Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
60. ANEH


__ADS_3

Dengan berat hati, Keano terpaka mengoleskan balsem di area luar pakaianya. Dan akhirnya membuat Dea tak lagi merasa pusing dan mual tapi menjadikan Keano seperti aroma ibu-ibu yang pening kepala karena mengurus anaknya.


"Kamu sudah tidak merasa mual lagi?" Tanya Keano perhatian, dengan raut wajah lemas dan lesunya.


Dea menjawab Keano dengan senyum mengembang seperti adonan yang di taburi baking soda, "Tidak Sayang. Aku baik-baik saja"


Dea sama sekali tidak menanyakan alasan wajah Keano yang terlihat lesu dan tak semangat itu. Sungguh Dea adalah istri yang keterlaluan, tak ada rasa perhatian sedikit pun terhadap suaminya.


Keano mengajak Dea turun ke bawah untuk sarapan di restoran yang letaknya berada di dekat hotel.


Keano memanggil pelayan restoran untuk melayani mereka.


"Kamu mau makan apa?" tanya Keano yang menanyakan keinginan Dea.


"Ketoprak, rendang, soto ayam dan minumnya wedang janda" jawabnya antusias senangnya.


Keano sejenak berfikir dengan permintaan Dea 'wedang janda', baru pertama kali Keano mendengar nama minuman itu.


"Apa itu wedang janda? Apa wedangnya di buat oleh seorang koki yang sudah tak bersuami ?" tanya Keano yang tak mengerti.


"Bukan Sayang. Maksudku wedang janda itu wedang ronde" jelas Dea. Meski Keano masih belum paham, mengapa Dea bisa menyebut wedang ronde dengan sebutan wedang janda. Ia berusaha acuh dan tak membahasnya.


Dalam bahasa jawa seorang wanita yang sudah tidak memiliki suami di sebut 'Rondo'. Dan Dea memplencengkannya dengan wedang 'Ronde'.


Keano melihat daftar menu. Ia tak menemukan makanan yang Dea inginkan. Dan betapa bodohnya Keano yang masih mengecek menu, dan belum menyadari jika ini 'kan di Jepang bukan di negaranya, Indonesia. Mana ada di sini makanan yang di sebutkan Dea tadi.

__ADS_1


"Di sini tidak menjual makanan Indonesia seperti yang kamu sebut tadi. Jadi aku pesankan yang lain saja ya?" ucap Keano membujuk Dea. Seketika wajah ceria dengan senyumnya yang mengembang bak adonan yang di beri baking soda jadi kempes seperti harapan dan janji-janji dari mantan, mak busss.


"Tidak mau! Aku mau ketoprak, rendang, soto ayam dan wedang janda, Sayang" rengek Dea, seperti anak kecil yang minta di belikan mainan baru.


"Kalo kamu mau mengganti makananmu tadi. Aku berjanji akan membelikanmu es krim dan coklat, bagaimana?" tawar Keano yang mengiming-imingi makanan favoritnya. Dea menggeleng. Dea tetap pada pendiriannya, tidak mau! Keano di buat pusing oleh sikap Dea selama di Jepang. Bukannya menikmati waktu bulan madunya untuk membuat anak, Keano justru menderita dengan sikap aneh Dea.


Keano membuka ponsel jeniusnya dan mencari tahu restoran yang menyediakan makanan khas Indonesia di Jepang. Setelah berselang waktu beberapa menit, Keano akhirnya menemukan restoran khas Indonesia yang letaknya dekat dengan hotel tempat mereka menginap. Keano langsung berangkat dengan mobilnya menuju restoran yang menyediakan khas makanan Indonesia itu.


"Bagaimana makanannya enak?" tanya Keano. Dea terlihat begitu lahap memakan makanannya seperti sudah tak makan beberapa hari saja.


"Enak Sayang" jawabnya sambil terus melahap makanannya.


"Jangan makan terlalu banyak. Nanti perutmu bisa buncit" Keano mengingatkan Dea agar tidak terlalu banyak makan. Karena dari tadi, ia melihat Dea makan tanpa henti.


Keano mendekat dan duduk di sebelah Dea, Keano merangkul pundaknya dan memenangkannya, "Dengar, kamu boleh memakan semua makanan yang kamu mau. Tapi jangan terlalu banyak, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik termasuk makan. Dan aku sama sekali tak mempermasalahkan masalah uang, bahkan jika kamu ingin seterusnya makan di sini aku bisa membeli restoran ini untukmu tapi makanlah secukupnya. Jangan berlebihan. Mengerti" jelas Keano dengan lembut, Dea tenang dan mengangguk merespon penjelasan Keano. Keano mencium kening dan memeluk istrinya.


"Bagaimana? Jadi beli restorannya?" Keano melepas pelukannya dan menggoda istrinya.


Dea menggeleng dan tersenyum bercampur nangis menanggapi Keano yang menggodanya.


🌻🌻🌻


"Sayang, kita pergi ke Disney Land yuk" ajak Dea antusias pada Keano yang sedang fokus menyetir mobil.


"Tidak!," tolaknya tegas, "Kenapa?" tanya Dea penasaran.

__ADS_1


"Disney Land itu hiburan untuk anak-anak. Dan status kamu sekarang itu seorang istri, bukan anak-anak lagi!" jelas Keano yang berbohong karena tak suka dan tidak ingin masuk ke Disney Land.


"Masak sih, seperti itu?" tanya Dea yang tak tahu, jika konsepnya seperti itu. Keano menggangguk mengiyakan pertanyaan Dea.


"Meskipun statusku seorang istri tapi wajahku 'kan masih terlihat sangat imut, Sayang. Seperti masih anak berusia lima belas tahun. Jadi pasti aku di bolehkan masuk oleh petugasnya" ucapnya yang mencari-cari alasan agar Keano mengijinkannya ke Disney Land. Dea memang masih terlihat begitu imut, orang yang tidak mengenalnya pasti akan mengira Dea masih kelas tiga SMP atau baru masuk SMA.


"Kau mau masuk sendirian tanpa mengajaku, heem begitu?!" ucap Keano kesal. Pasalnya Keano terlihat sudah seperti pria dewasa bahkan sudah pantas menjadi seorang ayah.


"Tidak Sayang. Bukan begitu maksud ku" katanya yang bingung menjelaskan maksud dari perkataannya.


"Kita bisa masuk ke Disney Land bersama?" ucap Keano yang membuat Dea penasaran ingin mengetahuinya.


"Apa Sayang?"


"Kita harus menjadi orang tua terlebih dahulu. Jadi, nanti kita bisa masuk tanpa merasa malu. Karena kita datang untuk menemani anak kita berlibur" jelas Keano dengan maksud tersembunyi.


"Yahhh.... Masih lama dong kalo gitu" nada kecewa terucap oleh bibir mungil Dea.


"Tidak. Kalo kita sekarang langsung pulang dan segera memproses pembuatannya" kata Keano. Ia membalas pernyataan kekecewaan Dea. Dea tentu salah tingkah mendengarnya, segera mungkin ia mencari ide agar bisa membalas perkataan Keano.


"Kita langsung saja masuk Sayang. Jika ada orang yang bertanya, kita jawab saja jika kita adalah ini paman dan keponakan. Aku yakin tidak akan ada orang yang menghina kita" ucap Dea tanpa beban, dosa dan merasa bersalah sedikitpun karena sudah meyebut Keano sebagai pamannya.


Dea tertawa garing dan saat itulah Dea mendapat tatapan tajam setajam kuping tetangga. Setelah mengatakan pernyataannya tadi. Dea akhirnya mencari aman dengan cara berdiam diri dan menundukan pandangannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2