Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
93. SELESAI


__ADS_3

"Apa syarat keduanya, sayangku, cintaku, hidupku, belahan jiwaku" puji Keano, Dea bagai terbang di atas angin, senyum sendiri layaknya orang tak waras saat Keano mengatakan pujian untuknya.


"Tapi boong" bisik Keano tepat di telinga Dea. Lantas tanpa merasa berdosa, Keano tertawa. Tawanya hanya bertahan sebentar, saat istrinya mulai pergi meninggalkannya dengan emosi yang memenuhi kepala.


"Sayang, tadi bukan aku yang bicara, tanpa sadar hantu merasukiku dan berbisik mengatakan hal itu, mungkin mbak kutil yang merasukiku karena aku tadi mengambil makanan miliknya. Maaf..." sungguh, karangan Keano berhasil membuat Dea percaya akan kebohongannya. Keano hanya ingin sedikit mengerjai istrinya, membuat dirinya sendiri tertawa dengan guyonan seperti yang Dea lakukan dulu padanya.


"Kalau begitu kita langsung ke kamar saja, bulu kuduk ku sudah mulai PBB nih Sayang" Keano tersenyum licik, tak mengira cerita karangannya menyelamatkannya.


Di kamar, Dea menyuruh Keano duduk di sofa. "Deu, kamu mau kita berhubungan di atas sofa? Nanti kamu kesempitan dan tidak bisa banyak gerak. Lebih enak di atas ranjang empuk dan luas"


"Bukan Sayang, sebelum kita berhubungan kamu harus memenuhi syarat kedua kan? Dan syarat keduanya adalah kamu harus menemaniku nonton drakor sampai selesai" ucap Dea dengan cengengesan, Dea tahu Keano paling tidak suka menonton drama. Apalagi drama tersebut pemainnya tampan dan sangat di idolakan oleh Dea.


Keano membuang nafas kasar, Keano harus siap-siap mendengar pujian keluar dari bibir Dea tapi bukan untuk dirinya, melainkan untuk pria lain. Meski itu hanya sebuah pujian fans kepada idolanya, tetap saja yang namanya seorang suami pasti tidak suka bukan jika istrinya memuji pria lain dihadapannya. Bagi Keano menonton drama Korea itu membosankan, penuh drama dan hanya khayalan semata yang ceritanya tak pernah terjadi di dunia nyata. Dan sekarang  drakor menjadi musuh terbesar bagi Keano sekarang ini.


"Tapi Sayang, nanti anak-anak keburu pulang dan aku akan gagal lagi mendapatkan sumber energi darimu. Nanti saja ya setelah kita selesai bermain"


"Aku akan menelpon Reno agar mengajak anak-anak bermain di taman atau ke mall, biar kita bisa nonton drakor dulu dan kita juga bisa bermain bersama setelahnya, ya ya" pinta Dea dengan wajah melasnya memohon agar Keano mengabulkan keinginannya. Keano yang tidak pernah tega melihat wajah sedih istrinya pun, harus menuruti kemauannya.


Keano mengangguk berat. Dea yang mendapat izin dari suaminya , gembira bukan main. Dea mencium pipi Keano karena terlalu bahagia, Keano yang suasana hatinya mendung langsung berganti pelangi indah, wajahnya terukir senyum kebahagiaan. "Bibirnya belum Deu" Keano menunjuk bibirnya berharap Dea beralih mencium bibirnya.


"Tidak, nanti tidak jadi nonton dramanya lagi"

__ADS_1


Dea menelpon Reno, memintanya untuk mengajak si kembar jalan-jalan lebih lama lagi. Reno yang awalnya ingin menolak karena sudah capek mengurus si kembar yang terus saja bertengkar, apalagi Ana yang selalu mengeluarkan tangis cemprengnya bila kalah beradu dengan Ano dan permintaannya tidak dituruti.


"Mereka bersenang-senang di kamar berdua sedangkan aku yang harus mengurus anak mereka. Ya Tuhan kapan hamba melepas masa jomblo hamba?!" Reno berteriak setelah mematikan panggilannya bersama Dea. Tanpa sadar Reno berteriak merutuki nasib jomblonya, sampai menjadi perhatian pembeli yang lain.


"Ehh Ono, pakde dila ya?" Bisik Ana sambil berjalan mundur karena tidak ingin malu sebab mengenal Reno.


"Tidak tahu, mungkin saja om Reno kesurupan" balas Ano yang juga ikut ngeri sekaligus malu dekat-dekat dengan Reno.


"Ehh tuyul dua, ngapain kalian menjauh dari om?! Sini di sebelah om, nanti kalian hilang, om yang disalahkan" Reno melambaikan tangan memanggil si kembar, tapi si kembar kompak pura-pura tak mendengar Reno bahkan melirik pun tidak.


