
Setelah tadi Keano memesan makanan untuk di antar ke ruangannya melalui telepon, tidak selang berapa menit makanan datang di antar oleh OB.
Wahh tampilan makanannya sepertinya begitu lezat, padahal tadi sebelum kemari aku baru saja makan di kafe tapi mengapa sudah lapar lagi, dasar aku rakus. Ahh tidak boleh aku kan sedang marah dengan bos Keano.
Keano memakan makanannya sambil berbicara, seperti ia sedang menjadi host di acara tv yang sukanya memakan makanan lalu menilainya.
"Makanan ini sungguh enak dan lezat, dagingnya empuk dan rasanya pas antara rasa asin, manis, pedas bercampur menjadi satu" ucap Keano yang memanas-manasi Dea agar Dea mendekat ke arahnya dengan sendirinya.
Tahan Dea ini adalah bisikan setan jadi jangan kamu ikuti nanti kamu bisa masuk neraka.
Tapi Keano terus memakan makanannya dengan gaya yang menyakinkan jika makanannya memang sangat lezat, hingga membuat Dea tidak tahan lagi.
"Sayang, makanan itu terlalu banyak lemak tidak baik untuk tubuhmu yang gagah itu, nanti tubuhmu bisa melar dan tidak terlihat tampan lagi."
"Memangnya apa urusanmu, tubuh-tubuhku sendiri lagipula jika tubuhku nanti gemuk masih banyak wanita yang ingin menikah denganku karena aku kaya juga tampan" ucapnya dengan angkuh.
"Aahh bukan begitu maksudku Sayang, aku hanya tidak mau citramu menurun karena tubuhmu bertambah besar" katanya sambil menggembungkan mulutnya.
"Jadi lebih baik aku saja yang memakan makanan itu, karena jika aku memakan makanan sebanyak apapun tidak akan pernah bisa gemuk, jadi ini buat aku saja ya" ucapnya sambil mengambil makanan yang ada di hadapan Keano.
Dea memakan makanannya dengan lahap tanpa memerdulikan Keano yang terus menatapnya sambil tersenyum.
Setelah selesai makan Keano dan Dea langsung pulang ke mansion, saat sampai di mansion Lily melihat putranya babak belur langsung mendekat ke arah putranya.
"Ada apa denganmu, mengapa wajahmu penuh dengan luka seperti ini?" tanya Lily sembari memegang wajah Keano.
"Tidak apa, ini hanya luka kecil" jawab Keano sambil menyingkirkan tangan ibunya.
Mengapa bos begitu cuek pada ibunya.
"Ini semua pasti gara-gara kamu, dulu anakku tidak pernah terluka tapi semenjak menikah denganmu dia jadi babak belur seperti ini!" ucap Lily yang menyalahkan Dea, Dea yang merasa dirinya di bentak dan di tunjuk langsung kaget dari lamunannya.
"Haa bagaimana bu.
Bukan bu, bukan aku yang melakukannya aku mana berani memukul suamiku, aku juga tidak bisa silat jadi dari mana aku bisa memukulnya sampai seperti ini" jawabnya yang tidak ingin bertengkar dengan ibu mertuanya, ia lebih memilih berpura-pura bodoh supaya ibu mertuanya tidak berbicara dengan ketus lagi.
"Jangan panggil aku ibu, aku bukan ibumu.
Dan siapa yang bilang kamu yang memukul Keano, maksudku kamu penyebab anakku menjadi babak belur seperti ini."
"Ibu memang bukan ibuku tapi mertuaku, kalau ibuku namanya Dena bu." balas Dea yang menjawan omongan Lily dengan gurauan.
__ADS_1
"Aahh kamu membuatku gila" ucap Lily yang berjalan pergi sebab frustasi menghadapi Dea yang ucapannya sama sekali tidak nyambung dengan pertanyaan yang ia tanyakan.
Keano hanya menggelengkan kepalanya melihat Dea yang menghadapi ibunya dengan santai sambil bercanda tanpa menggunakan kata-kata yang kasar.
Mereka masuk ke dalam kamar mereka, dan membersihkan diri karena tubuhnya sudah terasa lengket.
"Mengapa kamu tidak melepas pakaianmu, kamu tidak mandi?" tanya Keano yang sudah melepas pakaiannya.
"Hehehe memang boleh ya Sayang aku tidak mandi?" ucapnya dengan cengengesan.
"Boleh saja, tapi besok pagi kamu harus mandi bersama denganku"
Dea yang tadinya rebahan di atas ranjang setelah mendengar perkataan suaminya ia langsung bangun dan lari terbirit-birit menuju kamar mandi seperti di kejar orang yang sedang menagih utang padanya.
Keano hanya tertawa pelan melihat kelakuan istrinya tersebut setelah sekian lama Keano tidak tersenyum bahkan tertawa tetapi saat Dea hadir dalam kehidupannya ia jadi lebih sering tersenyum, tertawa bahkan merasa kesal setiap saat.
