Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
25. CIUM TANGAN


__ADS_3

Tok-tok...


Keano membuka pintu kamarnya karena pelayan sudah datang membawakan pakaian Dea.


"Ini tuan pakaian nona" ucap pelayan sambil menundukkan kepalanya.


"Hem, pergilah" balas Keano yang langsung menutup pintunya.


Keano melemparkan semua pakaian Dea di atas tempat tidur, "Segera kamu pakai salah satu di antaranya dan yang lain kamu simpan di lemari" perintah Keano kepada Dea yang masih terus menunduk.


Dea pun mengambil salah satu pakaian yang Keano berikan dan mengganti pakaiannya di ruang ganti.


"Kau suruh pak Jamal untuk mengumpulkan semua pelayan!" perintah Keano pada Ken lewat ponsel.


"Baik tuan muda."


Ada apa lagi ini sebenarnya, mengapa tuan sampai menyuruh saya mengumpulkan semua pelayan.


Ken akhirnya memberitahukan kepada pak Jamal untuk mengumpulkan semua pelayan karena sebentar lagi Keano akan segera turun untuk menemui mereka.


Semua pelayan sudah berkumpul hanya tinggal menunggu tuan mereka yang menyuruh mereka untuk berkumpul.


"Mengapa kita di kumpulkan di sini, apa kita akan di berikan THR atau semacam bonus oleh tuan muda?" bisik salah satu pelayan.


"Diamlah, jika kamu masih ingin tetap bekerja di sini" jawab pelayan yang lain, seketika pelayan yang tadi berbicara langsung diam.


Keano datang dan semua pelayan menundukkan pandangannya, "Kalian semua tahu mengapa saya mengumpulkan kalian di sini?


Kalian tahu kesalahan apa yang sudah kalian perbuat?" tanya Keano.


"Tidak tuan." jawab semua pelayan secara bersamaan.


"Bodoh, kalian sudah berani memandang istri saya dan kalian masih tidak menyadari jika itu adalah sebuah kesalahan, terutama pelayan pria mulai sekarang jangan pernah melirik apalagi memandangnya, jika kalian berani memandangnya, akan saya pecat kalian bahkan mata kalian akan saya congkel. Mengerti!" jelas Keano dengan nada tinggi.


"Mengerti tuan" ucap para pelayan yang merasa takut.


"Kembali ke pekerjaan kalian"


Dea sudah selesai mengganti pakaiannya dan turun untuk sarapan ke bawah, di meja makan sudah ada adik iparnya, ibu mertuanya dan juga suaminya, Dea langsung duduk di kursi dekat Reno.


Wahhh banyak sekali makanannya, kalau saja ini prasmanan di acara nikahan sudah aku masukkan semuanya ke dalam kantong kresek hahaha.


"Mengapa kamu duduk di situ duduk di sini!" ucap Keano sambil menunjuk kursi di dekatnya yang membuat Dea tersadar dari lamunannya.


Bos sepertinya senang sekali aku dekat-dekat dengannya.


Tanpa berkata Dea langsung pindah di kursi yang berada di dekat Keano, semua orang yang ada di meja makan sudah mulai memakan sarapan mereka tanpa bersuara.


Apa seperti ini caranya orang kaya sarapan, tidak asik sekali. Kalau sarapan di rumah sekarang pasti ramai, karena mulut ibu yang tidak bisa diam terus saja mengoceh memarahiku dan juga bapak, aku jadi kangen.


"Kak kenapa kakak tidak memakan sarapan kakak, apa tidak ada makanan yang kakak sukai?" tanya Reno.

__ADS_1


Dea langsung tersadar dari lamunannya,


"Tidak, aku suka kok."


Dea mengantarkan Keano sampai depan pintu, layaknya seorang istri yang baik pada umumnya.


"Cium tangan saya!" perintah Keano sambil menyodorkan tangannya ke arah Dea.


"Haa" ucap Dea dengan mata melotot yang heran dengan sikap Keano.


"Apa yang kamu lihat, cepat cium tangan saya atau kamu yang saya cium, mau?"


Dea langsung mengambil tangan Keano dan menciumnya daripada ia yang harus di cium oleh Keano.


"Nanti saya akan pulang jam 7 malam, jadi kamu harus bersiap-siap untuk menyambut kedatangan saya, mengerti!"


