Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
64. JALAN-JALAN


__ADS_3

Kau datang dengan tiba-tiba


Memaksa hati untuk mencinta


Setelah itu kau beri luka


Dan pergi begitu saja


🍃🍃🍃🍃🍃


Dea ikut membujuk Keano karena melihat sahabatnya yang sudah kehabisan nyali, berbicara pada Keano. Dea terus membujuk Keano, Keano setuju dengan syarat harus ada pengawal yang mengawalnya.


"Aku tidak perlu pengawal Sayang, memangnya siapa yang mau ngejahatin aku. Lagian aku juga bisa jaga diri, aku kan mantan preman dulunya" saat SMA Dea sering membela murid yang di bully oleh sesama temannya. Dea memang kecil tapi sangat pandai bersilat lidah dan bela diri, buktinya Keano pernah ia hajar waktu pertama kali pertemu. Walau ia harus menonjok atau hanya sekedar adu mulut saja, untuk membela murid yang ia bela. Membuatnya sering masuk ruang BK karena ulahnya, Dea sama sekali tak kapok melakukannya. Padahal Dena berulang kali menasehati, memarahi bahkan menjewer telinga Dea agar tak membuat masalah lagi. Semua Dea anggap angin lalu dan terus ia ulangi.


"Hahh kecil dan cungkring sepertimu mantan preman? Hahaha..." Keano tak percaya dengan semua omong besar Dea.


Dea yang mendengar tawa hinaan Keano, kesal. Mentang-mentang dia kecil jadi di anggap lemah, begitu? Dea memanggil salah satu bodyguard Keano untuk menunjukkan sesuatu pada suaminya.


"Hei kau pria yang ototnya besar seperti Sumo, kemari!" Bodyguard itu mendekat ke arah Dea dengan pandangan menunduk. Sekarang Dea merasa benar seperti kurcaci karena beradapan dengan Bodyguard Keano yang besar seperti genderuwo berwujud kingkong.


Waktu kecil emaknya ngidam pengen ketemu genderuwo atau kingkong ya? Besar sekali. Batinnya sambil memikir berapa kira-kira perbandingan tubuhnya dengan tubuh pria di hadapannya.


"Kamu serang aku!" Ucapnya yang memasang kuda-kuda bersiap untuk melawan. Tapi Bodyguard itu hanya diam bak patung. Bagaimana mungkin Bodyguard itu berani menyerang Dea, sudah bosan hidupkah? Atau ingin mati perlahan dengan cara yang mengenaskan?


"Baiklah kalo kamu tidak mau menyerangku. Aku yang akan menyerangmu. Jangan mengadukanku pada ibumu ya, jika nanti kamu masuk rumah sakit." Dea menonjok sekuat tenaga perut Bodyguard, tapi Bodyguard Keano diam dan tak bergerak sama sekali. Seakan semua pukulan Dea hanyalah sebuah elusan, bukanya terasa sakit malah terasa nyaman. Setelah nyaman, baru deh tinggalin wkwk.

__ADS_1


Justru tangan Dea yang terasa sakit karena memukul pria gagah di hadapannya.


Wahh kalo begini bisa jatuh harga diriku. Batinnya saat melihat lawannya tak kesakitan setelah ia pukul.


Keano menahan tawanya melihat Dea yang sok berani tapi tidak ada hasilnya. Keano tahu semua tentang Dea, termasuk Dea yang sering berkelahi waktu sekolah. Keano berpura-pura tidak tahu karena tidak ingin Dea mengetahui jika dirinya mencari semua informasi tentangnya sampai pelosok.


Dea memang pandai bela diri dan sering menang juga tapi jika lawannya seukuran dengannya atau lebih besar sedikit darinya. Bukan seperti Bodyguard Keano.


"Hei pura-pura sakitlah. Pegang perut bekas pukulanku, nanti aku akan menraktirmu bakso semangkuk" bisik Dea. Ia berusaha menyogok dan mengiming-imingi Bodyguard Keano dengan semangkuk bakso agar Bodyguard Keano bersedia bekerja sama dengannya. Tapi Bodyguard itu tetap tidak bergerak. Karena semua orang bawahan Keano sangat patuh dan setia pada Keano, walau ada orang yang membayarnya lebih tinggi dari Keano, mereka akan tetap setia. Apalagi Dea yang hanya memberi semangkuk bakso yang harganya sepuluh rebu.


