
Dua bulan kemudian.
Kandungan Dea kini sudah berusia delapan bulan dan semakin membesar pastinya. Keano juga sering mengambil cuti, hanya untuk menjaga Dea atau sekedar berduaan saja dengan Dea. Bos mah bebas, tidak berangkat kerja tidak ada yang memarahi dan uang tetap mengalir.
"Sayang kita beli perlengkapan untuk anak-anak kita yuk" ajak Dea, mengingat sebentar lagi ia akan segera mmelahirkan. Jadi sebelum lahiran Dea ingin keperluannya sudah siap.
"Untuk apa kita beli sendiri, aku bisa menyuruh orangku untuk membelinya atau menyuruh penjualnya datang kemari" balas Keano cuek sambil terus mengelus dan menciumi perut Dea.
Kegiatan rutin yang akhir-akhir ini sering Keano lakukan. Keano antara tidak mau pergi keluar karena takut Dea kecapean atau tidak mau pergi karena hanya ingin berduaan menghabiskan waktu bersama Dea saja.
Dea langsung berdiri dan menjauh dari Keano, "Bapaknya kamu atau orangmu?! Lihat sayang Bapakmu, dia tidak mau membelikan perlengkapan bayi untuk kalian. Bapak kalian malah menyuruh orangnya. Maunya ngebuat kalian doang, tapi menemani Mommy membeli perlengkapan untuk kalian malah malas-malasan!"
"Baiklah aku akan menyuruh penjualnya datang kemari, kamu bisa memilih sepuasnya. Jadi kemarilah aku masih ingin menciumi perutmu" Keano melambaikan tangannya, menyuruh Dea untuk tidur kembali di ranjang.
"Tidak mau! Aku mau pergi langsung ke tokonya. Kalau kamu tidak mau, aku akan pergi sendiri naik ojol" Dea berbalik dan hendak pergi, dengan sigap Keano datang lalu menghentikan Dea.
"Dengar Deu, aku tidak mau kamu capek karena banyak jalan kesana kemari, aku tidak mau terjadi hal yang tidak aku inginkan nantinya. Aku jamin meski penjualnya yang kemari tapi akan banyak pilihan sama bahkan lebih banyak dari yang ada di tokonya" Keano menyakinkan Dea dengan lembut sambil memegang kedua tangannya, agar Dea tidak jadi pergi.
"Heemm ya udah deh, penjualnya saja yang kemari" ucap Dea dengan cemberut, setelah menimang perkataan Keano ada benarnya. Dea tidak bisa egois dengan mempertaruhkan keselamatan bayinya hanya untuk keinginannya.
Keano langsung mengambil ponselnya dan menelpon sekretaris Ken, untuk menyuruh penjual perlengkapan bayi datang ke mansion. Setelah menelpon sekretaris Ken, Keano kembali mengajak Dea rebahan di ranjang.
"Ayo tidur lagi, aku masih rindu dengan kalian, ingin memeluk dan mengelus perutmu"
__ADS_1
Rindu apanya orang tiap hari ketemu dan selalu mengelus perutku.
Dea akhirnya pasrah, ia mendekat ke arah Keano untuk kembali ke posisi awal yakni tidur dengan posisi kepala Keano yang di letakkan di perut Dea, sesekali mendengarkan detak jantung anaknya, mengelus serta menciuminya.
"Sayang anak kita nanti namanya Deno untuk anak laki-laki dan Deka untuk anak perempuannya, ya" saran Dea, Dea tiba-tiba kepikiran ingin untuk memberi nama anak mereka dan nama itu terlintas begitu saja di otaknya.
"Apa arti dari kedua nama itu?"
"Itu singkatan dari nama kita berdua, supaya kelak dimana pun anak kita berada, mereka akan selalu mengingat kita" jelas Dea, Keano menanggapinya dengan senyuman.
"Bagus. Deno Evano Atmaja dan Deka Evana Atmaja, bagaimana?" Evano memiliki arti 'anugerah Tuhan yang paling indah', karena hadirnya anak-anak yang masih di dalam kandungan Dea itu, menjadi anugerah yang paling indah dalam hidup Keano. Karena menambah kebahagiaan serta menjadi pelengkap dalam keluarga kecilnya.
