
Keano dan Dea bergegas pulang ke mansion karena Keano harus mengganti pakaiannya dan berangkat ke kantor.
Setelah menginap satu malam di rumah orang tua Dea, dan kejadian yang sudah terjadi tadi pagi saat sarapan, Dea terus saja diam tidak bicara bahkan saat sampai di mansion Dea tetap diam karena takut bicara dengan Keano.
"Apa maksudmu memanggil saya dengan sebutan menjijikan tadi, dan apa yang sudah kamu katakan tadi kepada orang tuamu, bahwa kita pernah berhubungan suami istri, cihh saya saja tidak tertarik melihat bentuk tubuhmu apalagi menyentuh atau bahkan sampai berhubungan denganmu" ujar Keano dengan nada sombongnya.
"Maaf bos, tapi kalau saya memanggil bos, dengan sebutan 'bos' maka orang tua saya akan curiga jika saya dan bos menikah bukan karena saling mencintai tapi karena bos menganc..."
"Sudah-sudah alasan saja, palingan kamu yang mencari kesempatan untuk memanggil saya dengan sebutan itu, supaya saya senang dan mulai tertarik denganmu, benarkan" ucap Keano yang memotong pembicaraan Dea.
"Tidak bos, saya memanggil bos dengan sebutan sayang itu murni agar orang tua saya tidak curiga, itu saja kok" katanya sambil menggelengkan kepalanya dan menunduk karena tidak berani menatap Keano.
Bagaimana ini, nasibku akan game over atau berlanjut bersama bos Keano yang menyebalkan ini.
"Karena saya adalah pria dan juga suami yang baik, saya mengijinkan kamu memanggil saya dengan sebutan menjijikan tadi, tapi jangan berharap saya akan menyukaimu, karena kamu sudah memanggil saya dengan sebutan menjijikan itu, saat kamu mengucapkan kata itu saya rasanya ingin muntah setiap kali saya mendengarnya dari mulutmu tapi saya akan berusaha menahannya, karena tuntutan saya sebagai seorang suami yang harus membahagiakan kamu sebagai istri saya."
Mengapa jadi aku yang seperti mengejar-ngejar dirinya dan mengharapkan cinta darinya.
Ahh biarkan sajalah yang penting aku selamat.
"Baiklah, terima kasih Sayang" ucap Dea pasrah.
"Sekarang pakaian dasi saya!" perintahnya.
"Tapi Sayang, aku kan tidak bisa meraih lehermu" ucapnya mencari alasan.
"Ambil kursi kecil di bawah meja rias itu!" perintahnya menyuruh Dea mengambil kursi kecil yang sudah ia beli untuk kepentingan Dea memakaikam dasinya.
Oh tidak, alasan apalagi yang harus aku pakai untuk agar tidak memakaikannya dasi.
Andai kemarin aku minta bapak mengajariku untuk memakai dasi, sudahlah pakaikan saja yang kamu bisa De.
Dea mengambil kursi kecil di bawah meja rias dan menaikinya untuk memakaikan dasi di leher Keano, Dea memakaikan dasi sebisanya.
Saat Dea naik di atas kursi tingginya dengan Keano menjadi sama hingga membuat Keano menatap wajah imut Dea saat Dea memakaikan dasinya.
"Sudah selesai" ucap Dea yang selesai memakaikan dasi di leher Keano, tapi saat Dea bicara Keano tidak meresponnya dan hanya menatapnya.
"Saya imut kan Sayang" ucapnya yang menatap balik Keano, Keano langsung mengarahkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
"Jelek" balasnya cuek.
"Jelek-jelek kamu juga menatapku tanpa berkedip tadi," gerutunya pelan.
"Apa-apa an ini, mengapa dasi buatanmu jelek seperti wajahmu, kamu ini bisa membuat dasi atau tidak." kata Keano yang marah karena melihat hasil dasi buatan Dea yang jelek sambil membenarkan dasinya.
"Maaf Sayang, sebenarnya saya tidak bisa membuat dasi tapi karena kamu memaksa ya sudah saya buatkan sebisa saya." ucapnya sambil memainkan jarinya.
"Oh astaga, membuat dasi saja kamu tidak bisa, apa waktu sekolah dulu kamu tidak pernah memakai dasi?"
"Saya memakai dasi waktu ada pemeriksaan kelengkapan saja, itupun saya menyuruh teman saya untuk melakukannya" jawabnya dengan jujur.
