaknya yang masih di kandungan Dea sambil mengelus perlahan perut Dea.
"Calon anak kalian kembar?" Tanya Kinan penasaran, yang mendengar Keano memanggil anaknya dengan kata kalian.
"Heem. Sekali tendang dapat dua gol sekalian. Ronaldo saja sekali tendang satu gol, itupun kalo Kipernya gak bisa nangkap bolanya, lah ini sekali tendang langsung dua gol. Hebat gak tuh?" Dengan bangga dan rasa pede luar biasa, Dea memuji dirinya sendiri.
Kinan tersenyum ramah membalas Dea tapi dalam hatinya hanya dia dan Tuhan saja yang tahu, "Hem, selamat ya" balasnya singkat.
Dea berdiri bersiap untuk pergi pulang, "Kalau gitu kami pulang ya. Oh iya, nanti saat anak kami lahir jangan lupa datang, bawa apa saja tidak apa kok. Asal jangan bawa masalah aja" Dea tersenyum, lalu pergi meninggalkan Kinan yang duduk mematung. Dea merasa sangat lega, perasaan kesalnya hilang setelah berhasil membalas semua sindiran dari Kinan yang di tujukan untuk dirinya.
Dea yang awalnya hanya berniat untuk mendengar penjelasan Kinan, harus membuang banyak tenaga dan kata menjawab satu persatu sindiran Kinan. Dan alhasil, Dea berhasil membalas semuanya dan membuat Kinan gigit jari.
Brakk.... Kinan menggebrak meja restoran, tidak lama setelah Dea pergi. Pengunjung lain nya langsung menatap Kinan aneh, "Apa lihat-lihat, belum pernah lihat cewek cantik lagi marah?!" Seketika pengunjung yang tadi melihat Kinan, segera melanjutkan memakan pesanan mereka.
"Sialan! Semua rencanaku gagal karena wanita busung itu. Kenapa wanita busung itu bisa seberani itu padaku. Dia bahkan menghinaku secara langsung di hadapanku, kamu belum tahu siapa dan sifat asliku seperti apa. Dan akan aku pastikan, sebertar lagi kamu akan segera mengetahuinya" ucap Kinan yang penuh dengan teka-teki serta misteri.
__ADS_1
🌻🌻🌻
Di mobil, sedari tadi Dea diam tanpa banyak bicara, tidak seperti tadi saat berada di restoran. Biasanya Dea akan berbicara, membicarakan semua masalah dari masalah yang tidak penting sampai ke masalah yang tidak terlalu penting juga. Keano jadi merasa canggung sendiri, Keano yang biasanya hanya menjawab semua perkataan dari Dea, sepertinya sekarang ia yang harus memulai pembicaraan.
"Deu kita ke rumah sakit dulu ya?" Tanya Keano, karena tadi Dea bilang tidak enak badan. Jadi, Keano ingin memastikan kesehatan Dea.
"Tidak mau!" Jawabnya dengan singkat, padat, dan ketus sambil melihat jendela luar.
"Tapi tadi kamu bilang tidak enak badan, jadi lebih baik kita periksa untuk memastikan keadaanm--"
"Aku bilang tidak mau, ya tidak mau! Lagian aku juga tidak apa-apa kok!" Dea berbicara dengan suaran full volume nya. Keano terkejut, tidak biasanya Dea sekeras itu saat berbicara dengan Keano. Tapi Keano tak mengambil pusing dan memakluminya, mungkin karena hormon kehamilannya yang sering berubah-ubah, pikirnya.
Dasar! Suami tidak peka, kalau tidak di jelaskan secara rinci, tidak tahu apa kesalahannya!
"Berhenti!" Perintah Dea secara mendadak. Keano langsung berhenti, mengira ada apa-apa pada karena menyuruhnya berhenti tiba-tiba. Hampir saja kepala Keano menyentuh stir mobil.
