Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
83. PAMITAN


__ADS_3

Dea tidur sambil memeluk erat suaminya, seperti tak mau ditinggal pergi oleh Keano. Tapi keadaan memintanya untuk membiarkan Keano pergi, meninggalkannya sendiri di saat kandungannya yang semakin membesar. Sebagai gantinya, Dea memeluk Keano dengan erat untuk mengisi penuh rasa rindunya nanti.


"Deu bangun, aku harus berangkat pagi ini Sayang" Keano membangunkan Dea yang memeluk erat dirinya.


Dea mendengar suara Keano yang membangunkannya. Dea menggeliat, matanya masih sayup-sayup setengah sadar. Memandang Keano lekat.


"Memang harus pergi pagi ini juga ya?" Dea yang sadar sepenuhnya, langsung mengeluarkan pertanyaan tersebut.


"Iya Sayang, semakin cepat pergi maka semakin cepat pula aku pulang. Kamu kan sudah mengijinkannya kemarin"


Dea termenung, perasaannya tak karuan. Rasanya ia tak ingin membiarkan Keano pergi, entah mengapa firasatnya berkata seperti itu. Apa karena memang Dea hanya ingin selalu berada di sisi Keano atau karena hal lain.


Dea menarik napas panjang lalu mengeluarkannya, menampilkan senyum manisnya, "Baiklah, mari aku temani mandi"


Dea memandikan Keano dengan telaten, dan cukup lama juga. Karena keduanya sambil berbincang-bincang tentang banyak hal diselipi dengan guyonan khas Dea.


"Sayang," panggil Dea.


"Heem, iya Sayang ada apa?"


"Sepertinya selama kamu pergi ke luar negeri, aku gak bakalan jadi pengangguran lagi" tutur Dea. Keano langsung berbalik, menatap tajam Dea. Maksudnya Dea akan mengambil kesempatan bekerja selama Keano berada di luar negeri begitu?


"Jangan pernah sekalipun kamu bekerja selama aku pergi. Kalau sampai kamu bekerja nanti, jangan harap kedepannya kamu bisa keluar dari mansion lagi. Ingat Deu, kamu sedang hamil besar." Keano mengancam sekaligus khawatir, jika Dea nanti akan jadi bekerja saat ia pergi nanti.

__ADS_1


"Ya ampun posesifnya suamiku. Bolehkah aku bekerja merindukanmu? Jika rindu adalah pekerjaan, maka saat kamu mulai pergi jauh dariku, aku tidak akan menjadi pengangguran lagi. Karena aku akan sangat sibuk merindukanmu, bahkan mungkin, akan sering lembur" mendengar jawaban Dea yang terdengar sedang menggombali dirinya. Keano jadi bertambah gemas dan tidak ingin meninggalkan istrinya. Dea yang biasanya suka bercanda, tidak pernah berbicara dengan serius selalu menanggapi sesuatu dengan candaan di dalamnya dengan guyonan. Sekarang memberi gombalan pada Keano dengan wajah yang serius.


"Kamu sekarang jadi pintar buat kata-kata gombal ya?" Puji Keano, Keano senang Dea menjadi bucin padanya. Itu artinya, keduanya saling bucin dan memiliki pasangan yang saling jadi bucin itu seru.


"Gak, aku nyuri kata-kata itu dari sosmed. Mana bisa aku buat kata-kata seperti itu" krik-krik, ekpresi Keano yang awalnya senyum-senyum sendiri karena sangking senangnya di gombali Dea. Menjadi datar tak berekpresi.


Mengapa Dea terlalu jujur? Kenapa tidak berusaha berbohong untuk membuat Keano senang.


🌻🌻🌻


Keano sudah bersiap, semua kebutuhan yang di perlukan sudah masuk ke dalam koper semua. Keano nanti akan berangkat bersama asistennya menggunakan pesawat pribadinya. Keano tidak berangkat bersama sekretaris Ken, karena Ken di tugaskan untuk mengurus perusahaan yang ada di Indonesia oleh Keano.


Sebelum berangkat, Keano berbincang dengan calon anaknya. Cukup lama Keano berbincang dengan anaknya, tapi Keano tak pernah bosan.


