
Setelah kepergian Keano, Dea memutuskan untuk tidur karena merasa lelah, lelah pikiran sekaligus lelah badannya.
Tapi semua orang meminta penjelasan pada Dea, kemana tadi ia pergi bersama Keano dan apa saja yang di lakukan Keano, mengapa jam 9 malam baru pulang.
Terutama Al, ia begitu sangat penasaran kenapa Dea bisa mengenal Dea bahkan mereka akan segera menikah.
"Bu, aku ke kamar dulu ya, mau tidur soalnya besok mesti bekerja" katanya sambil berjalan menuju ke kamarnya.
"Hei tunggu dulu, duduk sini" suruh ibu sambil menepuk sofa di sebelahnya mempertandakan supaya Dea duduk di sebelahnya.
"Iya, ada apa bu?" jawabnya sambil duduk.
"Habis darimana kau tadi bersama Keano?" Tanya ibu penasaran.
"Ke mansionnya untuk bertemu dengan keluarganya, setelah itu kami makan bersama di warteg kesukaan Dea," jawabnya jujur tanpa ada yang di tutupi.
"Haa makan di warteg. Aku pikir dia kaya, di lihat dari gayanya saja seperti orang kaya tapi ternyata miskin, masa mengajak calon istrinya makan di warteg" ucap ibu yang langsung menilai Keano tanpa menunggu penjelasan dari Dea.
"Dia memang kaya bu, tapi..." belum selesai mengatakan apa yang ingin ia katakan karena Dena memotong pembicaraannya.
"Ahhh berarti dia kaya tapi pelit. Dasar pelit, medit, ibu tidak mau punya mantu pelit sepert..." ucapnya terhenti karena gantian Dea yang memotong omongannya.
"Hahh ibu, kau ini aku belum selesai bicara tapi ibu sudah memotongnya, dasar ibu tidak sopan" ucap Dea merasa marah.
'Plakk..." suara pukulan tangan Dena yang memukul Dea.
'Aww bu, ini sakit" katanya merasa kesakitan sambil mengelus bagian yang di pukul ibunya
"Berani kau mengatai ibu tidak sopan yaa," sambil menatap Dea dengan aura membunuh.
__ADS_1
"Tidak ibu, Dea becanda kok" katanya sambil cengengesan.
"Jadi begini, sebenarnya aku yang memintanya untuk makan di warteg, dia sudah menolak agar tidak makan di warteg dan meminta agar makan di restoran tapi aku memaksanya untuk makan di warteg" jelas Dea.
"Dasar perut ndeso, di ajak makan enak malah tidak mau" ucap ibu menghina Dea.
"Bukan masalah ndeso atau tidaknya, tapi ini masalah kesederhanaan ibuu" jawab Dea membela dirinya.
Al yang sudah selesai mendengar pertengkaran antara ibu dan anak di hadapannya, akhirnya ia berbicara mengeluarkan semua pertanyaan di dalam pikiran dan hatinya, yang sedari tadi ingin ia tanyakan pada Dea.
"Apa maksud dari semua ini De, calon istri? Apa kau akan menjadi istri tuan Keano De?.
Kenapa kau tidak bilang padaku De, apa aku tidak begitu berarti dalam hidupmu? Hingga kau tidak memberitahu aku bahwa kau akan segera menikah." Kata Al yang marah sekaligus kecewa pada Dea.
"Al aku bisa jelaskan semuanya padamu, ayo kita keluar akan aku jelaskan semua kepadamu" pinta Dea pada Al dengan gelisah karena melihat Al yang terlihat kecewa, namun Al menolak karena sudah terlanjur kecewa pada Dea yang tidak memberitahu ia tentang semua yang terjadi kepadanya.
Tapi Rifa'i mencoba memberi pengertian pada Al, agar mendengarkan penjelasan Dea terlebih dahulu.
"Iya Al tante mohon dengarkan dulu penjelasan Dea, jangan hanya karena hal ini persahabatan kalian yang sudah lama terjalin, terputus karena hal ini" kata Dena yang juga berusaha menyakinkan Al.
Al melihat wajah Dea yang terlihat sedih dan seperti memohon agar Al mau keluar agar ia dapat menjelaskan semua yang terjadi padanya dan Al akhirnya luluh dan mau keluar untuk mendengar penjelasan Dea.
