
Setelah usaha Dea untuk membantalkan rencana pernikahannya dengan bosnya gagal, Keano kembali menyetir mobilnya dan lanjut mengantarkan Dea pulang.
Tapi saat memasuki perkampungan Dea jalan di kampungnya ternyata jalannya sudah bagus, hampir tidak ada jalan yang rusak bisa dibilang kampungnya cukup maju.
"Kau bilang jalan menuju rumahmu banyak lubang?
Tapi dari tadi saya nyetir tidak menemukan kerusakan sama sekali" tanya Keano penuh selidik, Keano ingat dengan perkataan Dea, jika di desanya banyak jalan yang rusak tapi dari tadi ia tidak menemukan kerusakan sama sekali.
Dea yang tadi terus melamun mendengar perkataan Keano tentu saa kaget, karena bosnya ini sama sekali tidak bisa di tipu.
"Kenapa dia ingat sih dengan perkataanku yang tadi.
Dan aku juga yang mengatakannya malah lupa, dasar Dea kau bodoh sekali" batin Dea yang merutuki kebodohannya.
Dea pun menjawab pertanyaannya dengan gugup.
"Ah itu bos jalan menuju rumahku itu ada dua bos, jalan pertama itu banyak lubangnya dan jalan kedua jalan yang bagus yang bos lewati" jelasnya.
"Awas saja kalo kau bohong, ku bunuh kau" ancamnya.
'Di rumah Dea'
Mobil Keano berhenti di halamam rumah Dea, dan di dalam rumah Dea kedua orang tuanya sudah menunggunya.
"Pak telfon anak kesayanganmu itu, kenapa belum sampai ke rumah juga" ucapnya khawatir, tapi saat pak Rifa'i hendak menelpon ada suara ketokan pintu.
Tok-tok...
"Nah itu pasti anak kecil itu pulang juga akhirnya dia, ayo pak ibu sudah tidak sabar menghukumnya" ibu segera menuju pintu untuk membuka pintu.
Ibu membuka pintu dan sudah siap untuk menyantap Dea, tapi saat ibu membuka pintu ibu tidak mendapati Dea karena Dea bersembunyi di belakang punggung Keano melainkan seorang pria muda yang gagah dan juga tampan.
"Kau siapa dan mau apa kesini?"
"Saya hanya mengantarkan putri tante dan juga ingin berbicara hal serius dengan om dan tante" jelasnya.
"Dimana anak kecil itu?"tanya ibu emosi.
__ADS_1
"Hai ibu... hehe " katanya sambio senyum canggung dan juga melambaikan tangannya.
"Sini sayang jangan bersembunyi di situ, sini peluk ibu" kata ibu sambil merentangkan kedua tangannya.
"Ah ibu hanya acting, nanti setelah aku kesana ibu akan menjewerku" ujarnya tidak percaya.
"Tidak sayang ibu tidak sedang acting sini peluk ibu"
Akhirnya Dea mendekati ibunya saat sudah mendekat ibu Dea langsung menarik telinga Dea dan membawanya masuk ke rumah. Dea meringis kesakitan dan ayahnya mempersilahkan Keano untuk masuk.
"Silahkan masuk nak. Jangan salah paham memang seperti itu bentuk kasih sayang istri dan anak saya, tapi mereka itu sangat saling menyayangi"jelasnya pada Keano.
"Silahkan duduk" tawar ayah Dea.
Keano hanya mengangguk menjawab perkataan ayah Dea, sambil melihat perdebatan ibu dan anak.
"Bu bu sudah nanti telingaku bisa putus, dan jika telingaku putus aku tidak bisa mendengar suara ibu yang jelek dan cempreng itu.
Tadi Dea sudah mau pulang tapi bos Dea itu (sambil menunjuk Keano) menghalangi Dea. Jadi jika ibu ingin menghukum hukum saja bos Dea itu" merasa tidak terima karena bukan kesalahnnya.
"Bos kenapa bos diam saja, ini semua gara-gara bos tau" memarahi Keano tanpa rasa takut seperti biasanya.
