
"Wahh... pesawat itu milikmu Sayang?" tanya Dea, ia menatap takjub Jet Pribadi milik Keano yang ada di hadapannya.
"Iya" balasnya dengan singkat.
Sepasang suami istri ini, akhirnya masuk ke dalam pesawat.
Sebelum masuk, di luar pintu pesawat mereka sudah di sambut oleh beberapa Pramugari yang cantik dengan postur tubuh tinggi, tubuh bak gitar Spanyol dan rupanya yang menawan.
"Selamat datang Tuan dan Nona, kami disini ada untuk melayani semua kebutuhan anda selama berada di pesawat. Silahkan masuk" ucap salah satu Pramugari dengan ramah dan senyum yang manis. Siapapun pria yang melihat senyumannya pasti akan langsung terpana di buatnya tapi itu tidak berlaku bagi Keano.
"Terima kasih" balas Dea dengan sopan, keduanya masuk dan duduk di kursi yang sudah di siapkan khusus untuknya.
Keano memutuskan untuk memilih sendiri tempat bulan madunya bersama dengan Dea. Karena jika Keano membiarkan Dea yang memilih tempatnya, ia yakin pilihannya tidak ada yang benar seperti kemarin.
Keano memilih berbulan madu di negara Jepang, kebetulan bulan april ini negara Jepang sedang musim semi . Sangat pas dengan kondisinya yang akan melakukan bulan madu.
"Sayang kita mau bulan madu, kemana?"
"Jepang"
"Wahh jadi gak sabar pengen segera sampai Jepang" ucapnya, sambil membayangkan indahnya musim semi di Jepang.
"Masih lama, 'kan baru saja naik. Memangnya kenapa kamu ingin segera sampai di Jepang?" tanya Keano penasaran, Keano yakin alasan Dea ingin segera sampai di Jepang karena ingin segera berhubungan dengannya. Namun, ia ingin mendengar jawaban Dea sendiri, secara langsung.
"Aku ingin pergi ke Disneyland dan Gunung Fuji yang sangat tinggi dan terkenal akan keindahannya itu" jawabnya dengan antusias senangnya tapi jawaban Dea justru membuat Keano kesal.
"Tidak! Kita tidak akan pergi kemana-mana. Selama di Jepang kita akan selalu berada di dalam kamar setiap hari"
"Terus buat apa pergi ke luar negeri kalau endingnya selalu berada di kamar sama kaya di rumah" gumamnya dengan kesal, Keano mendengar samar gumaman Dea.
"Ya sudah kalau begitu kita kembali dan melakukannya di rumah, bagaimana?" Keano menyaut gumaman Dea.
"Jangan dong Sayang, baru aja pesawatnya terbang masa udah mau kembali"
__ADS_1
Aku 'kan juga mau lihat dunia luar, gak melulu tinggal di mansion jelekmu itu!
Suasana hening tercipta di antara keduanya, Keano memainkan ponselnya menghubungi sekretaris Ken untuk mengurusi perusahaan selama ia berada di luar negeri. Sedangkan Dea diam karena kepalanya yang mulai terasa pusing dan perutnya yang terasa seperti di aduk-aduk. Rasanya Dea ingin memuntahkan semua isi yang ada di dalam perutnya kalo bisa dosanya sekalipun.
Keano telah selesai bercengkrama dengan Ken melalui ponsel dan sekarang ia melihat wajah Dea yang imut berubah menjadi pucat, "Kamu kenapa?" tanya Keano yang khawatir melihat kondisi Dea.
"Tidak tahu, tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing dan rasanya aku ingin..."
'Hoekkk' belum sempat Dea melanjutkan perkataannya, ia sudah muntah terlebih dulu. Parahnya, Dea muntah dan mengenai pakaian Keano.
Dea takut, tubuhnya terasa gemetar dengan bulu kuduk yang berdiri berbaris rapi. Dea takut Keano akan marah karena bajunya kotor karena muntahannya.
"Cepat ambilkan minyak kayu putih dan obat!" teriak Keano yang memberi perintah pada Pramugari.
Dengan cepat Pramugari datang dan membawakan permintaan yang Keano inginkan, "Ini tuan." ucapnya sambil menyodorkan obat.
Dengan telaten Keano mengoleskan minyak kayu putih di perut, pelipis kepala dan sesekali memijit bagian belakang lehernya agar Dea lebih rileks.