"Ada apa? Mengapa kamu tiba-tiba menyuruhku berhenti secara mendadak?" Tanya Keano. Belum juga menjawab pertanyaan Keano, Dea sudah keluar dari mobil terlebih dahulu. Menghampiri abang penjual ketoprak di pinggir jalan.
Keano keluar, menghampiri Dea yang sudah duduk manis di kursi. Keano ingin menarik Dea masuk ke dalam mobil, Keano tidak mau Dea makan makanan sembarangan, yang belum pasti kebersihan dan baik untuk kesehatan. Bukan maksud menghina penjual yang jualan di pinggir jalan, hanya ingin memastikan agar istrinya memakan makanan yang sehat saja, karena sekarang Dea sedang membawa dua nyawa dalam perutnya.
__ADS_1
Keano menarik tangan Dea, ingin memasukkan Dea ke dalam mobil. Tapi, Dea langsung melepas genggaman tangan Keano, "Lepaskan! Aku ingin makan, aku lapar. Jangan tanya 'tadi kamu kan sudah makan?' Karena tadi aku hanya makan sepiring berdua denganmu. Itupun masih banyakan kamu makannya. Aku belum kenyang, apalagi sekarang aku juga memberi makan anak-anak ku! Kamu kira ngomong panjang lebar sama titisan Pelakor seperti tadi, saat di restoran gak mikir pake otak dan tenaga?" Ucapnya kesal, Dea kembali duduk di kursinya. Padahal Dea sendiri yang memesan satu piring nasi goreng untuk dua orang, sekarang malah marah pada Keano.
"Bang ketopraknya dua, cepetan ya Bang, perutku udah ceramah dari tadi nih" teriak Dea pada penjual ketoprak dan di iyakan oleh Abangnya.
Keano ikut duduk di sebelah Dea, ia ingin membujuk Dea, "Deu, kita pergi dari sini, aku janji akan membelikan semua makanan kesukaanmu. Bagaimana?" Bujuk Keano dengan nada halus dan pelan, supaya Dea mau di ajak pergi.
"Tidak mau! Aku mau makan ketoprak. Kalau kamu tidak mau menemaniku, ya sudah sana pergi sama titisan Pelakor tadi. Biar di kira pacaran sama orang-orang sekitar dan makan makanan favorit bersama supaya terlihat romantis" tolaknya, sambil menyindir masalah Kinan.
Sekarang Keano baru tahu, akibat dari amarah Dea. Dea marah karena Keano tidak menceritakan tentang dirinya yang di kira pacaran dengan Kinan sama orang-orang karena terlalu dekatnya hubungan mereka.
Keano hanya menceritakan pada Dea seperlunya saja seperti jika dirinya dan Kinan berpelukan karena kesalahpahaman dan mereka hanya sebatas teman biasa saat kuliah. Antara malas membahasnya dan tidak ingin Dea terbebani serta kepikiran masalah itu.
"Oke baiklah, aku minta maaf karena sudah tidak menceritakan seluruhnya kepadamu. Aku hanya tidak ingin kamu stress karena terlalu memikirkan masalah yang tidak penting" Keano mengalah dengan cara meminta maaf pada Dea. Jujur ia tidak bisa berlama-lama bertengkar dan diam-diaman dengan Dea. Keano sudah terbiasa dengan ocehan cempreng Dea yang selalu membuat telinganya menggema.
Dea tidak membalas permintaan maaf Keano, ia lebih memilih bersiap-siap memakan ketoprak yang sudah ada di hadapannya. Keano yang melihat Dea hendak makan ketopraknya, langsung mengambil selembar uang dan memberikannya pada penjual ketoprak. Lalu dengan segera, Keano membopong Dea dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Lepaskan, aku belum memakan ketoprak ku" Dea berontak dengan cara memukul dada Keano, Keano tetap berjalan tanpa memerdulikan Dea yang terus memukulinya.
"Bang ketopraknya antar ke rumahku, pake ojol ya" teriak Dea pada abang ketoprak.
__ADS_1
Bersambung...