"Tante yang di katakan Dea benar, tadi saya menghalanginya karena ingin berbicara sesuatu" jelas Keano.
"Baiklah ibu percaya " sambil melepaskan telinga Dea.
"Hais ibu ini sama anak sendiri tidak percaya tapi pada orang asing percaya begitu saja" ucapnya tidak terima.
"Karena kau sudah sering bohong pada ibu anak kecil jadi ibu tidak percaya padamu" sambil menonyor kening Dea dan Dea hanya memperlihatkan wajah cemberutnya.
"Oh iya nak tadi kau bilang ada hal penting yang ingin kau bicarakan, sekarang bicaralah sebelum drama kedua wanitaku di mulai kembali" pinta bapak kepada Keano.
"Matilah kau sekarang Dea" batin Dea sedih.
"Saya kesini ingin melamar putri om dan tante untuk saya jadikan sebagai istri saya" jelasnya dengan tegas dan dengan suara yang lantang.
"Apaaa" teriak ibu syok sambil melirik ke arah Dea.
__ADS_1
"Kau ternyata diam-diam sudah memiliki calon suami yaa anak kecil tapi kau tidak bilang pada ibu haaa"
"Namanya juga diam-diam bu, pastinya tidak ada yang tahu kalo semua orang tahu itu namanya koar-koar" jawabnya acuh dan jawaban Dea membuat Dena memarah.
"Kauuuu...." sambil menuju ke arah Dea.
"Sudah-sudah kalian ini bertengkar saja, kita dengar penjelasan nak Keano saja ya bu"
Bapak melerai kedua wanitanya agar tidak bertengkar dan membujuk Dena untuk mendengar penjelasan Keano.
Dena akhirnya tenang dan mulai duduk kembali untuk menjelaskan penjelasan Keano.
"Jadi sebernarnya saya baru tadi melamar anak om dan tante untuk menikah dengan saya, jadi memang mendadak tapi saya bisa jamin saat Dea menikah dengan saya, saya akan menjaganya lebih dari bapak menjaga Dea, akan saya buat Dea merasa bahagia dan tidak akan saya biarkan orang menyakitinnya selama saya masih hidup"
Sekejap Dea terpesona dengan perkataan bosnya yang begitu manis, tapi segera ia sadar bahwa bosnya itu kejam bukan manis.
"Berati bos bisa melindungi Dea dari ibu dong..." ucap Dea dengan melirik ibunya.
"Deeaaa" ucap Rifa'i memarahi Dea.
"Maaf pak hehehe Dea becanda saja kok suer" tertawa mencairkan suasana dengan mengacungkan dua jarinya tanda bahwa ia hanya becanda.
"Tapi apa tidak terlalu cepat kalian kan baru mengenal, mengapa nak Keano langsung ingin menikahi Dea?" Tanya bapak karena tidak ingin anaknya nanti tidak bahagia.
"Kita bisa saling mengenak setelah menikah, dan kita juga sudah saling menyukai satu sama lain meski belum terlalu mengenal. Benarkan Dea?"
Sambil menunjukkan senyum manis kepada Dea, siapapun wanita yang melihat pasti akan langsung terpesona tapi menurut Dea senyuman bosnya menandakan datangnya bencana besar jika tidak di penuhi.
Dea yang dilihat bosnya pun takut dan langsung menyetujui perkataan bosnya "Iya pak bu kami sudah saling menyukai meski baru beberapa hari bertemu. Jadi tolong restui Dea ya pak bu"
pinta Dea memohon tapi ia terpaksa melakukannya demi menyelamatkan pekerjaan semua karyawan di pabrik.
"Kalau boleh tau kapan nak Keano akan menikahi Dea?" Mencoba menanyakan pada Keano dan berharap pernikahnnya masih lama karena ia sangat menyayangi anaknya dan tidak bisa jauh dari anaknya.
"Satu minggu dari sekarang" kata Keano dengan jelas menjawab pertanyaan dari Rifa'i.
"Apaaa" ucap Dea, Dena dan Rifa'i secara bersamaan karena kaget pernikahannya akam secepat itu pelaksanaannya.
__ADS_1