🌻🌻🌻


"Iya cantik dan imut tapi masih lebih cantik dan imut istriku. Pemain wanita itu tidak sebanding cantik dan imut kalau disandingkan dengan istriku"  Dea tersipu malu mendengar pujian yang terlontar dari mulut Keano. Tapi Dea menutupinya dengan cara menyangkalnya.


"Apaan sih, lebai banget mujinya pasti ujung-ujungnya biar dikasih jatah!" Keano tak mengerti lagi dengan sikap Dea, dipuji marah tidak dipuji lebih marah. Keano akhirnya diam lagi, kembali menatap atap langit kamar.


Hening tercipta tak ada pembicaraan di antara sepasang suami istri tersebut, hanya suara tv. Keduanya sibuk dengan dunianya sendiri, Dea sibuk menonton Lee Min Ho sedangkan Keano sibuk menatap atap menunggu dengan jengah kapan dramanya selesai. "Ya ampun, Lee Min Ho tampan sekali kalau rambutnya panjang seperti itu" Dea mengagumi aktor Korea, Keano yang mendengarnya langsung memastikan setampan apakah pria itu.


"Rambut acak-acakan seperti itu kamu dibilang tampan? Yang benar saja Deu, sepertinya besok aku harus memeriksakan matamu."


"Itu tampan Sayang, lihat itu aura ketampanannya bertambah tuju kali lipat. Sayang rambutmu tidak usah dipotong ya, biarkan panjang seperti miliknya Lee. Aku yakin tingkat ketampananmu akan bertambah seratus kali lip..."

__ADS_1


"Tidak! Yang ada seperti orang gila Deu, lagipula rambutku yang seperti ini saja aku sudah terlihat sangat tampan. Kenapa mesti dipanjangkan seperti itu" kepedean Keano muncul, membanggakan serta memuji dirinya sendiri. Dea yang mendengar kenarsisan suaminya melengos dan kembali menatap tv. "Jelek!" Ketusnya.


Waktu terus berjalan, drama yang Dea tonton selesai perlahan. Dan sekarang waktunya Keano bermain berdua dengan Dea, bermain yang akan selalu membuatnya merasa ketagihan dan tak akan pernah bosan. Meski dilakukan berulang-ulang. "Deu kamu sudah siap?"


"Sayang, kata orang kalo orang hamil sering lihat orang tampan dan cantik anaknya akan mirip dengan orang tersebut"


"Ya terus?" Tanya Keano malas karena Dea bukannya menjawab pertanyaannya, malah membicarakan hal lain.


"Aku ingin saat hamil lagi nanti, nonton dramanya Lee setiap hari biar anak kita kalo lahir gantengnya kaya Lee" Keano yang mendengar tentu emosi, tapi sebisa mungkin Keano menahannya. Tak ingin memarahi atau menyakiti orang yang ia cintai. Keano hanya memberi penjelasan lembut pada istrinya.


"Ya tidak bisa dong Deu, aku yang bersusah payah membuat dan berusaha, masa pas lahir mirip oran lain. Aku juga tidak kalah tampan dari aktor idolamu, bagaimana kalau kamu lihat aku saja biar nanti anak kita lahirnya seratus persen mirip aku. Mulai dari rupa yang menawan, kekayaan dan keberaniannya, hemm?" Keano memberi penjelasan sekaligus pencitraan. Keano berkedip genit sambil tersenyum sok manis pada Dea, Dea menatap Keano, ia tertawa melihat ekspresi Keano. Dan Dea akui suaminya memang tak kalah tampan dari aktor idolanya.


"Sekarang yuk" ajak Dea. Keano dengan penuh semangat menerima ajakan istrinya. Keano melepas terlebih dulu pakaiannya, berlanjut melepas pakaian Dea, membuka satu persatu kancing baju Dea.


"Ommy!" Pintu kamar terbuka bersama dengan suara cempreng mengikuti, sontak membuat Dea dan Keano kaget. Dengan sigap Dea kembali mengancingkan bajunya yang sudah Keano lepas. Sangking senangnya akan mendapat jatah, Keano sampai lupa mengunci kamar, lagipula tidak ada yang berani masuk nyelonong ke kamar Keano, kecuali Ana. Dan Ana sedang pergi, jadi tak ada lagi gangguan, pikir Keano.


"Ommy, Ana tadi yihat orang giya dijayan tidak pate baju." Ana langsung berlari dipangkuan Dea dan bercerita tentang apa yang Ana lihat. Setelah bercerita Ana melirik Keano. "Papa mau jadi olang giya juga?" Tanya Ana karena melihat Keano tak memakai baju hanya celana kolor yang menghiasi tubuh papanya. Keano tidak menjawab pertanyaan Ana, Keano memasang wajah lesu, melas tak semangat, Keano berjalan keluar meninggalkan ibu dan anaknya.


Ya Tuhan, apa Ana benar anakku? 


Selesai...

__ADS_1


__ADS_2