"Mengerti" jawabnya.


Seperti Raja saja, yang harus di sambut.


Itu berarti aku harus mandi lagi sore nanti, ahh sial.


"Apa ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Keano karena melihat raut wajah Dea yang seperti ingin bertanya tapi merasa takut untuk berkata.


"Apa memang harus seperti itu yaa?" tanyanya sedikit takut.


"Iya, memangnya kenapa?


"Tidak-tidak saya mau kok" balas Dea dengan cepat yang takut di katai istri durhaka.


"Bagus" ucapnya sambil mengelus-elus rambut Dea, seperti seorang anjing yang sedang di elus oleh tuannya.


Di mobil Keano terus tersenyum mengingat tingkah aneh Dea, Ken terus melihat tuannya yang senyum-senyum sendiri melalui kaca spion.


"Kendarai mobilnya dengan benar" ucap Keano yang melihat Ken terus memandangi dari kaca spion.


Dea merasa bosan di mansion tidak ada teman untuk di ajak bicara, Reno pergi kuliah, ibu mertuanya juga pergi kalaupun di rumah palingan juga tidak mau di ajak ngobrol dengannya dan juga para pelayan mereka semua sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Aku pergi ke rumah ibu saja, mereka pasti rindu denganku.


Dea bersiap-siap mengambil tas dan juga ponselnya, Dea sudah sampai di pintu keluar tapi tiba-tiba pak Jamal memanggilnya.


"Nona Dea" teriak pak Jamal.


Dea pun berhenti dan menengok ke arah pak Jamal, "Iya, ada apa pak?"


"Nona mau pergi kemana?"


"Saya mau pergi ke rumah orang tua saya, memangnya ada apa pak?"


"Apa nona sudah minta ijin pada tuan muda?" tanyanya karena takut jika Dea belum ijin pada Keano nanti Keano bisa marah.

__ADS_1


Ribet sekali, nanti sajalah aku ijin saat sudah sampai di rumah.


"Sudah pak" kata Dea berbohong karena ia berencana akan menelpon Keano saat sudah sampai di rumah nanti.


"Danang" panggil pak Jamal dengan keras.


"Iya pak Jamal" jawab Danang.


"Antarkan nona ke rumah orang tuanya!" perintah pak Jamal.


"Tidak perlu pak, saya tadi sudah pesan ojek online kok, kan kasian tukang ojeknya kalau pesanannya di batalkan."


"Tapi nona..."


"Tidak apa pak, nanti tetangga saya malah kaget semua, karena melihat saya yang pulang di antar pakai mobil bisa-bisa mereka mengira saya naik mobil bagus karena hasil ngepet bagaimana? kan tidak lucu." ucapnya sambil tersenyum manis.


"Baiklah, hati-hati nona" kata pak Jamal dan di tanggapi Dea dengan senyuman.


Kau memang baik hati nona, pantas saja tuan muda menjadikan nona sebagai istrinya.


Dea keluar dan di luar sudah ada abang ojek yang menunggunya.


"Ayo bang jalan" ucapnya sambil menepuk pundak abang tukang ojek.


"Neng yang tinggal di rumah gede tadi ya?" tanyanya penasaran karena merasa heran orang kaya kok mau naik ojek.


"Iya saya tinggal disana memangnya kenapa?"


"Kenapa tidak naik mobil neng, pasti mobilnya banyak?"


"Gak ahh, kalo saya naik mobil saya gak bisa berduaan dong sama abangnya hahaha" kata Dea bercanda sambil tertawa.


"Ahh neng bisa aja" katanya yang tersipu malu.


"Ihhh abang seneng banget kayaknya saya gombalin, inget anak istri bang" katanya memperingatkan.


Setelah perjalanan yang cukup jauh sambil berbincang-bincang dengan tukang ojeknya, tidak terasa akhirnya Dea sampai juga di rumah orang tuannya.


"Makasih bang ini uangnya, kembaliannya di kasihkan ke kotak amal masjid ya"


"Maksudnya neng?"


"Kembaliannya buat jajan anak abang."


"Makasih neng"


**Hai kakak-kakak yang baik hati dan tidak sombong terima kasih sudah main ke novelku, aku harap kalian suka dengan novel ini.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan rate bintang 5 yup.


Terima kasih dan jumpa lagii bayyy**.

__ADS_1


__ADS_2