
Keano keluar dari kamar mandi dan ia melihat kamarnya sangat berantakan, selimut dan bantal berserakan di mana-mana di atas lantai.
"Apa-apa an ini, mengapa semuanya jadi berantakan seperti ini?" tanya Keano pada Dea yang memegang sapu lidi.
"Aku sedang mencari serangga yang sudah menggigit kita tadi malam Sayang, aku ingin mengusirnya agar nanti malam saat kita tidur mereka tidak menggigit lagi" jelasnya sambil membersihkan kasurnya dengan sapu lidi.
Bodohnya kelewat batas.
"Tapi anehnya Sayang dari tadi aku sudah membersihkannya dan aku tidak menemukan satupun serangga di sini" ucapnya yang bingung.
"Biarkan saja nanti aku suruh pelayan untuk membersihkannya dan mengganti sepreinya" ucap Keano.
"Ya sudah kalau begitu aku akan bersiap-siap." jawab Dea sambil turun dari atas kasurnya.
"Siapkan semua keperluanku dulu!" perintah Keano.
Iya-iya, tidak sabaran sekali.
Sebelum Dea bersiap untuk dirinya, ia terlebih dulu menyiapkan semuan keperluan big baby nya.
"Jangan memakai make up terlalu tebal!" perintah Keano yang tengah duduk dan melihat Dea berhias.
"Memangnya kenapa?
Kamu tidak ingin aku di lirik pria tampan di luar sana yaa?" goda Dea.
"Nanti make up nya cepat habis jika di gunakan terlalu banyak dan aku tidak akan membelikannya lagi jika semua itu habis." jelasnya dengan santai sambil menunjuk make up Dea.
"Aku punya kartu jelek (black card) jadi jika aku ingin membeli make up tidak perlu meminta padamu, karena aku bisa beli sendiri dengan kartu jelekku milikku itu" gumam Dea dengan pelan.
Dea sudah selesai bersiap dan sekarang tinggal berangkat pergi untuk menemui Ida.
"Sayang minta uang 50.000 ribu dong." pintanya sambil menodongkan tangannya ke
arah Keano.
"Untuk apa?"
"Untuk ongkos naik ojek" jawabnya dengan jujur.
"Jadi kamu selama ini jika pergi selalu naik ojek?" tanya Keano.
Dea membalasnya dengan anggukan kepalanya.
"Tidak, aku tidak ada uang 50.000 jadi gunakanlah kartumu yang sudah aku berikan padamu!" ucap Keano yang berbohong.
"Memangnya sekarang tukang ojek bisa di bayar menggunakan kartu ya Sayang?
__ADS_1
Wah hebat sekali tukang ojek jaman sekarang" ucap Dea.
Tapi Keano tidak menjawab pertanyaan Dea karena menurutnya pertanyaan Dea itu tidak perlu ia jawab, ia langsung pergi untuk berangkat bekerja di ikuti oleh Dea di belakangnya.
Dea terpaksa pergi di antar oleh supir menggunakan mobil Keano.
***
Di kafe Q, Dea sudah melihat sahabatnya yang sedang duduk menunggu kedatangannya.
Dea berjalan pelan karena ia ingin mengagetkan Ida.
Dan 'Dorr' Dea menepuk punggung Ida dan mengagetkannya.
Ida tentu saja merasa sangat kaget dan langsung memarahi Dea.
"Sialan kamu De, kalau aku sampai mati karena serangan jantung bagaimana?" ucapnya dengan nada emosi.
"Ya tinggal di bawa ke Rumah Sakit, tapi kalo sampai Rumah Sakit kamu sudah mati ya aku akan panggilkan tetanggamu untuk membantu menguburkanmu, selesai. Mudah bukan, memangnya kamu mau calon jadi mayat ya? wahh selamat ya sebentar lagi kamu bakal jadi mayat, semoga sakina mawadah dan warohmah ya." jawabnya sambil manarik kursi dan dengan santainya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Bisa gila aku jika berbicara denganmu.
Kemarilah aku ada berita bagus untukmu" ucap Ida yang menyuruh Dea untuk mendekat ke arahnya.
"Katakanlah di sini, memangnya aku tuli sampai harus mendekat ke arahmu."
"Tidak bisa, ini sangat rahasia, itupun terserah padamu jika kamu mau ya kemari, jika tidak mau ya sudah." balasnya acuh sambil menyedot minumannya dan itu membuat Dea penasaran.
"Kenapa kamu memukulku?" tanyanya dengan sangat marah.
"Itu balasan karena kau tidak memberitahuku bahwa kau sudah menikah dengan bos Keano dan juga tidak mengundangku ke acara pernikahanmu" jelasnya.
"Kamu tahu darimana? maaf sebenarnya aku baru saja akan memberitahukanmu hari ini." ucapnya dengan raut wajah sedihnya.