"Saya tidak mau tahu besok kamu harus sudah bisa membuat dasi, dan memakaikannya untukku, mengerti!" perintah Keano tidak mau tahu.
"Baiklah Sayang"
Akhirnya Keano memakai dasinya sendiri dan berangkat ke kantor, seperti biasanya di antar oleh Dea sampai pintu dan Dea mencium tangan Keano.
***
Dea berjalan kembali ke kamar sambil memikirkan cara agar besok ia bisa membuat dasi.
Tiba-tiba Dea menabrak salah satu pelayan dan membuat pelayan tersebut terjatuh.
"Ehh, maaf maaf aku tidak sengaja" ucap Dea sambil membantu pelayan berdiri yang terjatuh karena ia tabrak.
"Tidak apa-apa nona ini salah saya karena saya tidak melihat jika ada nona, maafkan saya nona" katanya sambil menunduk karena takut jika di marahi Dea.
"Apa maksudmu kamu tidak melihatku, apa kamu menghinaku karena aku ini kecil dan juga sangat imut" ucapnya pura-pura marah.
"Bukan maksud saya menghina nona tapi saya tadi terburu-buru jadi saya tidak memperhatikan jika ada nona di sini, maaf nona tolong jangan pecat saya"
"Baiklah aku tidak akan mempermasalahkannya, asalkan kamu mengajari saya cara membuat dasi dengan baik, bagaimana?" tawar Dea.
"Hanya membuat dasi saja nona?"
"Heem, bagaimana kamu mau kan?"
"Baik nona" ucap pelayan menyetujuinya.
__ADS_1
"Kamu tunggu di sini, aku akan mengambil dasi dan kembali lagi ke sini, okee."
Dea pergi mengambil salah satu dasi Keano yang berada di kamarnya, dan kembali lagi pada pelayan yang ia tabrak, lalu mereka pergi ke taman belakang mansion untuk mengajari Dea memakai dasi.
"Wahh, kamu hebat juga ya, baru sebentar kamu mengajari aku tapi aku langsung bisa" ucap Dea yang memuji kemampuannya.
"Biasa saja nona"
"Jangan panggil aku nona, panggil saja namaku Dea, D E A.
Siapa namamu?" ucap Dea yang mengeja namanya dan menayakan nama sang pelayan.
"Nama saya Dini nona, Tidak bisa nona, nona adalah istri dari tuan muda jadi otomatis nona juga majikan saya, jika tuan muda tahu saya bisa di pecat karena sudah tidak sopan pada nona." jelas Dini.
"Baiklah, terserah kamu saja. Apa kamu mau menjadi temanku di sini?" tanyanya pada Dini dan berharap Dini mau menjadi temannya karena Dea merasa sangat kesepian di mansion.
"Tapi nona, saya hanya seorang pelayan"
"Memangnya kenapa jika kamu pelayan, aku tidak boleh berteman denganmu lagian nih ya jika di mata Tuhan status kita semuanya sama. Mau yaa kamu jadi temanku." ucapnya yang berharap agar Dini mau menjadi temannya.
"Baik nona"
Dea langsung memeluk Dini karena senang akhirnya di mansion ini Dea mempunyai teman untuk dia ajak berbicara.
Kau sungguh baik hati nona, kau tidak membeda-bedakan orang berdasarkan statusnya meski nona adalah istri tuan muda.
"Mengapa kamu bekerja jadi pembantu di sini, di luar sana kan banyak pekerjaan yang lain yang lebih baik dan kamu juga keliatan masih muda, cantik lagi pasti banyak perusahaan yang mau nerima kamu sebagai karyawannya."
"Saya ini hanya orang miskin nona, bekerja di sini saja saya sangat bersyukur, walaupun saya di sini bekerja jadi pembantu gaji saya bisa menghidupi kelurga saya yang ada di kampung, karena tuan muda menggaji kami tiga kali lipat dari gaji pembantu pada umumnya"
"Ohh begitu yaa" ucapnya sambil manggut-manggut.
Bos ternyata baik juga.
**Hai kakak-kakak yang baik hati dan tidak sombong terima kasih sudah main ke novelku, aku harap kalian suka dengan novel ini.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan rate bintang 5 yup.
Dan tolong kritik dan sarannya, jika ada kesalahan dalam novelku ini.
__ADS_1
Terima kasih dan jumpa lagii bayyy**.