
Hubungan antara Lily dan Keano menjadi membaik layaknya seorang ibu dan anak pada umumnya, saling berbicara berbagi cerita yang di alaminya seharian tadi, mencurahkan perasaan mereka, bercanda dan berkumpul bersama.
Dea ikut senang melihat suami dan ibu mertuanya yang hubungan mulai membaik.
Dea sedang memijiti Keano yang tengah berbaring dengan posisi tengkurap, sudah hampir dua jam Dea memijiti Keano tapi Keano tidak menyuruh Dea untuk berhenti meskipun Dea memberikan kode secara tidak langsung kepada Keano agar Keano menyuruhnya berhenti tapi hasilnya nihil.
"Sayang, tanganku rasanya pegal sekali seperti habis kerja paksa Rodi, kira-kira penyebab tanganku terasa pegal apa ya?" tanyanya yang masih terus memijiti Keano sambil sesekali ia menggerak-gerakan tangannya agar rasa pegalnya menghilang.
"Itu penyebab karena kamu sering membantahku, jadi Tuhan memberikan balasan atas bantahanmu terhadapku itu." balasnya cuek dan terus menikmati pijitan Dea.
"Tapi sekarang aku kan sudah menjadi istri yang baik, aku sudah jarang membantahmu, selalu menuruti perkataanmu pokoknya sudah memenuhi kriteria istri idaman dunia akhirat.
Memangnya apa hubungannya sering membantah dengan tanganku yang rasanya pegal? memangnya di sinetron Ajab apa!" ucap Dea yang membalas perkataan Keano.
"Itu apa namanya kalo bukan membantah haa, cepat lanjutkan pijitanmu dan jangan bicara terus, supaya tanganmu tidak terasa pegal lagi." saran Keano yang sama sekali tidak masuk akal, dimana-mana jika tidak ingin terlalu pegal harus berhenti sebentar bukanya terus bekerja, Dea akhirnya terus melanjutkan pijitannya dengan perasaan yang kesal.
Kalo pegal itu suruh berhenti bukannya malah menyuruh melanjutkan terus pijitannya itu menambah rasa pegal bukannya mengurangi rasa pegalnya.
"Oh ya Sayang, kamu tadi terlihat imut sekali tadi saat menangis seperti anaknya tetanggaku di kampung, aku tadi rasanya ingin sekali mencium dan mencubit pipimu" ucap Dea yang menunjukkan ekspresi gemasnya, Keano yang tadinya menikmati pijitannya langsung terbangun menghadap Dea.
"Apa maksudnya menangis, aku tidak pernah menangis!" bantah Keano dengan tegas, berniat membuat nyali Dea menciut dan tidak berani mengatainya lagi.
"Haha benarkah tidak pernah menangis tapi sepertinya aku memotretnya saat kamu menangis tadi di dalam ponselku, kamu mau lihat tidak?" katanya yang mengambil ponselnya dan menggeser layar ponselnya untuk mencari gambarnya.
Dea terus menggeser layar ponselnya mencari gambarnya secara tiba-tiba Keano mengambil paksa ponsel Dea, "Hei kenapa ponselku di ambil!" sentak Dea dengan nada emosi sekaligus menahan tawa.
Keano tidak menggubris Dea dan berusaha mencari gambar dirinya di ponsel Dea, semua isi galeri sudah Keano lihat tapi ia tidak menemukan foto dirinya yang sedang menangis.
"Kau menipuku ya!" katanya setelah melihat isi galeri Dea yang tidak ada satupun gambar dirinya yang sedang menangis.
__ADS_1
"Hahaha, kamu percaya aku memotretmu berarti kamu mengakui jika kamu tadi menangis hahaha" ucap Dea yang tertawa terpingkal-pingkal, di sisi lain Keano sudah menatapnya dengan tatapan elangnya karena sudah berani menertawakannya.
Dea berhenti tertawa karena menyadari dirinya sedang di tatap oleh Keano dengan tatapan elangnya.
Ya Allah tolong berikan hamba isi ulang nyawa agar hamba bisa selalu menghadapi suami hamba tanpa harus kehilangan nyawa.
"Itu kamu bilang istri yang baik, apa istri yang baik mengerjai suaminya dan menertawakannya seperti yang kamu lakukan tadi hem."
"Maaf Sayang" jawabnya dengan menundukkan kepalanya karena takut menatap wajah garang Keano.
