
Matahari hampir terbenam menandakan akan datangnya malam.
Keano segera mengantarkan Dea ke rumahnya karena sudah magrib,
Dea diantar oleh Keano tanpa sekretarisnya Ken, sehingga di dalam mobil hanya ada Keano dan Dea.
Dea sebenarnya merasa tidak enak dengan Keano karena dirinya, bosnya bertengkar dengan ibunya, Dea melihat raut kesedihan di raut wajah Keano.
Tadi saat di mansion Keano, Dea terkejut karena Keano membelanya dengan sepenuh jiwanya, bahkan sampai berani melawan ibunya.
Ingin rasanya Dea menghibur Keano tapi ia tidak tahu dengan cara apa, supaya Keano tidak sedih lagi. Walaupun raut wajah sedihnya tidak ada bedanya dengan raut wajah dinginnya, tapi Dea tahu jika Keano sedang bersedih.
Akhirnya Dea meminta izin pada Keano untuk menyalakan radio, mungkin dengan mendengarkan radio otak Dea bisa segar lagi dan dapat menemukan ide untuk menghibur Keano.
"Bos, radionya boleh saya hidupkan tidak?" Ijin Dea pada Keano dengan menampilkan senyum imutnya.
Keano hanya melirik Dea dan berdehem tanda persetujuan.
"Terima kasih bos" kata Dea dan dengan segera ia menyalakan radionya.
Dan kebetulan sekali saat Dea menyalakan radio, lagu kesukaannya di putar yakni lagu Bad Liar.
Dengan suara cempreng dan menggelegarnya Dea bernyanyi, tanpa memperdulikan Keano yang berada di sampingnya, karena Dea merasa suara bagus jika sedang menyanyikan lagu tersebut padahal aslinya suaranya bisa selaput gendang pecah.
Look me in the eyes
Tell me what you see
Perfect paradise
Tearing at the seams
...........
Bad Liar, Bad Liar
Now you no, you free to gooooo
Begitulah Dea bernyanyi, Keano yang mendengar suara Dea yang cempreng saat bernyanyi langsung mematikan radionya.
"Kau ini tidak becus bernyanyi jadi hentikan aktivitas menyanyimu itu, karena suaramu yang jelek itu bisa merusak telinga saya" katanya dengan nada tinggi memarahi Dea.
"Sembarangan bos kalo ngomong, suara saya itu merdu tau.
Telinga bos saja yang rusak atau mungkin banyak kotorannya, hingga tidak bisa membedakan suara merdu dengan suara yang jelek" bela Dea dengan sangat pede.
"Ya merdu, merusak dunia."
"Bos mah membuat rasa percaya diri saya menurun" ucapnya sedih dan cemberut, membuatnya semakin terlihat imut.
Kenapa saya bisa suka dengan gadis bodoh seperti dirinya.
"Kamu mau makan tidak?" tawar Keano pada Dea, dengan pandangan fokus menyetir tanpa melihat Dea.
Dea senang bukan main, kebetulan sekali ia merasa sangat lapar.
Dengan wajah gembiranya Dea menatap Keano dan menganggukkan kepalanya.
Kenapa wajahnya terlihat sangat imut saat mengeluarkan ekspresi seperti itu.
__ADS_1
"Heem, mau bos. Bos tahu saja jika saya sedang merasa lapar.
Tapi jangan makan di restoran mahal bos, kita makan di warteg langganan saya saja. Di jamin enak deh bos, melebihi masakan hotel bintang tuju masuk angin. Yaa bos" pinta Dea dengan antusias.
"Tidak, saya tidak mau. Nanti perut saya sakit kamu mau tanggung jawab"
"Ayolah bos, makanan di warteg langganan saya kualitasnya baik kok bos.
Buktinya saya selalu makan di sana, dan tidak terjadi apa-apa pada saya.
Di sana saja yaa boss" Dea memohon dengan menempelkan kedua tangannya.
"Baiklah tapi saya tidak akan ikut makan"
Terserah padamu, memangnya aku peduli apa jika kau tidak makan.
Dea menunjukkan jalan menuju warteg kesukaannya, saat sudah sampai di warteg Dea langsung masuk di ikuti Keano di belakangnya.
Dea awalnya menyuruh Keano agar tetap berada di mobil, karena Keano bilang tidak ingin makan di warteg, tapi Keano memaksa untuk ikut bersama walau tidak makan.
"Bos, bos di sini saja, saya akan kesana sendiri daa," kata Dea sambil melambaikan tangannya namun suara Keano menghentikannya.