"Hei jangan bisik-bisik dengannya!" Keano datang di tengah-tengah Dea dan pengawalnya.


"Pergi!" Perintahnya pada Pengawalnya. Pengawal itu kembali ke asal muasalnya.


Dea akhirnya setuju, mendinglah bersama Reno bisa ia akalin dan di ajak bergurau daripada pengawalnya Keano yang hanya bicara seperlunya saja.


Dea dan Ida menunggu Reno yang dalam perjalanan menuju mansion untuk menjemputnya. Reno sudah berangkat kuliah tapi karena Keano menelpon dan menyuruhnya untuk menjaga Dea, amhirnya Reno pulang. Untung saja dosennya sedang tidak berangkatr jadi Reno tak perlu membolos.


"De, Bos Keano posesif banget sama kamu. Keluar aja sampe harus pake pengawal kaya Presiden aja. Lebay!" Ucapnya yang sewot juga sebel, karena Keano tadi ingin memecatnya dan Ida menaruh dendam atas semua perlakuan Bosnya.


"Bukan lebay tapi karena Presiden orang penting dan berharga. Berarti jika Bos Keano memberi pengawal padaku itu artinya aku orang yang berharga dan penting dalam hidupnya. Emangnya kamu butiram debu!" balas Dea percaya diri. Ia tidak terima sahabatnya mengatai suaminya, meski Dea juga tidak terlalu suka dengan sifat posesif Keano.


"Hilihh suami istri sama-sama lebai." Dea tidak menggubris cercaan sahabatnya.


Setelah meunuggu kedatangan Reno sekitar tiga puluh menit, "Kak, ayo kita pergi! Pengawal VVIP sudah datang khusus untukmu" Reno berteriak saat mulai memasuki pintu mansion. Dengan semangat Dea langsung berdiri saat mendengar suara adik iparnya.

__ADS_1


"Woyy bangun jadi pergi tidak!" Teriak Dea yang membangunkan Ida persis di telinganya.


"Woy santai dong anak set-- tampaaan..." Ida yang awalnya ingin mengatai Dea, tidak jadi. Saat melihat Reno berada di hadapannya. Ida mendekat ke arah Reno dan menatap wajahnya dari jarak dekat. Meneliti secara detail wajah tanpan Reno.


Dea heran tak biasanya sahabatnya aneh seperti ini. Memang Ida terkenal playgirl, tapi playgirl berkualitas. Ida tidak akan mendekati pria kecuali jika pria itu menggodanya atau tergila-gila terlebih dulu padanya.


"Kamu kenal dengan Reno?" Tanya Dea.


"Kenal banget. Dia adalah pria yang akan menjadi suami dunia akhiratku" Dea ngeri mendengar jawaban lebai sahabatnya.


"Kamu kenal dengan Ida, Ren?"


"Tidak kak. Aku baru pertama kali bertemu dengannya" tolak Reno tegas. Mana mungkin ia mengakui jika kenal dengan gadis aneh seperti Ida di hadapan Dea.


"Ehh akang ganteng udah lupa ya? Aku wanita cantik yang kamu tabrak waktu di Kafe Kenangan Mantan itu. Yang pernah megang tangan gagah akang, yang minta nomor akang tapi gak akang kasih. Sekarang minta nomornya dong, biar kita bisa calling-callingan setiap saat dimanapun dan kapanpun" Reno tak merespon Ida. Ia melewati Ida dan menemui Dea.


"Ayo kak, kita pergi sekarang" ajak Reno pada Dea. Reno menggandeng tangan Dea, membawanya pergi meninggalkan Ida sendirian. Ida yang melihat dirinya di tinggal, berjalan cepat untuk mengejar Dea agar ia bisa berjalan berdampingan dengan Reno. Pujaan hatinya.


Telepon Dea berbunyi saat Reno sudah sampai di dekat mobil dan hendak membukakan pintu untuk Dea, "Ya Sayang" jawab Dea, ternyata Paduka Raja yang menelpon Dea.


"Pulang tepat waktu, jangan menebar pesona jelekmu itu dan jangan bergandengan tangan dengan pria lain. Hanya aku yang berhak atas seluruh tubuhmu!" Dea langsung melepas genggaman tangan Reno setelah mendengar suara nyaring Keano dari ponselnya.


"Baik Sayang, aku akan ingat semua pesanmu. Sampai ketemu nanti. Dadah" Dea mengakhiri pembicaraannya dengan Keano.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2