Keduanya telah selesai mandi, Dea sudah terlihat begitu imut dan cantik dengan mengenakan pakaian tidurnya sedangkan Keano terlihat sangat tampan dan menggoda iman Dea dengan rambut basah yang menambah dosis ketampanannya.
"Sayang lukamu aku obati ya, dari tadi lukamu kan belum di obati" tawar Dea.
"Tidak perlu."
"Tapi nanti lukamu bisa iritasi, nanti kalau lukamu sampai iritasi akan muncul Danang yang kuning-kuning itu di sekitar lukamu, baunya menyengat sekali seperti ketutku" jelas Dea yang menakuti Keano agar suaminya itu mau di obati.
Kalau begitu obati lukaku, aku tidak mau setiap saat mencium bau nanah yang aromanya seperti kentutmu"
Dea dengan semangat mengambil kotak P3K dan mengobati luka di wajah Keano.
Dea duduk di sofa sebelah Keano tapi Keano menatap ke arah depan tidak menatapnya, kalau seperti itu bagaimana ia bisa mengobati lukanya.
"Sayang, bisakah kamu menghadap ke arahku, agar aku bisa lebih mudah mengobati lukamu." pinta Dea dengan nada yang pelan.
"Berapa sisa nyawamu?"
Tuju sisa nyawaku, memangnya disini siapa yang membutuhkan mengapa aku yang slalu di ancam, kalau tidak ingat dia itu suamiku sudah aku lenyapkan masa depannya menggunakan tanganku ini.
Akhirnya Dea berdiri dan membungkuk ke arah Keano untuk mengobati lukanya, jarak di antara keduanya hanya beberapa senti saja,
dengan telaten Dea mengobati lukanya hingga membuatnya berdiri sambil membungkuk cukup lama, ia menggerak-gerakkan kakinya agar tidak terasa pegal.
Keano yang melihat Dea menggerak-gerakkan kakinya tiba-tiba Keano memegang pinggang Dea dan mendudukkan Dea di atas pangkuannya.
__ADS_1
Keduanya semakin dekat bahkan deruan nafas mereka bisa mereka rasakan satu sama lain.
Degg... degg... degg..
Jantung Dea terasa dag dig dug serr dan bergoyang kesana kemari, Dea seketika berhenti mengobati luka Keano dan menatap wajah Keano.
Apa yang terjadi padaku mengapa jantungku bergoyang-goyang saat bos Keano memangku ku seperti ini.
"Apa yang kamu lihat, cepat lanjutkan pengobatannya" ucap Keano membuat Dea seketika tersadar dalam lamunanya, dan langsung melanjutkan mengobati lukanya.
"Baik Sayang"
Sebenarnya Dea penasaran apa yang membuat suaminya itu bersikap cuek dan sedikit kasar pada ibunya.
Jika bisa Dea ingin membuat hubungan antara Lily dan Keano harmoni seperti keluarganya, yang selalu berbicara, bergurau bersama dan perhatian satu sama lain.
Kalau padanya ia masih memakluminya tapi dengan ibunya, sungguh membuatnya sangat penasaran.
"Sayang" panggil Dea.
"Heem"
"Mengapa kamu bersikap cuek kepada ibu?" tanya Dea yang masih dengan mengobati luka Keano.
Keano yang mendengar pertanyaan Dea langsung menyuruhnya turun dari pangkuannya dan berhenti untuk mengobati lukanya.
"Turun!" ucap Keano yang menyuruh Dea agar turun dari pangkuannya, setelah Dea turun Keano langsung pindah ke atas ranjangnya dan tidur.
Ehh mengapa dia menyuruhku turun, kok aku malah mengharapkan dia terus memangku ku sih.
Apa bos Keano marah dengan perkataanku, tapi mengapa ia marah dengan pertanyaan yang aku tanyakan padanya, bukankah itu wajar jika seorang istri ingin mengetahui masalah antara suami dengan ibu mertuanya.
Aku kan hanya ingin tahu apa masalahnya, siapa tahu aku bisa membatu menyelesaikannya.
Setelah bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, Dea memutuskan untuk beristirahat di sebelah Keano sambil memeluknya, Dea merasa bersalah karena telah membuat Keano marah padahal biasanya sebelum tidur Keano akan meminta hal yang macam-macam padanya seperti menciumnya, memijitnya tapi sekarang ia melihat Keano langsung tidur tanpa menggangunya seperti biasanya.
Semua itu membuat Dea terasa aneh.
💙💙💙Hai kakak-kakak yang baik hati dan tidak sombong terima kasih sudah main ke novelku, aku harap kalian suka dengan novel ini.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan rate bintang 5 yup.
__ADS_1
Terima kasih dan jumpa lagii bayyy💙💙💙