"Baiklah" kata Al, Dea yang mendengar langsung merasa sangat senang, sontak saja menggandeng tangan Al untuk keluar rumah. Dea akan menjelaskan semuanya di luar sambil jalan-jalan di sekitar rumahnya.
Al terus melihat pergelangan tangannya yang di pegang oleh Dea, Al merasa sakit jika harus merelakan Dea untuk pria lain. Al sudah lama mengenal Dea dan begitu juga dengan perasaannya, ia juga sudah lama memendam perasaannya untuk Dea, namun Dea tak pernah menyadarinya, ingin rasanya ia mengungkapkan perasaannya kepada Dea tapi ia takut persahabatannya yang begitu dekat ini, menjadi renggang karena perasaan yang ia miliki untuk Dea ini.
Apa aku rela melepaskanmu bersama pria lain De?
Aku hanya ingin kau selalu merasa bahagia, dan jika dengan cara aku melepaskanmu kau bisa merasa bahagia, maka aku akan mencoba mengikhlaskanmu. Aku mencintai De, lebih dari aku mencintai diriku sendiri, semoga kau slalu bahagia.
__ADS_1
"Al maafkan aku, sungguh aku tidak ada niat untuk tidak memberitahumu, aku akan memberitahumu tapi menunggu waktu yang tepat. Maafkan aku ya hemmm" pintanya dengan raut wajah sedih sambil menempelkan kedua tangannya tanda permintaan maaf.
"Sudahlah hentikan sikapmu itu, aku ingin muntah rasanya melihat wajahmu yang menjijikan itu. " kata Keano, ya Keano memang tidak tega jika melihat Dea bersedih, ia akan selau berusaha untuk menghibur Dea untuk menghilangkan kesedihan Dea, walau harus mengejeknya.
"Apa kau bilang? Menjijikan? Bagaimana bisa menjijikan, wajahku ini akan selalu terlihat imut walau aku sedang menangis, marah ataupun sedang BAB tau"
"Hahaha... imut darimana dan dimana letak keimutanmu, malahan kau terlihat seperti mbak kunti yang sedang menangis di malam hari kalau seperti ini" ejek Al.
"Kau yaa" ucap Dea sambil berlari dan berusaha memukul Al yang lari darinya, akhirnya mereka saling kejar-kejaran seperti sepasang kekasih di film bollywod india.
"Aah sudah sudah berhenti, aku sudah capek" ucap Al sambil ngos-ngosan dan mengatur pernapasannya.
"Helehh, badan saja besar tapi lari sama aku yang badannya kecil saja kalah cuih, kecilkan lagi sana badan kamu biar tidak bikin malu"
"Ya ya kau pemenangnya, sekarang duduklah kemari dan jelaskan yang terjadi padamu." Katanya sambil duduk di pinggir jalan dan menyuruh Dea untuk duduk bersamanya.
"Katakan" sambung Al.
"Sebenarnya waktu pertama kali aku bertemu dengannya memiliki kesan yang tidak baik, dia tidak sengaja menyerempet aku terus aku memukulnya tapi ia tidak membalasnya sama sekali dan saat aku berangkat ke pabrik ternyata dia bosku, aku semakin takut dongg, dia tau kalau aku bekerja di pabriknya.
Secara tidak sengaja kami bertemu dan saat bertemu itu tiba-tiba dia melamarku mengajakku menikah, dan aku menerimanya," jelasnya.
"Jadi kau terpaksa mau menikah dengannya?" tanya Al penasaran.
"Ya awalnya, tapi setelah beberapa hari melihat sikapnya kepadaku dan orang tuaku yang begitu sopan dan baik, aku memutuskan untuk menjalakan hubungan ini secara pelan-pelan" ucap Dea berbohong kepada Al karena ia tidak mau Al terlalu cemas dan memikirkan masalahnya, jika ia mengatakan yang sebenarnya kepada Al.
Bahwa ia sebenarnya di paksa untuk menikah dengan Keano, maka Al pasti akan berusaha mencari jalan keluarnya dan Dea tahu tidak mudah melawan bos Keano yang begitu berkuasa itu, Dea tidak mau Al juga menjadi korban karena berusaha memutuskan hubunganku dengan bos.
**Hai kakak-kakak yang baik, terima kasih dah baca novelku aku harap kalian suka dengan novel ini.
__ADS_1
Dan mohon dukungannya untuk like, komen dan votenya.
Tengkyu😊**