
Lima tahun kemudian.
"Ana sayang, dimana Ana letakkan ponsel Papa? Ayo kembalikan, ponselnya mau buat Papa kerja" Keano mencari ponselnya di kamar Ana sambil berteriak memanggil putrinya, agar putrinya datang dan ikut mencarikannya. Setiap malam Ana selalu menyelinap ke kamar orang tuanya untuk mengambil ponsel Keano. Untuk bermain Talking Tom yang bisa berbicara itu. Bahkan di ponsel Keano banyak aplikasi permainan yang sengaja di unduh oleh Ano, di paksa oleh Ana. Bukannya tidak mampu membelikan ponsel sendiri untuk putrinya, tapi itu larangan Dea agar Ana tidak terlalu tergila-gila dengan ponsel. Tidak baik untuk kesehatan mata dan mental Ana yang masih berumur lima tahun.
Ana tidak mendengar suara Keano karena ia sedang di dapur membantu Mommynya memasak atau lebih tepatnya membuat rusuh dan memperlambat proses memasak Dea.
Selama mulai memiliki buah hati, Dea berusaha dan belajar untuk menjadi istri sekaligus ibu yang sempurna bagi keluarganya. Dea belajar memasak, meski hanya bisa masak masakan biasa tapi bagi suami serta anak-anaknya, masakan Dea paling enak bahkan mengalahkan masakan hotel bintang lima.
"Ommy ini namana apa?" Tanya Ana dengan suara yang masih tidak jelas. Ana dan Ano memang berbeda, Ano lebih memahami sesuatu hal baru dengan cepat, tak banyak bicara dan sudah lebih lancar berbicara. Sedangkan Ana kebalikan dari Ano, sedikit lambat memahami sesuatu hal baru, cerewet dan ngomongnya masih belepotan.
"Ini namanya bawang putih dan ini bawang merah sayang. Sana gih ke meja sama abang Ano, nanti kita makan bersama" Dea mengusir Ana secara halus, sedari tadi Ana selalu bertanya ini itu, membuat Dea tak fokus memasak.
"Ndak mau, Ana mau antuin Ommy masak! Ommy ommy, awang putih ama melah itu kembal sepeti Ana dan Ono ya?"
"Ano sayang bukan Ono. Ano itu lebih tua dari Ana jadi Ana panggil abang atau kakak, ya?" Dea selalu memperingatkan Ana yang selalu salah memanggil abangnya. Ana lebih suka memanggil Ono karena ia tidak suka memanggil Ano, menurutnya itu terlalu bagus dan tidak cocok untuk Ano yang menyebalkan.
Sebelum Ana menjawab perkataan Dea, suara Keano menggema sampai ke dapur. "Ana sayang, dimana ponsel papa?" Keano berjalan ke arah dapur setelah tadi berusaha mencari ponselnya tapi tidak ketemu.
"Ommy, bilang Ama Papa, kalo Ana iyang di cuyik nenek Kebayan ompong" Ana langsung bersembunyi di belakang Dea saat mendengar suara Keano. Dea hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.
__ADS_1
"Ano dimana adik kamu?"
"Di dapur Pa bersama Mommy" balas Ano sekenanya dan berlanjut membaca bukunya.
Keano langsung ke dapur sesuai dengan petunjuk Ano, di dapur Keano sudah melihat Ana yang bersembunyi di balik tubuh mungil istrinya. "Mommy dimana Ana?" Keano berlagak tidak mengetahui Ana. Keano berjalan pelan ke arah Dea untuk menangkap Ana.
"Di culik nenek gayung pa"
Emmuah... sebelum menangkap Ana yang berada di belakang Dea, Keano mencium pipi kanan Dea. Tapi belum Keano menangkap Ana, Ana sudah keluar terlebih dahulu.
"Ommy, di cuyik nenek Kebayan ompong bukan nenek ayung!" Protes Ana, Keano dan Dea tertawa melihat reaksi Ana yang menurutnya lucu.