"Bagus Sayang. 'Anugerah Tuhan yang paling indah', sama seperti Mommynya indah dan cantik" ucap Dea sambil tertawa garing dengan kepedeannya yang luar biasa. Mereka pun akhirnya saling berpelukan sambil bertukar senyuman. Dea merasa nyaman dan damai saat melihat senyum Keano sedangkan Keano merasa sempurna karena memiliki istri yang senyumannya selalu bisa membuat amarahnya mereda saat melihatnya.
"Penjual perlengkapan bayinya sudah sampai Tuan" balas pelayan dengan gemetar. Mendengar nada bicara Keano yang terdengar sedang kesal, meski setiap hari sepertinya nada bicaranya sama.
Tanpa menjawab, Keano langsung menutup pintu kamarnya, "Deu penjual perlengkapan bayinya sudah sampai. Ayo kita turun dan memilihkan semua keperluan bayi kita" ajak Keano dengan senyum dan nada bicara yang lembut, sangat jauh berbeda saat berbicara dengan pelayan tadi. Sungguh Keano dapat berubah 180 derajat, jika di hadapkan dengan Dea. Seakan sikap sombong, arogan dan kasarnya hilang entah kemana dan beralih menjadi lembut, manis serta romantis, jika berbicara dengan Dea.
🌻🌻🌻
Di ruang tamu yang luas, semua perlengkapan bayi sudah berjajar dan tertata rapi seperti di toko secara langsung bahkan bisa di bilang ini lebih besar dan lengkap di bandingkan di tokonya.
Dea langsung menghampiri dan memilih satu persatu perlengkapan bayi, mulai dari baju, mainan dan kereta dorongnya.
__ADS_1
"Sejak kapan mansion ini menjadi toko perlengkapan bayi?" Reno yang baru saja pulang dari kuliah, kaget melihat mansion yang penuh dengan perlengkapan bayi.
"Dari tadi, kenapa iri?! Kalau iri, pilih aja sepuasmu, tenang aku yang akan membayarnya" tuturnya dengan gaya angkuh mirip seperti saat Keano berbicara, Dea menunjukkan kartu unlimitednya yang di berikan Keano padanya sambil menepuk pundak Reno dan berujung mendapat tatapan mencolok dari Keano.
"Hehe maaf Sayang, khilaf" ucapnya dengan cengiran khas miliknya. Keano langsung berada di tengah antara Reno dan Dea, untuk berjaga saat Dea khilaf lagi.
"Jika aku beli, untuk siapa?" Ucapnya bingung sendiri, nikah saja belum sudah beli perlengkapan bayi. Mau jamuran tuh perlengkapan bayi karena kelamaan di timbun.
"Oh iya aku suka pura-pura lupa, kalau kamu itu JOMBLO. Terakhir putus sama tapi pusar, duh ngenes sekali hidupmu haha" ejek Dea di iringi dengan tawa hinaan, Reno hanya meratapi nasibnya yang memang benar kenyataannya.
"Oh iya kak, apa nama dari calon keponakanku?" Alih Reno agar Dea berhenti menertawakan nasib jomblonya.
"Deno dan Deka, indah 'kan?"
"Hemz wakakawakaka" Reno yang tadinya berusaha menahan tawanya, akhirnya pecah tak terbendung.
"Kenapa kamu tertawa, memang ada yang lucu?" Tanya Dea, ia bingung apa yang sebenarnya Reno tertawakan.
"Kalian memberi nama keponakanku dengan singkatan dari nama kalian berdua, haha alay sekali aku kira namanya Renata, Natasha, Sean, David atau Reno biar ganteng seperti aku, ehh ternyata namanya singkatan nama kalian haha" Reno terus tertawa mengingat nama calon keponakannya. Sampai ia lupa, malaikat mautnya sedang mengawasinya dan siap mencabut nyawanya kapan saja.
"Kamu sudah menyiapkan kuburan?" Tutur Keano sambil menatap Reno dengan tatapan yang siap menerkam mangsa.
"Hehe maaf kak, aku tadi hanya bercanda. Nama calon keponakanku bagus dan indah kok" Reno akhirnya mengakui keindahan nama keponakannya setelah mendapat tatapan serta ancaman Keano.
__ADS_1
Bersambung...