"Iya Bapak Ano, kami bakal jaga Mommy cantik kok. Bapak Ano juga jaga hati serta jaga diri ya. Jangan lupa janjinya, untuk menemani Mommy saat lahiran nanti!" Dea berbicara menirukan suara anak kecil pada umumnya, cuma dengan nada yang melengking. Keano yang tadinya berjongkok sambil mengelus perut Dea. Berdiri, beralih berbicara dengan induk dari anak-anaknya.


"Aku sudah berjanji akan pulang sebelum kamu melahirkan, maka janji itu akan terpenuhi. Jadi berhenti berpikir yang tidak-tidak, oke" Keano menyakinkan Dea, jika Keano akan baik-baik saja. Dan agar Dea tidak terlalu banyak berpikir tentang dirinya. Itu tidak baik bagi kesehatan mentalnya.


Cukup lama Keano dan Dea berbincang-bincang, sampai lupa waktu. Jika Keano harus segera berangkat, karena keasyikan berbicara sampai lupa.


Tiba-tiba pintu kamarnya ada seseorang yang mengetuk. Keano membukakan pintu dengan sangat amat terpaksa, saat ada suara ketukan. Momen indahnya bersama Dea harus jeda iklan, karena ada suara yang tidak di undang menggema di kamarnya.


"Kenapa kamu datang kamari haa! Kamu tahu, kamu sudah mengganggu kegiatan saya bersama dengan istri saya! Kamu sudah bosan hidup damai di bumi ini, haa!" Sentak Keano saat membuka pintu kamar dan melihat asistennya lah yang mengetuk pintunya tadi.

__ADS_1


Asistennya Keano berdiri gemetar, serba salah jadinya. Asistennya itu berniat untuk memanggil Keano agar segera berangkat karena waktu sudah tiba. Tapi saat di panggil reaksinya malah marah seperti itu, coba kalau tidak di panggil, bakalan marah juga.


"Anu tuan, pesawatnya sudah siap. Saya kemari untuk memanggil dan menjemput tuan muda Keano" jawab asisten Nando yang ketakutan, takut Keano akan memecatnya nanti. Di pecat saja masih mending, kalau di pecat dan di buat tidak tenang hidupnya?


"Kenapa tidak nanti saja saat saya sudah selesai berbicara dengan istri saya!" Asisten Nando mana tahu, kalau Keano sedang berbicara dengan istrinya.


"Maaf tuan, saya tidak tahu kalau anda sedang berbicara dengan nona Dea" Keano yang telah menyuruh asisten Nando untuk berangkat tepat waktu. Maka dari itu asisten Nando memanggil Keano. Tapi ia malah di marahi, seakan dirinya yang bersalah. Memang bos selalu benar apapun masalahnya.


"Jadi saya harus lapor pada kamu saat saya sedang bersama istri saya, begitu?!" Asisten Nando tambah ketakutan karena masalahnya yang merembet kemana-mana. Dea langsung mendatangi Keano karena mendengar ada keributan.


Dea memberi pencerahan pada Keano agar tidak memarahi asistennya lagi, yang sama sekali tidak bersalah. Keano hanya terbawa emosi sebab waktunya yang terbatas bersama Dea harus terpotong karena kedatangan Nando.


Keano akhirnya berangkat setelah perdebatannya berakhir, Keano berpamitan pada Dea dan tidak lupa berpamitan juga pada calon anaknya.


Sebelum berangkat Keano mengumpulkan semua ART serta semua ajudannya yang sudah tak terhitung jumlahnya, "Dengar baik-baik perintah saya, jaga dengan benar istri saya, jangan biarkan istri saya kecapekan apalagi sampai pingsan. Jika terjadi sesuatu pada istri saya, kalian semua yang akan menerima hukumannya. Mengerti!"


"Mengerti tuan." Semua pelayan dan ajudan menjawab sambil menunduk, tidak berani menatap wajah Keano.


Sekarang Keano bisa pergi dengan tenang karena istrinya sudah ia titipkan pada semua orangnya. Keano yakin, semua orangnya akan menjaga Dea dengan baik karena Keano mengancam masa depan mereka tidak akan berjalan mulus jika terjadi sesuatu pada Dea.


Bersambung...


.

__ADS_1


__ADS_2