Ana yang tadinya mau bersembunyi dan mengulang lagi adegan Nenek Kebayang. Di hentikan oleh Dea. "Sudah nanti saja pengulangannya, sekarang lebih baik Papa sama Ana anak Mommy yang paling cantik, bantuin Mommy menyiapkan sarapan setelah itu kita sarapan bersama"
Semua orang telah berkumpul di meja makan. Pemandangan yang tampak begitu indah, keluarga kecil yang sedang sarapan bersama dengan menu sederhana, namun bahagia. Saat Ano dan Ana berusia satu tahun, Dea mengajak Keano pindah ke rumah hadiah dari Keano yang diberikan untuk Dea, saat ulang tahunnya yang ke dua puluh satu tahun lalu. Dea ingin hidup mandiri, sederhana bersama keluarga kecilnya. Tanpa ada banyak pelayan dan bodyguard Keano yang tak terhitung jumlahnya. Keano menurutinya, tapi tetap ada satu pelayan yang datang hanya untuk membantu pekerjaan Dea, lalu pulang. Dan beberapa bodyguard tersembunyi yang tidak Dea ketahui, itu Keano lakukan untuk menjaga keluarganya dari orang yang ingin berniat buruk padanya.
"Ano baca buku apa?" Tanya Keano karena melihat Ano begitu fokus membaca buku sampai tidak menyadari sarapannya yang sudah siap.
"Mengepet Koenji Harta Berlimpah. Papa taruh dimana b*bi milik Papa?" Tanya Ano, menurut buku yang ia baca harta berlimpah itu berasal dari hasil ngepet, bekerja sama dengan b*bi.
__ADS_1
Dea tertawa mendengar pertanyaan Ano yang di tujukan pada Keano sedangkan Keano kesal dengan pemikiran anaknya. "Maksud Ano Papa mengepet begitu?" Ano mengangguk menjawab pertanyaan Keano. "Ano, Papa mendapatkan harta berlimpah ini itu hasil dari kerja keras Papa. Papa memiliki perusahaan besar dan harta Papa dari perusahaan itu" jelas Keano yang menahan amarahnya.
"Perusahaan b*bi ngepet, pah?" Ano benar-benar menguji kesabaran Keano.
"Hmmss... bukan sayang, Papa memiliki perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti industri, fashion, garment, makanan dan masih banyak lagi. Sudah ya ngobrolnya, sekarang kita sarapan. Ano mau apa, biar Mommy ambilkan" tawar Dea. Dea berusaha menahan tawanya saat memberi penjelasan pada Ano. Dan untunglah Ano paham.
"Oooh gitu ya. Ano mau ayam goreng sama telur ceplok dan sayur bening aja mom" Dea mengambilkan makanan yang Ano sebutkan. Sekarang giliran Dea menawari Ana tapi saat hendak menawari putri bungsunya, Dea sudah melihat piring Ana sudah lengkap dan penuh dengan makanan.
"Ana sayang, Papa ambilkan ayam goreng ya? Sambalnya dikurangi dan pakai sendok!" Tawar Keano karena melihat Ana memilih lauk tempe, tahu, ikan asin serta sambal banyak. Begitu sederhana, padahal banyak pilihan lauk yang ada di meja.
"Ndak mau, Ana mau ambel banyak dan makan pake angan! Makan pake angan kan dapet pahaya pa!" Keano di skak dan tak bisa menjawab perkataan putrinya, memang benar makan menggunakan tangan mendapatkan pahala.
Dea rasanya ingin terus tertawa melihat drama antara Keano dan kedua anaknya yang selalu berimbas sial pada Keano.
"Sayang, sambalnya sedikit saja ya, nanti kalau Ana sakit perut gimana? Kalau Ana sakit, Mommy juga ikut sakit" Ana mulai resah, Ana tidak mau melihat Mommynya sakit.
"Baiklah, ambelnya Ana uyangi tapi Ommy hayus buat ambel tiap hayi dan Ana boyeh makan pake tangan kan?" Dea mengangguk, Ana memang tidak bisa makan tanpa ada sambal. Makanya Dea selalu buat sambal tapi dengan cabe sedikit agar tidak terlalu pedas. Mungkin ini efek dari ngidam Dea dulu yang ingin makan sambal banyak, tapi terhalang kehamilannya. Dan akhirnya berimbas pada Ana.
Keano hanya menghela nafas pasrah karena anak-anaknya lebih menurut dan patuh pada Dea, Mommynya.
__ADS_1
Bersambung...