"Aku mengetahuinya dari Al dan ya aku memaafkanmu kali ini karena aku sahabat yang baik"
"Baik darimana, awas saja nanti Al kalo katemu aku cabuti rambut ketekmu sampai botak" gumam Dea.
"Sekarang ceritakan padaku bagaimana bisa kamu menikahi pengusaha yang kaya dan tampan maksimal seperti bos Keano?" tanyanya penasaran pada Dea.
"Kalau kamu mau ambil saja" jawabnya acuh.
"Tapi sayang bos Keano bukan tipeku, dia dingin, galak lagi pasti dia tidak jago saat bermain ***** di atas ranjang" ucapnga yang menolak tawaran Dea.
"Apa itu ***** di atas ranjang?" tanyanya dengan polos jujur memang Dea tidak mengetahui bahasa aneh yang di katakan Ida.
"Ahh pasti belum sudah terlihat dari sikapmu ini, sekarang ceritakan bagaimana bisa kamu menikah dengannya, apa kamu menyantetnya?" tanyanya berbisik di hadapan Dea, karena Ida berpikir tidak mungkin Keano mau menikahi Dea kalo bukan karena alasan tertentu.
__ADS_1
Dea langsung menyontolonyo kepala Ida karena berbicara yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Kamu pikir aku musyrik begitu, begini-begini aku ini beriman hanya menyembah satu Tuhan tahu."
"Ah iya-iya percaya aku, sekarang cepat ceritakan." ucapnya sambil menatap Dea berharap Dea akan segera menceritakan padanya.
"Aku menikah dengannya karena kami saling mencintai memang karena apalagi" jawabnya yang membuat Ida kurang yakin dan tidak percaya dengan jawaban yang terlontar dari mulut Dea.
"Aku tidak percaya, kamu dengan bos kan baru katemu masa langsung saling mencintai, ceritakan dengan jujur kepadaku, aku janji tidak akan memberitahukannya pada orang lain deh" pintanya dengan mata berbinar berharap Dea mau menceritakan yang sebernarnya.
"Janji." ucap Dea.
Ida menjawabnya dengan anggukan kepala yang begitu antusias.
"Jadi aku dan bos itu menikah karena bos Keano memaksa dan mengancamku, dia mengancam jika aku tidak mau menikah dengannya ia akan memecat semua karyawan yang bekerja di pabrik tanpa uang pesangon dan juga memecat pak Satpam yang sudah membantuku untuk masuk ke dalam pabrik saat terlambat waktu itu." jelas Dea pada sahabatnya tersebut, Ida yang mendengar penjelasan Dea langsung kaget.
"Wahh kejam sekali bos Keano, kalau begitu sudah bisa di pastikan bos Keano pasti belum pernah ***** denganmu" katanya dengan yakin.
Di cafe Q ternyata sudah ada Al yang berada tidak jauh dari tempat duduk Dea dan Ida, Al awalnya ingin menemui mereka namun saat Ida meminta penjelasan pada Dea tentang alasannya Dea mau menikah dengan Keano, Al berhenti dari tempat yang tidak jauh dari Dea, jadi Al mendengar semua alasan mengapa Dea menikah dengan Keano dan itu bukan karena Dea mencintai Keano atau sebaliknya seperti yang Dea jelaskan kepadanya tapi karena sebuah ancaman dan juga paksaan.
"Mengapa Al belum juga datang ya?" ucap Ida yang menunggu kedatangan Al.
"Memangnya kamu mengajak Al bertemu dengan kita?" tanya Dea.
"Heem"
"Mungkin saja dia sedang ada rapat penting dengan kliennya jadi Al tidak jadi datang kemari, maklumlah pengusaha baru, yang sedang naik pohon" jelas Dea.
"Naik Daun, gob*ok." ucap Ida yang membenarkan perkataan Dea.
"Kok kamu ngegas sih," sentak Dea mendengar ucapan Ida.
"Enggak tu, biasa aja" balasnya acuh.
Tiba-tiba ponsel Ida berdering, ia langsung mengambil ponsel yang ada di tasnya dan mengangkatnya.
"Da maaf, aku tidak bisa datang karena tiba-tiba ada rapat dadakan yang harus aku hadiri" jelas Al melalui ponsel.
"Ah iya-iya tidak apa, lain kali kita bisa berkumpul bersama." ucap Ida sambil mematikan ponselnya.
"Siapa?"
"Al, dia tidak bisa datang karena ada rapat yang ahrus ia hadiri"
"Benarkan dugaanku." sambil meminum minuman Ida karena dari tadi ia belum memesan makanan ataupun minuman itu karena Ida yang terus menanyainya tanpa henti hingga membuat Dea tidak sempat memanggil pelayan untuk pesan sesuatu.
💙💙💙Hai kakak-kakak yang baik hati dan tidak sombong terima kasih sudah main ke novelku, aku harap kalian suka dengan novel ini.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan rate bintang 5 yup
Terima kasih dan jumpa lagii bayyy💙💙💙