"Tunggu"
"Iya bos ada apa?"
"Saya akan ikut"
"Tapi bos kan tidak makan untuk apa ikut, bos kan tidak makan?"
"Terserah saya di sini siapa bosnya."
Keano sebenarnya khawatir pada Dea jika Dea berjalan sendirian menuju warteg, wartegnya harus melewati jalan yang lumayan sempit hanya motor dan sepeda yang bisa lewat tidak dengan mobil.
Namun Keano merasa malu untuk mengakuinya kepada Dea, maklumlah Keano sangat menjunjung tinggi harga dirinya.
Di rumah Dea, Al sudah datang ke rumah Dea untuk meminta penjelasan darinya tentang kepergiannya dari pesta yang tidak memberitahui Al.
"Om tante, kenapa Dea belum pulang juga padahal sekarang sudah jam tuju.
Apa Dea lembur ya tan.?" tanya nya pada Dena dan Rifa'i.
"Tidak mungkin lembur karena jika lembur Dea akan ijin dulu pada kami, iyakan pak?" jelas Dena pada Al.
"Heem, coba kamu telpon Dea." pinta Rifa'i pada Al.
"Sudah om, Al sudah menelpon Dea berkali-kali tapi telponnya tidak aktif."
"Anak ini merepotkan sekali, awas saja nanti kalau pulang ibu kuliti dia."
Semua orang menghawatirkan Dea yang tidak pulang-pulang, tapi di lain tempat Dea bersenang-senang memakan makanan di warteg.
"Kang pesen semur jengkol plus nasinya sama sate 10 tusuk dan es tehnya satu."
"Baik De, terus sebelah Dea mau pesan apa?"
"Tidak pesan kang"
"Baiklah di tunggu ya De"
__ADS_1
Kecil-kecil tapi makannya banyak sekali, tidak ada perubahan juga dengan tubuhnya masih kecil seperti kurcaci.
"Bos yakin tidak mau pesan?" tanyanya.
"Tidak".
Makanan Dea akhirnya datang, Dea langsung menyantap makanannya terutama semur jengkol kesukaannya.
"De siapa pria di sampingmu itu?
Apa dia kekasihmu?" tanya kang jaja penjaga warteg.
Tapi saat Dea akan menjawan pertanyaan kang jaja, Keano terlebih dulu menjawabnya.
"Ya saya kekasihnya lebih tepatnya calon suaminya".
"Wah kau keterlaluan De, sudah mau menikah tapi tidak memberitahu akang" katanya pura-pura menampakkan wajah kecewa.
"Tapi kang"
"Sudah-sudah akang becanda, selamat ya kamu akan segera menikah dan jangan lupa undang akang ya sekarang habiskan makananmu." pinta kang jaja pada Dea.
"Baik kang"
Dea asik memakan satenya, karena semur jengkolnya sudah habis.
Keano terus memperhatikan Dea yang memakan makanannya dengan lahap.
"Bos mau," katanya sambil menyodorkan sate miliknya.
"Tidak"
"Coba sedikit saja bos ini enak sekali tau"
'Aaaaa' suara Dea sambil membuka mulut dan menyodorkan sate kepada Keano.
Keano yang melihat sikap Dea, tanpa sadar membuka mulutnya mengikuti mulut Dea.
Dea yang melihat mulut Keano terbuka, segera memasukkam sate ke dalam mulutnya.
"Bagaimana bos enak kan?"
"Lumayan. Sini punyamu" ucap sambil mengambil sate milik Dea.
"Ehh bos, tapi ini kan punya saya bos pesan sendiri sana" protes Dea.
"Berisik kamu, kamu saja yang pesan sendiri. Berani sekali kamu menyuruh saya".
Itukan sate milikku main ambil aja, jika bos mau sendiri kan bisa kenapa mesti ambil milikku, dasar Permakor (perebut makanan orang) lagian itukan bekasku kenapa ia memakannya.
Setelah selesai makan sate bekas Dea, Keano langsung minum minumam Dea juga. Itu berarti Dea dan Keano secara tidak sengaja sudah berciuman walaupun tidak secara langsung.
Oh dia juga meminum bekas minumanku, oh bibir suciku kau sudah ternodai .
**Hai kakak-kakak, terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca novelku ini.
Jika kalian suka dengan novel ini masukkan saja ke daftar favorit kalian, dan jangan lupa like, komen dan votenya.
Salam manis dari author😊
__ADS_1
Tengkyu semuanya dada jumpa lagiiii**.