"Jika kamu ingin aku memaafkanmu kamu harus memilih salah satu diantara kedua syaratku."
"Katakan Sayang aku pasti akan melakukannya" katanya yang langsung mengangkat kepalanya dengan wajah yang begitu girang.
"Apa vag*namu masih terasa sakit?" tanya Keano sebelum mengatakan syarat yang harus Dea lakukan sebelum ia memaafkannya.
"Baiklah, syarat pertama, kamu harus melayaniku malam ini dan pilihan yang kedua, kamu harus menyetujui pilihan yang pertama, jika kamu tidak menyetujuinya aku akan mengutukmu menjadi istri durhaka!"
Itu sama saja kau mengajukan satu syarat tanpa pilihan lain!
"Apa tidak ada kutukan yang lain Sayang selain menjadi istri durhaka? misalnya menjadi seorang istri yang imut dan awet muda" katanya yang menyarankan supaya Keano mengganti kutukannya.
"Tidak!"
Baiklah. Lakukan Dea inikan memang sudah kewajibanmu sebagai seorang istri daripada kamu menjadi istri durhaka dan tidak bisa masuk Surga.
Dea akhirnya menyetujui syarat Keano dan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yakni melayani Keano suami posesifnya.
Dea hanya mengikuti permainannya bersama dengan Keano, mereka bermain cukup lama membuat mereka kelelahan dan tertidur sampai siang hari.
__ADS_1
Keano terbangun dari tidurnya terlebih dulu, ia menatap wajah Dea yang tengah tertidur terlihat begitu imut hingga membuat Keano ingin menc*umi wajah imutnya, tapi Keano menahan hasratnya karena kasihan dengan istrinya yang semalaman meronda bersamanya.
Keano melepaskan pelukan Dea secara perlahan dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah selesai mandi, Keano melihat istrinya tengah menggeliat dan meraba ranjang di sebelahnya, Dea terbangun saat menyadari Keano tidak berada di sampingnya.
"Sayang, kamu sudah mandi lebih dulu. Mengapa tidak membangunkanku dan menungguku!" ucapnya yang merajuk karena melihat Keano yang sudah mandi saat dirinya baru bangun tidur.
Keano mendekat ke arah istrinya, "Memangnya kamu begitu inginnya mandi bersamaku ya?" katanya yang mendekatkan wajahnya ke wajah Dea membuat Dea menjadi gugup.
"Ti_dak." jawabnya dengan gugup.
"Tidak perlu berbohong," kata Keano, tanpa aba-aba Keano langsung menggendong Dea yang tidak mengenakan busana dan membawanya menuju ke kamar mandi untuk mandi bersama meski tadi Keano sudah mandi terlebih dulu, Keano tetap mandi lagi bersama dengan Dea.
Krucukk.... Perut Dea berbunyi saat Keano memandikannya sungguh membuat harga dirinya jatuh di tempat.
"Kau ini kecil-kecil tapi cepat sekali lapar, apa mungkin kau cacingan? ohh jadi sekarang aku tahu alasan kau tidak bertumbuh besar, itu semua karena penyakit cacinganmu, aku akan menelpon dokter." katanya yang ingin keluar mengambil ponsel dan menelpon dokter.
"Kamu mau kemana?"
"Mau menelpon dokter, supaya datang kemari dan memekrisamu." balasnya.
"Tidak usah Sayang! cacing di dalam perutku juga ingin hidup dan memiliki keluarga, kalau kamu panggil dokter mereka nanti mati karena obat yang di berikan dokter kepadaku.
Nanti kalau cacingnya mati semua aku akan bertumbuh besar dan tidak terlihat imut lagi seperti sekarang." Dea mengeles dan memberikan alasan kepada Keano walaupun jawabannya membuat Keano bingung sendiri karena yang sebenarnya Dea takut di suntik oleh Dokter dan malas meminum obat yang rasanya pahit.
"Tidak bisa! aku akan tetap memanggil dokter untukmu." Dea hanya pasrah mendengar jawaban suaminya yang masih kukuh ingin memanggil dokter hanya karena sebuah cacing di perut.
Dea dan Keano turun untuk sarapan atau mungkin makan siang, entahlah keduanya beda tipis bahkan sulit untuk di bedakan sekarang ini.
Bersambung.....
__ADS_1