"Masih ingin muntah lagi?" tanya Keano dengan lembut setelah selesai memberikan minyak kayu putih di perut Dea.
"Kalau begitu minumlah obat ini" ucapnya sambil menyodorkan obat anti mabuk kepada Dea. Dea mengambil obat tersebut dari tangan Keano dan meminumnya.
"Kamu tunggu dulu disini, kalo masih terasa tidak enak. Kamu panggil saja Pramugari yang ada di sini. Aku mau ke belakang membersihkan baju dulu. " ucapnya, Keano pergi ke belakang untuk membersihkan pakaiannya yang kotor karena terkena muntahan Dea.
'Cup' Keano mencium kening Dea sebelum pergi. Dea tersenyum melihat kepergian Keano.
Aku kira dia akan memarahiku karena aku mengotori pakaiannya, tapi ternyata....
Keano kembali dan duduk di sebelah Dea setelah membersihkan pakaiannya. Ia melihat Dea yang tertidur sambil menyender di di dinding pesawat. Keano memindahkan kepala Dea secara perlahan ke pundaknya.
"Ehh maaf Sayang" ucap Dea yang terbangun dan menyadari kepalanya berada di pundak Keano, segera ia mengangkat kepalanya dan menjauhkannya dari pundak suaminya.
Keano tersenyum mendengar ucapan Dea, "Tidak apa. Kembali tidurlah, nanti saat sudah sampai aku akan membangunkanmu."
__ADS_1
Perlahan Dea meletakkan kepalanya di pundak Keano, ia mulai menutup perlahan kedua matanya hingga akhirnya tertidur dengan pulas menjelajahi alam mimpinya.
Keano ikut tertidur setelah melihat Dea tertidur, sebelum itu ia mencium ujung kepalanya dengan pelan.
setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di negerinya Doraemon. Dea masih pulas tertidur, mungkin itu efek dari obat yang ia minum.
Keano tidak tega membangunkan Dea jadi ia membiarkan Dea tertidur sambil memandangi wajahnya.
'Hoamm' Dea menguap dan melihat Keano memandang wajahnya, "Kita sudah sampai dari tadi ya Sayang?" tanyanya dengan gugup karena Keano memandangi wajahnya.
"Heem"
"Kenapa tidak membangunkanku"
Malah memandangku, aku 'kan jadi gugup.
"Karena aku masih ingin melihat wajah indahmu saat sedang tertidur seperti tadi" jawab Keano, membuat Dea salah tingkah dengan pipi yang merah merona seperti orang yang sedang menahan kentut.
"Ayo turun" ajak Keano, Dea berdiri. Pandangannya terasa kabur dan kepalanya kembali pusing lagi.
"Kamu masih sakit?" Tanya Keano khawatir, Dea menggeleng. Keano yang khawatir akhirnya menggendongnya karena takut Dea akan pingsan.
"Ehh Sayang kenapa aku gendong seperti ini. Aku bisa jalan sendiri!" ucapnya yang menolak perhatian Keano yang berupa gendongan karena ia merasa malu menjadi tontonan banyak orang.
"Cerewet!" ucap Keano yang tidak menanggapi kemauan Dea.
Keano menggendong Dea keluar dari pesawat sampai masuk ke dalam mobil. Dea menyembunyikan wajah imutnya di dada kotak Keano sedangkan Keano dengan pedenya menggendong Dea dengan raut wajah kaku menghadap depan. Semua orang yang berada di bandara menunduk, tak berani menatap ke arah Keano. Jika sekilas saja mereka melihatnya maka di jamin detik itu juga pekerjaannya akan hilang.
Kenapa sekarang dia jadi kelewat romantis dan posesifnya sih. Biasanya saja 'Ham heem' dan suka memerintah. Dea membatin sambil menatap sinis ke arah Keano.
"Tidak usah menatapku seperti itu. Mau kamu matamu aku congkel dengan pisau!" kata Keano yang menatap ke depan tanpa melirik Dea sedikitpun.
Dea langsung menunduk ketakutan, "Apa dia memiliki mata di samping kepalanya? Bagaimana bisa, dia tahu aku sedang menatapnya penuh dendam padahal ia tidak melirik sedikitpun" gumamnya pelan sepelan pelannya.
__ADS_1
Bersambung.....